Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
PELEMAHAN daya beli masyarakat disebut masih akan mengintai dan menjadi momok bagi perekonomian Indonesia di tahun ini. Apalagi, di tahun ini tidak ada aktivitas seperti pemilu yang dapat mendongkrak aktivitas konsumsi masyarakat.
“Tahun 2025, dengan masih adanya PR berupa daya beli yang masih lemah di 2024 dan ada fakta bahwa tidak ada pendorong lagi (tidak ada gelaran pemilu dan pilkada), pemerintah akan sulit mendorong pertumbuhan ekonomi ke angka 5,2%. Harapan satu-satunya adalah memberikan booster terhadap daya beli melalui kebijakan yang pro kepada daya beli,” ujar ekonom dari Center of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda saat dihubungi, Rabu (5/2).
Dia menambahkan, program tiga juta rumah yang digagas pemerintah terbilang cukup menjanjikan untuk mengungkit peningkatan konsumsi rumah tangga dan geliat industri di sektor tertentu. Hanya, sejauh ini belum ada kejelasan mengenai sumber dana dan eksekusi program tersebut. Huda mengkhawatirkan program tersebut akan besar di level narasi semata, serupa dengan hilirisasi yang sejauh ini masih berkutat pada sedikit komoditas dan belum optimal memberi dampak pada perekonomian.
Adapun pada 2024, perekonomian Indonesia tercatat tumbuh 5,03%, lebih lambat dari 2023 yang mencapai 5,05%. Realisasi laju ekonomi di 2024 juga sejatinya terlampau jauh dari target dalam APBN 2024 yang dipatok di angka 5,2%.
Huda mengatakan, ekonomi 2024 banyak tertolong oleh konsumsi Lembaga Non Profit Rumah Tangga (LNPRT) yang mampu tumbuh hingga 12,48% karena adanya pemilu. Itu juga diikuti dengan peningkatan konsumsi pemerintah yang tumbuh 6,61% akibat pemilu.
“Konsumsi rumah tangga masih belum tumbuh di atas 5%, yang menunjukkan daya beli melemah di tahun 2024. Pertumbuhan konsumsi rumah tangga tertahan di angka 4,94%. Lebih tinggi dibandingkan tahun 2023, namun masih belum bisa tumbuh 5%,” kata Huda.
“Secara sektoral, industri pengolahan kembali menunjukkan perlambatan dengan pertumbuhan hanya 4,43%. Tahun 2023, industri pengolahan mampu tumbuh di angka 4,64%. Industri pengolahan tidak pernah tumbuh di atas pertumbuhan ekonomi nasional,” pungkasnya.(M-2)
PERWAKILAN Aliansi Ekonom Indonesia (AEI) sekaligus Secretary General of the International Economic Association Lili Yan Ing menegaskan target pertumbuhan ekonomi 2026 di angka 5,4% tidak bisa hanya mengandalkan konsumsi masyarakat.
MENTERI Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menuturkan dampak stimulus yang digelontorkan pemerintah akan terlihat pada triwulan IV 2025.
Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menyampaikan pertumbuhan ekonomi kuartal kedua tahun 2025 menjadi sebuah paradoks dari daya beli yang sedang menurun.
PEMERINTAH menargetkan mampu melakukan belanja di Desember 2024 sebesar Rp517,85 triliun agar alokasi belanja negara dalam APBN terpenuhi. Itu merupakan selisih realisasi belanja negara
Mesin utama pertumbuhan, yaitu konsumsi masyarakat, tumbuh melambat menjadi 4,91% secara tahunan pada kuartal ketiga 2024, lebih rendah dari triwulan sebelumnya yang sebesar 4,93%.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved