Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
DIREKTUR Eksekutif Center of Reform on Economic (CoRE) Indonesia Mohammad Faisal mengatakan, surplus neraca dagang tak selalu berdampak langsung pada kondisi perekonomian. Apalagi jika surplus tersebut terjadi karena penurunan kinerja baik dari sisi ekspor maupun impor.
“Tidak bisa hanya melihat dari surplusnya saja. Karena surplus itu bisa sehat dan kurang sehat, bergantung dari bagaimana struktur atau faktor penyebabnya. Itu sehat jika faktor pendorongnya adalah dari peningkatan ekspor, sementara kalau yang terjadi akhir-akhir ini bukan terjadi karena peningkatan ekspor, ekspor justru turun, bisa surplus karena impor turun lebih tajam,” ujarnya saat dihubungi, Rabu (15/5).
Kondisi penurunan ekspor dan impor itu, kata Faisal, menggambarkan ada permasalahan yang terjadi, baik dari sisi eksternal maupun internal. Penurunan impor secara dalam juga tak serta merta patut disyukuri. Bisa jadi, itu disebabkan oleh lemahnya permintaan, baik dari dalam dan luar negeri, sehingga industri pengolahan tak mengimpor bahan baku/penolong.
Baca juga : Neraca Perdagangan RI Surplus Selama 27 Bulan
Faisal memperkirakan kinerja perdagangan akan terus mengalami penyusutan selama tidak ada gebrakan yang mendukung dari pemerintah. Aktivitas ekspor disebut masih akan terus melemah dalam beberapa bulan ke depan. Itu karena 24% ekspor Indonesia dilakukan ke Tiongkok. Sementara perekonomian Negeri Tirai Bambu sedang melemah.
Besarnya porsi ekspor ke Tiongkok itu membuat Indonesia banyak menggantungkan kinerjanya pada keadaan Negeri Panda. Mestinya, kata Faisal, pemerintah bisa segera membuka pasar perdagangan baru, alih-alih terus mengandalkan Tiongkok sebagai pasar utama.
“Kalau kita makin bergantung pada pasar Tiongkok, sementara mereka sedang melambat, maka akan berdampak pula pada kinerja ekspor kita. oleh karena itu harus banyak mendorong di luar Tiongkok. Dan itu perlu waktu untuk melihat hasilnya. Jadi, mungkin masih akan ada surplus dalam beberapa bulan mendatang, tetapi itu pasti akan makin tipis, terutama karena faktor global,” jelasnya.
Baca juga : Neraca Dagang Oktober 2023 Catatkan Surplus US$3,48 Miliar
Lebih jauh, Faisal mengungkapkan, konsistensi surplus dagang selama 4 tahun juga tak serta merta dapat mendongkrak posisi cadangan devisa Indonesia. Pasalnya tak semua devisa dari kegiatan hasil ekspor itu ditempatkan di sistem keuangan dalam negeri.
Karenanya, pengambil kebijakan bersama Bank Indonesia terus meramu kebijakan untuk mendorong eksportir memarkir devisa hasil eskpor (DHE) di dalam negeri. Selain itu, cadangan devisa juga dipengaruhi oleh kondisi neraca perdagangan jasa. Tak seperti barang, neraca perdagangan jasa disebut Faisal tak memiliki performa yang cukup baik.
“Neraca jasa kita itu defisit dan itu memengaruhi penerimaan cadangan devisa. Lalu ada pembayaran utang, repatriasi, sering kali naik turun cadangan devisa itu dipengaruhi oleh aliran modal masuk, utang masuk atau sebaliknya, utang dibayar, terutama yang berdenominasi dolar. Belakangan ini yang paling kuat adalah cadangan devisa digunakan untuk menstabilkan rupiah yang mengalami tekanan,” pungkasnya. (Mir/Z-7)
Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan neraca perdagangan barang Indonesia mengalami surplus sebesar US$38,54 miliar atau setara Rp645,7 triliun di sepanjang Januari-November 2025.
Di balik tren surplus tersebut, industri dalam negeri masih menghadapi tantangan serius, terutama tekanan biaya impor.
Neraca perdagangan barang Indonesia kembali mencatat surplus sebesar US$4,18 miliar atau senilai Rp68,89 triliun (kurs Rp16.481).
Ancaman tarif sepihak dari AS menambah tekanan terhadap neraca eksternal Indonesia dan nilai tukar rupiah.
Salah satu dampak utama adalah lonjakan biaya pengiriman dan logistik akibat penutupan Selat Hormuz oleh Pemerintah Iran.
Sementara, nilai impor dari Amerika Serikat hanya sebesar US$960 juta pada periode yang sama.
INDONESIA tidak kekurangan uang. Yang kurang adalah arah. Ini bukan gejala siklikal atau persoalan sentimen pasar, melainkan kegagalan struktural.
Tanpa dorongan fiskal awal, ekonomi akan selalu menunggu.
Alih-alih memicu inflasi pangan, program prioritas pemerintah MBG dinilai justru akan menjadi stimulus bagi peningkatan produktivitas nasional dan penguatan ekonomi kerakyatan.
Berdasarkan data selama bulan Januari hingga Desember 2024, tercatat 38juta kunjungan wisatawan datang ke DIY.
berdasarkan hasil rapat DK OJK yang dilaksanakan pada 1 Oktober lalu menilai sektor jasa keuangan terjaga stabil.
INDONESIA dan Dewan Kerja Sama Teluk (Gulf Cooperation Council/GCC) telah melaksanakan Putaran Ketiga Perundingan Perjanjian Perdagangan Bebas antara kedua pihak (Indonesia-GCC FTA).
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved