Headline
Kasus kuota haji diperkirakan merugikan negara Rp622 miliar.
Kumpulan Berita DPR RI
Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan neraca perdagangan barang Indonesia mengalami surplus sebesar US$38,54 miliar atau setara Rp645,7 triliun di sepanjang Januari-November 2025. Capaian itu naik sebesar US$9,30 miliar atau setara Rp155,8 triliun dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Sementara pada November 2025, neraca perdagangan barang mencatat surplus sebesar US$2,66 miliar atau sekitar Rp44,6 triliun. Dengan capaian tersebut, neraca perdagangan barang Indonesia mengalami surplus selama 67 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.
“Surplus pada November 2025 lebih ditopang oleh surplus pada komoditas non-migas sebesar US$4,64 miliar dengan komoditas penyumbang surplus utama adalah lemak dan minyak hewani atau nabati (HS15), besi dan baja (HS72), serta nikel dan barang daripadanya (HS75),” ungkap Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Pudji Ismartini dalam konferensi pers, Senin (5/1).
Pada saat yang sama, neraca perdagangan komoditas migas tercatat defisit US$1,98 miliar atau setara Rp33,2 triliun dengan komoditas penyumbang defisit adalah minyak mentah dan hasil minyak.
Adapun surplus sepanjang Januari hingga November 2025 ini ditopang oleh surplus komoditas non-migas sebesar US$56,15 miliar. Sementara komoditas migas masih mengalami defisit US$17,61 miliar.
Untuk neraca perdagangan total, yaitu migas dan non-migas, tiga negara penyumbang surplus terbesar adalah Amerika Serikat sebesar US$16,54 miliar, India sebesar US$12,06 miliar, dan Filipina sebesar US$7,81 miliar. Sementara, negara penyumbang defisit terdalam adalah yang pertama Tiongkok sebesar minus US$17,74 miliar, Australia sebesar minus US$5,04 miliar, dan Singapura sebesar minus US$4,66 miliar.
BPS juga mencatat sepanjang periode Januari hingga November 2025, nilai ekspor Indonesia mencapai US$256,56 miliar atau meningkat 5,61% dibandingkan periode yang sama tahun 2024. Sementara nilai impor sepanjang Januari hingga November 2025 mencapai US$218,02 miliar atau meningkat 2,03% dibandingkan periode yang sama tahun 2024. (E-3)
Bank Indonesia (BI) mengapresiasi catatan surplus neraca perdagangan Indonesia pada Januari tahun ini.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor mencapai US$22,16 miliar. Angka itu meningkat 3,39% secara tahunan.
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa neraca perdagangan Indonesia pada Januari 2026 mencatat surplus sebesar 0,95 miliar dolar AS.
Neraca perdagangan Indonesia yang tetap mencatatkan surplus sepanjang 2025 mencerminkan daya tahan sektor eksternal.
Indonesia kembali mencatatkan kinerja positif dengan mempertahankan surplus neraca perdagangan selama 68 bulan berturut-turut, di tengah kondisi ekonomi global yang tak pasti.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan barang Indonesia sepanjang Januari hingga Desember 2025 kembali mencatatkan surplus signifikan.
KEPALA Ekonom Permata Bank, Josua Pardede menilai penutupan atau tersendatnya lalu lintas di Selat Hormuz merupakan guncangan yang cepat menular ke rantai pasok petrokimia global.
Bank Indonesia (BI) mengapresiasi catatan surplus neraca perdagangan Indonesia pada Januari tahun ini.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor mencapai US$22,16 miliar. Angka itu meningkat 3,39% secara tahunan.
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa neraca perdagangan Indonesia pada Januari 2026 mencatat surplus sebesar 0,95 miliar dolar AS.
MENTERI Perdagangan (Mendag) Budi Santoso memastikan Neraca Perdagangan Indonesia tidak akan menyempit akibat kesepakatan tarif resiprokal dengan Amerika Serikat (AS).
Ekonom senior Didik J. Rachbini dari Indef menilai rencana impor 105 ribu kendaraan niaga pick-up dari India berisiko melemahkan industri otomotif nasional dan neraca perdagangan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved