Headline

Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa. 

Purbaya: Kebijakan Fiskal Pro-Rakyat agar Wong Cilik Bisa Tertawa

Insi Nantika Jelita
13/2/2026 22:35
Purbaya: Kebijakan Fiskal Pro-Rakyat agar Wong Cilik Bisa Tertawa
MENTERI Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, di Jakarta.(Dok. Antara)

PEMERINTAH melalui Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan komitmennya untuk mengelola ekonomi secara pruden dengan mengusung kebijakan yang pro-pertumbuhan dan pro-rakyat. Tujuan utama kebijakan tersebut  menjaga pertumbuhan ekonomi tetap tinggi, mendorong pemerataan kesejahteraan, serta memastikan stabilitas nasional.

Menurutnya, pemerintah ingin memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak hanya tinggi secara angka, tetapi juga dirasakan langsung oleh masyarakat kecil. 

"Pokoknya kita maunya wong cilik katanya iso gemuyu (orang kecil bisa tertawa)," ujarnya dalam forum Indonesia Economic Outlook 2026 (IEO) di Wisma Danantara, Jakarta, Jumat (13/2).

Ia menjelaskan kerangka kebijakan tersebut membutuhkan sinergi lintas lembaga, terutama melalui koordinasi fiskal dan moneter, termasuk optimalisasi peran berbagai institusi terkait.

Dari sisi fiskal, anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) diposisikan sebagai katalis sekaligus instrumen kontra-siklikal untuk mendorong pertumbuhan melalui penguatan program perlindungan sosial yang tepat sasaran, dukungan bagi dunia usaha, optimalisasi penerimaan negara, serta penerapan disiplin fiskal.

"Jadi, kita sedikit mengorbankan fiskal dalam sisi defisit dari 2,5% sekian ke arah 2,9%. Itu adalah program kontra-siklikal yang kita kerjakan untuk membalik ekonomi dari yang turun, sekarang jadi mulai naik. Tapi, itu kita lakukan tanpa mengorbankan kehatian-kehatian fiskal," ucapnya.

Ia menegaskan bahwa defisit tetap dijaga dalam batas aman. "Defisit masih kita jaga di 3% dari PDB. Dan utangnya juga masih terkendali. Jadi kita juga berhasil membalik arah ekonomi dengan fiskal yang tetap terjaga," klaim Purbaya.

Pemerintah memandang momentum pertumbuhan ekonomi yang kuat pada 2025 akan berlanjut pada 2026. Pada triwulan I 2026, pertumbuhan ekonomi diperkirakan berada di kisaran 5,5% hingga 6%.

"Prediksi kita di triwulan pertama ekonomi kita bisa tumbuh antara 5,5% sampai 6%. Itu seperti angka biasa ya. Tapi ini angka yang luar biasa. Karena kalau ini terjadi, berarti kita sudah keluar dari kutukan pertumbuhan 5%," tegas bendahara negara.

Untuk menjaga momentum tersebut, belanja negara pada kuartal I 2026 ditargetkan mencapai Rp809 triliun. Pemerintah juga mendorong investasi dan konsumsi melalui percepatan program MBG sebesar Rp62 triliun, berbagai belanja kementerian/lembaga, serta paket stimulus.

"Jadi kita keluarkan semua belanja yang mungkin di triwulan pertama untuk memastikan bahwa momentum pertumbuhan ekonomi masih akan berkelanjutan," kata menkeu.

"Kami juga memastikan pengumpulan pajak kami, pendapatan kami lebih baik. Saya sudah melakukan restrukturisasi ditjen pajak dan bea cukai," sambungnya.

Ia menegaskan seluruh kebijakan fiskal diarahkan untuk menjaga momentum pertumbuhan. "Jadi, semua kebijakan fiskal kita tujukan untuk memastikan momentum pertumbuhan yang ada betul-betul terjaga dan saya yakin ini akan terjaga terus ke depan," ucapnya.

Meski target pertumbuhan dalam APBN tahun ini sebesar 5,4%, ia optimistis realisasi dapat didorong mendekati 6%. 

"Cuma orang-orang kan pertumbuhan ekonomi kita di APBN tahun ini berapa? 5.4%. Tapi saya akan coba dorong ke arah 6%."

Ia juga menjelaskan siklus ekonomi Indonesia secara historis terdiri dari periode ekspansi dan resesi. Ekspansi biasanya berlangsung 7–10 tahun, kemudian diikuti resesi sekitar satu tahun sebelum kembali memasuki fase ekspansi.

"Kalau kita lihat di sini, terakhir kita ekspansi dari 2009 sampai 2020. Habis itu resesi, kemudian sekarang ekspansi lagi. Artinya kalau kita betul, kita pintar, sampai 10 tahun, kita bisa ekspansi terus sampai 2033," imbuhnya.

Karena itu, ia meminta publik tidak khawatir terhadap prospek ekonomi jangka menengah.

Selain itu, ia menyebut leading indicator atau indikator yang memberikan sinyal lebih awal sebelum tren ekonomi telah menggambarkan arah ekonomi 6–12 bulan ke depan kini mulai menunjukkan tren positif setelah sempat mengalami penurunan.

"Anda enggak usah takut prospek jangka menengah ekonomi kita. Itu akan terjadi betul. Karena kebijakan kita pas, menterinya pas lah kira-kira ya," pungkasnya.  (H-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri Rosmalia
Berita Lainnya