Headline

DPR minta agar dana tanggap darurat bencana tidak dihambat birokrasi berbelit.

Ekonomi Triwulan I Diproyeksi Meroket, ini Pemicunya

Media Indonesia
19/2/2026 19:27
Ekonomi Triwulan I Diproyeksi Meroket, ini Pemicunya
Pemulung melintas di kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat, Selasa (3/2/2026).(MI/AGUNG WIBOWO)

BANK Indonesia (BI) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan I 2026 akan terus berlanjut di level yang tinggi. Optimisme ini didasari oleh kuatnya konsumsi domestik, stimulus fiskal pemerintah, hingga kebijakan moneter yang tetap akomodatif untuk mendukung pemulihan.

Gubernur BI, Perry Warjiyo, menjelaskan bahwa periode tiga bulan pertama tahun ini memiliki momentum strategis dengan adanya berbagai Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN). Perayaan Tahun Baru Imlek, Hari Suci Nyepi, dan Idul Fitri 1447 H diprediksi menjadi mesin penggerak utama kegiatan ekonomi masyarakat.

Stimulus Pemerintah dan Sektor Riil

Dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI di Jakarta, Kamis (19/2/2026), Perry mengungkapkan bahwa program-program strategis pemerintah mulai memberikan dampak nyata terhadap pertumbuhan. Program seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan pengembangan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) dinilai efektif mendukung kesejahteraan masyarakat sekaligus menggerakkan roda ekonomi di tingkat akar rumput.

“Kami melihat bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia di triwulan I masih akan tetap tinggi,” ujar Perry secara daring.

Selain konsumsi, sektor investasi diprakirakan tumbuh lebih tinggi. Hal ini didorong oleh komitmen Pemerintah dalam melanjutkan hilirisasi Sumber Daya Alam (SDA) serta perbaikan keyakinan pelaku usaha yang terus terjaga.

Capaian Ekonomi 2025 sebagai Landasan

Sebagai informasi, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan IV 2025 tercatat sebesar 5,39 persen (year on year/yoy), meningkat signifikan dibandingkan triwulan sebelumnya yang berada di angka 5,04 persen (yoy). Secara akumulatif, ekonomi Indonesia sepanjang tahun 2025 tumbuh sebesar 5,11 persen (yoy), lebih baik dari capaian tahun 2024 yang sebesar 5,03 persen (yoy).

Statistik Pertumbuhan Ekonomi Indonesia:
  • Triwulan III 2025: 5,04% (yoy)
  • Triwulan IV 2025: 5,39% (yoy)
  • Keseluruhan Tahun 2025: 5,11% (yoy)
  • Target Triwulan I 2026: Diproyeksi Tetap Tinggi

Tantangan Global: Tarif AS dan Geopolitik

Meski kondisi domestik solid, BI tetap mewaspadai tren perlambatan ekonomi global. Pertumbuhan ekonomi dunia pada 2026 diprakirakan melambat menjadi 3,2 persen dari sebelumnya 3,3 persen pada 2025.

Faktor utama yang membayangi ekonomi global adalah kebijakan tarif resiprokal dari Amerika Serikat (AS) serta ketegangan geopolitik yang masih berlanjut. Sementara ekonomi AS diprediksi tetap tumbuh berkat investasi di bidang artificial intelligence (AI), kawasan lain seperti Eropa, Jepang, dan Tiongkok justru menunjukkan tren melambat.

“Ke depan, ketidakpastian perekonomian global diprakirakan tetap tinggi sehingga memerlukan kewaspadaan dan penguatan respons kebijakan untuk menjaga daya tahan ekonomi domestik dari rambatan global serta mendorong pertumbuhan yang lebih tinggi,” tegas Perry.

BI berkomitmen untuk terus bersinergi dengan pemerintah, khususnya Kementerian Keuangan, dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan memastikan ketersediaan likuiditas di pasar keuangan guna mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

1. Mengapa ekonomi Indonesia diprediksi tumbuh tinggi di awal 2026?
Karena ada stimulus fiskal pemerintah (seperti Makan Bergizi Gratis) dan peningkatan konsumsi rumah tangga selama masa HBKN (Imlek, Nyepi, dan Idul Fitri).

2. Bagaimana dampak kondisi global terhadap Indonesia?
Kondisi global cenderung melambat akibat kebijakan tarif AS. Namun Indonesia berupaya memitigasi dampak tersebut melalui penguatan sektor domestik dan stabilitas nilai tukar rupiah. (Ant/I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya