Headline
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
Kumpulan Berita DPR RI
DUNIA usaha berharap pemerintahan baru dapat merealisasikan target-target yang disusun dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025. Setidaknya terdapat dua aspek yang dinilai penting, yakni penerimaan pajak dan pengendalian defisit anggaran.
Demikian disampaikan Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjaja Kamdani kepada Media Indonesia, Kamis (19/9).
"Perlu diwaspadai disiplin pencapaian target-target, khususnya di sisi penerimaan pajak yang meningkat dan di sisi kendali atas defisit anggaran, khususnya yang berkaitan dengan debt sustainability dan rasio utang negara terhadap Produk Domestik Bruto (PDB)," ujarnya.
Baca juga : Jelang Akhir 2022, Defisit Anggaran Hanya 1,22% dari PDB
Idealnya, kata Shinta, pertumbuhan target penerimaan pajak dan risiko peningkatan utang yang disebabkan oleh defisit anggaran harus disertai dengan stimulasi peningkatan produktivitas ekonomi. Itu berarti pertumbuhan PDB nasional atau tingkat konsumsi domestik mesti lebih tinggi dari pertumbuhan penerimaan pajak.
Itu diperlukan agar instrumen fiskal negara tak hanya bergantung pada peningkatan rasio utang. Situasi itu turut diperlukan agar keberlanjutan utang tetap memadai meski defisit anggaran tergolong tinggi, mendekati 3% atau batas toleransi defisit APBN seperti yang diatur dalam UU Keuangan Negara.
"Kami sangat berharap pemerintah baru nanti dapat dengan konsisten melakukan reformasi perpajakan yang diagendakan dalam APBN 2025," kata Shinta.
Baca juga : DPR ke Pemerintahan Baru: Pertumbuhan Ekonomi harus Berkualitas
"Agar pencapaian target pajak yang lebih tinggi ini tidak menciptakan kondisi berburu di kebun binatang bagi para wajib pajak yang selama ini sudah taat terhadap kewajiban perpajakannya tapi betul-betul dapat dicapai karena berkat output reformasi perpajakan yang kita semua inginkan, yakni perluasan basis pajak dan simplifikasi perpajakan," tambah dia.
Dunia usaha juga berharap pemerintahan baru dapat menjaga kehati-hatian defisit dan utang negara. Hal itu diharapkan bisa direalisasikan berbarengan dengan upaya memacu pertumbuhan ekonomi nasional di jangka pendek. Hal tersebut dapat ditempuh melalui reformasi struktural dan stimulus ekonomi produktif.
"Dengan demikian, risiko-risiko ekonomi yang mungkin terjadi karena beban dan target APBN yang ada dapat dimanage dengan baik dan pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa lebih tinggi untuk mendukung kinerja APBN di sisi penerimaan," jelas Shinta.
Baca juga : RAPBN 2025: Pertumbuhan Ekonomi Diproyeksi Stagnan di 5,2 Persen
Itu berpeluang besar untuk dilakukan lantaran pemerintahan baru dinilai memiliki momentum untuk menciptakan produktivitas ekonomi nasional yang lebih tinggi di tahun depan. Salah satu dorongannya ialah kondisi perekonomian global yang berpotensi membaik dan ketidakpastian melandai.
"Ini karena inflasi global yang sudah lebih terkendali dibandingkan tahun ini, tren suku bunga global yang diperkirakan akan lebih rendah dibandingkan 2024, stabilitas harga komoditas di pasar global," imbuh Shinta.
"Serta hilangnya faktor uncertainty berusaha atau berinvestasi karena transisi kepemimpinan di dalam negeri yang selama ini menekan pertumbuhan produktivitas ekonomi nasional akibat kecenderungan wait and see yg tinggi di kalangan pelaku pasar atau investor untuk melakukan ekspansi usaha di Indonesia," lanjutnya.
Karena itu, faktor-faktor yang terbilang positif tersebut mesti dimanfaatkan pemerintahan baru untuk memicu pertumbuhan produktivitas ekonomi dalam negeri. Pelaku usaha, sambung Shinta, berharap pemerintahan baru dapat memanfaatkan peluang dan momentum tersebut.
"Kami harap pemerintahan baru tidak melewatkan momentum pertumbuhan yang baik ini untuk secepat mungkin mencapai target pertumbuhan yang dikampanyekan, yakni pertumbuhan ekonomi 7% sampai 8% per tahun," tutur Shinta. (Mir/M-4)
Ruang fiskal pemerintah kian terbatas seiring meningkatnya posisi utang hingga Rp9.637,90 triliun per 31 Desember 2025 atau setara 40,46 persen terhadap produk domestik bruto (PDB)
Danantara menargetkan negosiasi utang proyek KCIC Whoosh dengan China selesai kuartal I-2026. Skema restrukturisasi disebut masih 50:50.
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan komitmennya untuk mengelola ekonomi secara pruden dengan mengusung kebijakan yang pro-pertumbuhan dan pro-rakyat. T
Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa menyoroti penghapusan 11 juta peserta PBI BPJS dan meminta penonaktifan tidak mendadak serta disertai sosialisasi.
DPR RI memastikan layanan kesehatan peserta PBI BPJS tetap berjalan selama 3 bulan ke depan meski ada penonaktifan, dengan iuran ditanggung pemerintah.
Tidak semua rumah akan diganti atapnya, karena program ini hanya menyasar rumah-rumah yang masih menggunakan atap seng untuk kemudian diganti dengan genteng berbahan batuan.
Salah satunya, realisasi program Makan Siang Gratis (MBG) tercatat sebesar Rp36,6 triliun per 21 Februari.
Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa pastikan pemerintah tak akan naikkan tarif pajak PPh 21 meski ada rekomendasi IMF. Fokus perkuat daya beli & ekonomi.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan pemerintah tidak akan mengubah batas defisit anggaran sebesar 3 persen, meskipun menargetkan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi.
Lemahnya pengawasan terlihat dari tidak adanya upaya menelusuri pemegang saham maupun perusahaan afiliasi dari wajib pajak tersebut.
Justru di tengah kondisi shortfall penerimaan pajak, langkah bersih-bersih semacam ini menjadi krusial untuk menjaga kepercayaan publik.
Boyamin menilai kondisi ini juga membuktikan bahwa reformasi perpajakan yang selama ini digaungkan pemerintah gagal menyentuh akar persoalan dan lebih bersifat kosmetik.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved