Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
PENERIMAAN negara dari sektor kepabeanan dan cukai hingga akhir Oktober 2025 tercatat sebesar Rp249,3 triliun, atau 80,3% dari target outlook laporan semester. Kinerja tersebut meningkat 7,6% secara tahunan (yoy), didorong oleh naiknya penerimaan bea keluar dan cukai.
Wakil Menteri Keuangan, Suahasil Nazara, dalam Konferensi Pers APBN KiTa Edisi November 2025 yang digelar pada Kamis (20/11) mengungkapkan bahwa penerimaan dari sektor kepabeanan dan cukai hingga akhir Oktober 2025 terdiri dari cukai sebesar Rp184,2 triliun, bea keluar sebesar Rp24,0 triliun, dan bea masuk sebesar Rp41,0 triliun.
Penerimaan cukai tumbuh sebesar 5,7% (yoy) dengan produksi cukai hasil tembakau sebesar 258,4 miliar batang. Sementara itu, penerimaan bea keluar tumbuh sebesar 69,2% (yoy) yang didorong oleh kenaikan harga CPO dan volume ekspor sawit, serta kebijakan ekspor konsentrat tembaga pada Maret hingga September, sedangkan penerimaan bea masuk mengalami kontraksi sebesar 4,9% (yoy) karena dipengaruhi penurunan bea masuk dari komoditas pangan dan utilisasi Free Trade Agreement (FTA).
Wamenkeu Suahasil juga menginformasikan kinerja penindakan untuk pemberantasan rokok ilegal menunjukkan kinerja positif. Penindakan rokok ilegal hingga akhir Oktober mencapai 15.845 penindakan dengan jumlah hasil penindakan mencapai 954 juta batang rokok ilegal atau tumbuh sebesar 40,9% (yoy). Penindakan didominasi oleh rokok berjenis sigaret kretek mesin (SKM) sebanyak 73,8% dan sigaret putih mesin (SPM) sebanyak 20,8%.
Wamenkeu Suahasil menegaskan bahwa kinerja penindakan ini akan terus diperkuat bersama dengan instansi terkait lainnya. “Kita akan memperkuat penindakan rokok ilegal ini dilakukan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (Bea Cukai) bekerja sama dengan seluruh aparat penegak hukum yang lain,” ujarnya.
Penerimaan negara dari sektor kepabeanan dan cukai turut berkontribusi mendukung kinerja anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) yang ditujukan bagi kebermanfaatan dan peningkatan kinerja masyarakat. APBN dialokasikan untuk belanja kesehatan, pendidikan, dan perlindungan sosial, yang dapat langsung dimanfaatkan oleh warga negara Indonesia.
Capaian penerimaan dan penindakan dari sektor kepabeanan dan cukai ini tak terlepas dari peran serta instansi terkait dalam mendukung kinerja Bea Cukai. Oleh karena itu, apresiasi setinggi-tingginya untuk instansi atau aparat penegak hukum lainnya yang turut mendukung kinerja Bea Cukai. (Z-2)
Bea Cukai tidak menetapkan tenggat waktu khusus bagi perusahaan importir untuk melakukan re-ekspor, selama pihak perusahaan menunjukkan itikad baik dan kooperatif.
Selama ini, sertifikasi AEO di Indonesia lebih banyak dimiliki oleh perusahaan manufaktur, sementara di sektor logistik jumlahnya masih terbatas.
DIREKTORAT Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mengungkapkan telah melakukan pembenahan secara menyeluruh.
Bea Cukai Atambua melakukan penindakan terhadap peredaran barang kena cukai (BKC) berupa hasil tembakau/rokok ilegal sebanyak 11 juta batang.
MENTERI Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengapresiasi Direktorat Jenderal Bea Cukai (DJBC) Kementerian Keuangan yang dianggapnya telah menunjukkan perbaikan kinerja.
Peruri bersama Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) menggelar prosesi Pengiriman Perdana Pita Cukai Desain Tahun 2026 di kawasan produksi Peruri, Karawang, Jawa Barat, Rabu (10/12).
Karena coretax berjalan belum sesuai perencanaan awal. Sehingga hal ini justru menyebabkan penerimaan pajak tersendat.
Kebijakan peningkatan belanja pada 2025 sudah berada di jalur yang tepat. Namun, tantangan besar ke depan adalah memastikan efektivitasnya.
Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bonus atlet SEA Games Thailand senilai Rp480 miliar bersumber dari APBN, bukan uang pribadi Presiden. Peraih emas terima Rp1 miliar.
DEFISIT fiskal Indonesia pada 2025 tercatat melebar melampaui target pemerintah, seiring percepatan belanja negara di penghujung tahun dan lemahnya kinerja penerimaan.
Suahasil menyebut bahwa realisasi PNBP 2025 yang mencapai Rp534,1 triliun masih lebih rendah jika dibandingkan dengan realisasi PNBP 2024 tang mencapai Rp584,4 triliun.
Di tengah upaya pembangunan SDGs, muncul pertanyaan penting mengenai bagaimana sumber daya dapat dimobilisasi untuk menutup kesenjangan pembangunan
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved