Headline
Pemerintah tetapkan 1 Ramadan pada Kamis, 19 Februari 2026.
Kumpulan Berita DPR RI
KEPALA Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef) M. Rizal Taufikurahman menilai ruang fiskal pemerintah kian terbatas seiring meningkatnya posisi utang negara hingga Rp9.637,90 triliun per 31 Desember 2025 atau setara 40,46 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).
Secara rasio, angka tersebut masih berada jauh di bawah ambang batas 60% sehingga belum mencerminkan risiko gagal bayar. Namun, menurut Rizal, persoalan utama bukan lagi pada besar kecilnya stok utang, melainkan pada kemampuan arus kas negara untuk menanggung kewajiban yang terus meningkat.
"Dengan rasio utang itu membuat ruang fiskal makin terbatas," ujar Rizal kepada Media Indonesia, Rabu (18/2).
Ia mengatakan dalam kondisi defisit anggaran yang tetap lebar dan basis penerimaan pajak yang masih sempit, kenaikan utang membuat tekanan terhadap keberlanjutan fiskal semakin kuat. Hal ini terjadi karena pertumbuhan kewajiban berjalan lebih cepat dibandingkan pertumbuhan penerimaan negara.
"Tekanan tersebut paling terlihat dari belanja bunga utang yang kini mendekati Rp500 triliun per tahun," kata Rizal.
Porsi ini, lanjutnya, menyerap bagian signifikan dari pendapatan negara, tetapi tidak memberikan dampak langsung terhadap aktivitas ekonomi. Akibatnya, sebagian ruang dalam anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) tersedot untuk menjaga kredibilitas pembiayaan, bukan untuk belanja layanan publik maupun investasi produktif.
"Kondisi ini juga membuat APBN semakin sensitif terhadap kenaikan suku bunga global," kata Rizal.
Ia menegaskan, belanja wajib dan pembayaran bunga utang kini menjadi komponen yang dominan, sementara belanja pembangunan kerap menjadi variabel penyesuaian dan tidak jarang harus ditopang melalui pembiayaan baru.
Rizal menilai risiko yang dihadapi bukan krisis fiskal dalam jangka pendek, melainkan menurunnya daya dorong APBN terhadap pertumbuhan ekonomi jangka panjang. Karena itu, tantangan kebijakan ke depan adalah memperkuat sisi penerimaan negara serta memastikan utang diarahkan ke sektor-sektor yang mampu meningkatkan produktivitas ekonomi. (H-3)
Pelebaran defisit anggaran dalam revisi RAPBN 2026 berkonsekuensi pada penambahan utang yang signifikan.
Postur APBN tiap tahun terus tertekan karena dibebani utang jatuh tempo dalam jumlah besar.
Proyeksi hingga akhir tahun menunjukkan kebutuhan pembiayaan melalui utang mencapai Rp245 triliun–300 triliun, sehingga total utang pemerintah berpotensi menembus Rp9.400 triliun.
Pemerintah mengalokasikan anggaran Rp599.440 miliar untuk pembayaran bunga utang 2026
UTANG pemerintah makin mencemaskan. Pada awal 2025 ini, total utang pemerintah pusat membengkak menjadi Rp8.909,14 triliun. Angka itu setara dengan 40,2% produk domestik bruto (PDB).
EKONOM Bright Institute Awalil Rizky menyoroti keterbukaan informasi keuangan negara. Rilis APBN Kita sepanjang 2025 tidak lagi menyajikan posisi utang pemerintah secara bulanan.
UTANG pemerintah makin mencemaskan. Pada awal 2025 ini, total utang pemerintah pusat membengkak menjadi Rp8.909,14 triliun. Angka itu setara dengan 40,2% produk domestik bruto (PDB).
Kontribusi ratusan korporasi besar terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia hanya sebesar 28%. Lebih rendah dibanding negara tetangga Singapura.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved