Headline

Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.

Saham Sektor SDA Melemah di Tengah Pencabutan Izin PBPH 28 Perusahaan

 Gana Buana
21/1/2026 18:17
Saham Sektor SDA Melemah di Tengah Pencabutan Izin PBPH 28 Perusahaan
Saham sektor SDA alami tekanan jual signifikan pada perdagangan Rabu (21/1).(Dok. Antara)

TEKANAN jual masih mendominasi pergerakan pasar saham domestik. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat melemah signifikan pada perdagangan Rabu (21/1), seiring memburuknya sentimen global dan domestik.

Head of Research PT Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi menilai, pelemahan IHSG hari ini, dipicu oleh tekanan pada saham-saham berkapitalisasi besar (Big Cap), khususnya yang berbasis sektor Sumber Daya Alam (SDA). Tekanan tersebut muncul setelah pemerintah mencabut izin Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH) terhadap 28 perusahaan.

Menurut Wafi, isu pencabutan izin tersebut menjadi katalis negatif yang langsung membebani saham-saham big caps sektor SDA, sehingga memperdalam koreksi indeks. Kondisi ini diperparah oleh sentimen eksternal yang masih diliputi ketidakpastian geopolitik.

“Tekanan datang dari kombinasi sentimen global dan domestik, terutama dari saham berkapitalisasi besar berbasis SDA yang terimbas isu pencabutan izin,” ujar Wafi dilansir dari Antara, Rabu (21/1).

Ia menambahkan, meningkatnya ketidakpastian mendorong investor global bersikap defensif dengan mengalihkan dana ke aset aman seperti emas dan dolar Amerika Serikat. Perpindahan dana tersebut memicu arus modal asing keluar dari pasar saham Indonesia, sehingga semakin menekan pergerakan IHSG.

Dari sisi global, ketegangan geopolitik, termasuk isu terkait Greenland yang melibatkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan negara-negara NATO serta Eropa, turut memperburuk sentimen pasar. Dampaknya lebih terasa pada aspek psikologis investor dan arus modal global.

“Kondisi global membuat investor menarik dana dari emerging market dan kembali ke Amerika Serikat, yang turut memberi tekanan pada nilai tukar rupiah,” jelasnya.

Dengan kombinasi sentimen negatif tersebut, Wafi memproyeksikan IHSG masih berpotensi bergerak tertekan dan menguji area psikologis di level 9.000 dalam jangka pendek. Meski demikian, tekanan tersebut lebih bersifat sementara.

Pada perdagangan sesi II Bursa Efek Indonesia, Rabu (21/1) pukul 15.10 WIB, IHSG tercatat turun 143,52 poin atau 1,57% ke level 8.991,18.

Aktivitas perdagangan mencatatkan frekuensi sebanyak 3.493.813 transaksi, dengan volume 52,25 miliar saham dan nilai transaksi mencapai Rp28,28 triliun. Sebanyak 584 saham mengalami penurunan, sementara hanya 154 saham menguat dan 63 saham bergerak stagnan.

Secara sektoral, hampir seluruh indeks sektoral IDX-IC berada di zona merah. Pelemahan terdalam terjadi pada sektor industri yang turun 6,50%, disusul sektor properti serta sektor transportasi dan logistik yang masing-masing terkoreksi 3,69% dan 2,87%. (Ant/Z-10)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Gana Buana
Berita Lainnya