Headline
Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.
Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.
Kumpulan Berita DPR RI
Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menyampaikan pertumbuhan ekonomi kuartal kedua tahun 2025 menjadi sebuah paradoks dari daya beli yang sedang menurun. Analis Kebijakan Ekonomi Apindo Ajib Hamdani menyoroti purchasing managers' index (PMI) sektor manufaktur yang mengalami konstraksi sepanjang kuartal.
April 2025 PMI Manufaktur tercatat sebesar 46,7 yang menjadi konstraksi paling dalam sejak 4 tahun terakhir. Mei 2025 mengalami peningkatan indeks menjadi 47,4. Kemudian pada Juni 2025 kembali mengalami penurunan menjadi sebesar 46,9.
"Data konstraksi PMI Manufaktur ini juga relevan dengan potret di lapangan, terjadi fenomena rombongan jarang beli (rojali) dan rombongan hanya nanya-nanya (rohana). Padahal daya beli dan konsumsi ini yang menjadi penopang signifikan pertumbuhan ekonomi," kata Ajib dalam keterangan yang diterima, Rabu (6/8).
Apindo menyebut angka pertumbuhan ekonomi Indonesia 5,12% secara tahunan atau year on year (yoy) pada kuartal II 2025 di luar prediksi para ekonom dan dunia usaha.
"Prediksi sebelumnya, pertumbuhan ekonomi kuartal kedua tahun 2025 hanya di kisaran 4,69%-4,81%," ungkap Ajib.
Secara siklus tahunan, katanya, kuartal kedua biasanya lebih rendah dari pertumbuhan ekonomi kuartal pertama yang ditopang oleh belanja masyarakat dalam periode lebaran.
Sebagai perbandingan, kuartal pertama 2024 sebesar 5,11%, kemudian diikuti oleh pertumbuhan ekonomi kuartal kedua sebesar 5,05%. "Sehingga dengan data pertumbuhan ekonomi kuartal pertama tahun 2025 sebesar 4,87%, para ekonom memprediksi pertumbuhan ekonomi cenderung lebih rendah lagi di kuartal kedua," tuturnya.
Namun dengan segala diskursus yang ada, lanjutnya, dunia usaha optimistis secara agregat tahun 2025 pertumbuhan ekonomi bisa mencapai sesuai Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (PEM-PPKF) yang ditetapkan oleh pemerintah.
"Pemerintah harus selalu menggandeng dunia usaha agar mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih sustain dan eskalatif ke depannya. Kolaborasi inilah yang terus didorong melalui Indonesia Incorporated," tegasnya.
Di sisi lain, pemerintah menganggap fenomena rojali dan rohana justru tidak sesuai dengan data perekonomian. Menko Perekonomian Airlangga Hartarto mencontohkan sektor retail dan marketplace tumbuh 7,55% secara kuartalan.
Ia juga menyebut konsumsi dari masyarakat terlihat shifting ke belanja online. "Yang shift ke online salah satu contoh yang tumbuhnya tinggi adalah personal care dan kosmetik naik mendekati 17%, kemudian produk rumah tangga dan kantor itu juga Rp72,8 triliun, growth-nya adalah 29,38%," paparnya dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (6/8).
Ia juga memperlihatkan kinerja keuangan sektor retail yakni pabrik, minimarket, outlet di mall, yang pada semester I tumbuh masing-masing 4,99%, 6,85%, dan 12,87%.
"Ini menunjukkan bahwa terkait dengan isu rohana dan rojali, ini isu yang ditiup-tiup. Jadi faktanya berbeda, dan tentu ini yang harus kita lihat," ujar Airlangga.
"Kemudian kita juga bisa lihat dari segi core inflasi di angka 2,32 dan dibandingkan per provinsi kita lihat beberapa provinsi tinggi. Artinya masyarakat di tengah ketidakpastian global masih melakukan konsumsi secara kuat."
Ia menambahkan, pertumbuhan sektor riil bahkan melampaui laju pertumbuhan ekonomi nasional, sehingga menopang kinerja ekonomi secara keseluruhan.
PERWAKILAN Aliansi Ekonom Indonesia (AEI) sekaligus Secretary General of the International Economic Association Lili Yan Ing menegaskan target pertumbuhan ekonomi 2026 di angka 5,4% tidak bisa hanya mengandalkan konsumsi masyarakat.
MENTERI Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menuturkan dampak stimulus yang digelontorkan pemerintah akan terlihat pada triwulan IV 2025.
"Harapan satu-satunya adalah memberikan booster terhadap daya beli melalui kebijakan yang pro kepada daya beli,”
PEMERINTAH menargetkan mampu melakukan belanja di Desember 2024 sebesar Rp517,85 triliun agar alokasi belanja negara dalam APBN terpenuhi. Itu merupakan selisih realisasi belanja negara
Pemerintah menegaskan komitmen untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan.
Dunia usaha menilai pertumbuhan ekonomi kuartal IV 2025 belum sepenuhnya mencerminkan akselerasi pertumbuhan yang optimal.
Badan Pusat Statistik Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kinerja perekonomian nasional yang solid di sepanjang 2025 dengan pertumbuhan sebesar 5,11% secara tahunan
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan pemerintah belum berencana memangkas insentif pajak meskipun nilai belanja perpajakan terus meningkat.
Indonesia kembali mencatatkan kinerja positif dengan mempertahankan surplus neraca perdagangan selama 68 bulan berturut-turut, di tengah kondisi ekonomi global yang tak pasti.
Di tengah ketidakpastian ekonomi global, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) kembali menegaskan posisinya sebagai fondasi utama perekonomian Indonesia.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved