Headline
“Damai bukan sekadar absennya perang. Ia adalah kebajikan,” tulis filsuf Baruch Spinoza.
“Damai bukan sekadar absennya perang. Ia adalah kebajikan,” tulis filsuf Baruch Spinoza.
Kumpulan Berita DPR RI
Pemerintah terus mengeklaim bahwa Indonesia telah mencapai swasembada beras. Namun, disaat yang sama, harga beras di tingkat konsumen masih tinggi. Kondisi ini menunjukkan bahwa keberhasilan swasembada dari sisi produksi belum sepenuhnya menjawab persoalan keterjangkauan harga pangan pokok masyarakat.
Peneliti Center of Reform on Economics (CoRE), Eliza Mardian menyatakan, secara teknis Indonesia masih berada dalam kondisi swasembada karena sebagian besar kebutuhan beras nasional dipenuhi dari produksi dalam negeri. Ia menjelaskan, pada era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, impor beras dihentikan dan peran Bulog dioptimalkan untuk menyerap gabah serta beras dari petani dalam negeri.
“Di era Pak Prabowo sekarang, pertama impor sudah disetop, karena Bulog optimal menyerap gabah dan beras dari petani dalam negeri,” katanya saat dihubungi, Rabu (7/1).
Menurut Eliza, sebelum kebijakan harga gabah kering panen (GKP) Rp6.500 per kilogram dan program Bulog jemput bola diterapkan, cadangan beras pemerintah justru sangat bergantung pada impor.
“Nah selama ini, sebelum Pak Prabowo ada kebijakan GKP Rp6.500 dan kebijakan Bulog jemput bola ke petani-petani, beli gabah langsung ke petani, itu biasanya cadangan dari pemerintah itu dari import 80%. Sekarang sekarang karena ada kebijakan Pak Prabowo itu makanya (penyerapan) Bulog ini penuh semua dari dalam negeri,” ujarnya.
Meski demikian, Eliza menegaskan bahwa capaian swasembada dari sisi produksi tidak serta-merta menyelesaikan persoalan harga beras yang mahal di pasaran.
“Kalau kita melihat hanya keberhasilan dari swasembada itu adalah produksinya memang surplus, namun dari sisi harga beras itu sendiri mahal, itu kan sebetulnya persoalan yang berbeda lagi,” katanya.
Ia menyebut, salah satu pemicu utama kenaikan harga beras adalah kebijakan penyesuaian harga GKP menjadi Rp6.500 per kilogram.
“Kalau dalam hal harga beras naik, pertama karena ada kebijakan penyesuaian harga GKP jadi Rp6.500 per kilogram, itu kan otomatis akan meningkatkan harga bahan baku penggilingan-penggilingan beras,” ujar Eliza.
Menurutnya, kenaikan harga gabah secara otomatis berdampak pada harga jual beras di tingkat konsumen karena pelaku usaha penggilingan dan rantai distribusi tetap mempertahankan margin keuntungan.
“Karena tidak mungkin ketika harga gabahnya naik, harga berasnya tidak naik juga, ini kan para penggiling dan orang-orang yang ada di middleman ini kan mereka juga ingin profit, ingin margin,” katanya.
Lebih lanjut, Eliza menilai persoalan harga beras juga berkaitan erat dengan tingginya biaya produksi padi di Indonesia yang saat ini belum efisien jika dibandingkan dengan negara tetangga seperti Vietnam. Ia memaparkan, hampir separuh biaya produksi padi terserap untuk tenaga kerja, disusul biaya sewa lahan sekitar 25%. Kondisi ini diperparah dengan minimnya penerapan inovasi dan teknologi pertanian.
Maka dari itu, Eliza memandang bahwa solusi paling tepat untuk menekan harga beras tanpa mengorbankan kesejahteraan petani adalah peningkatan produktivitas melalui inovasi, mekanisasi, dan perbaikan infrastruktur pertanian.
“Jadi memang kuncinya di inovasi, karena penerapan teknologi ini akan meningkatkan produksi kita dan lebih efisien,” katanya.
Selain itu, dirinya juga menegaskan bahwa swasembada pangan seharusnya dimaknai secara lebih luas, tidak hanya mengejar surplus produksi, tetapi juga memastikan harga beras terjangkau dan berkelanjutan.
“Jadi swasembada pangan ini tidak hanya mengejar kuantitas produksi, tapi juga kualitas dari produksi itu sendiri. Kualitasnya dalam bentuk harga berasnya terjangkau oleh masyarakat, petaninya sejahtera, dan juga swasembada itu berkelanjutan,” pungkas Eliza (E-3)
Beras medium SPHP seharga Rp57.500 kemsan 5 kg, beraskita premium Rp74.000 kemasan 5 kg, minyakkita Rp31 ribu kemasan 2 liter.
Beras SPHP dijual Rp58 ribu per kemasan 5 kilogram. kemudian gula pasir Rp15 ribu per kilogram, minyakkita 2 liter Rp25 ribu, telur ayam 10 butir 10 ribu rupiah atau 1.000 per butir.
Cabai rawit saat ini mencapai Rp100 ribu per kilogram, dari sebelumnya hanya Rp60 ribu per kilogram, atau naik sekitar 25 persen.
Salah satu produk yang paling diminati adalah daging sapi yang dijual dengan harga Rp100 ribu per kg jauh lebih murah dibanding harga pasar.
Komoditas seperti bawang merah dan bawang putih tercatat naik di kisaran 5 hingga 10 persen, harga cabai merah dan cabai besar juga naik.
Beras kemasan yang sebelumnya dijual sekitar Rp14.000 hingga Rp15.000 per kg kini mencapai Rp16.000 hingga Rp17.000 per kg.
Presiden Prabowo Subianto menegaskan target swasembada pangan. Cadangan beras nasional di Perum Bulog mencapai 4,2 juta ton, tertinggi sepanjang sejarah.
Setelah berhasil mengamankan stok beras, Zulhas menyatakan fokus pemerintah pada tahun 2026 adalah menyejahterakan nelayan.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman melakukan inspeksi mendadak (sidak) di kawasan Bea Cukai Tanjung Balai Karimun, Kepulauan Riau.
Keberhasilan ini didorong oleh kebijakan strategis seperti pembentukan Satuan Tugas Swasembda Pangan melalui Keputusan Menteri Pertanian Nomor 73 Tahun 2025
Adapun total bantuan yang telah disalurkan mencapai sekitar 353,5 ribu ton beras dan 70,7 juta liter minyak goreng.
MEMASUKI 2026 pemerintahan Kabinet Merah Putih terlihat sedang euforia merayakan pencapaian swasembada beras 2025.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved