Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede menilai surplus neraca perdagangan Indonesia sebesar US$4,18 miliar atau Rp68,79 triliun pada Juli 2025 sebagai capaian positif yang sekaligus memperpanjang rekor surplus 63 bulan berturut-turut sejak Mei 2020. Namun, di balik tren surplus tersebut, industri dalam negeri masih menghadapi tantangan serius, terutama tekanan biaya impor.
Penguatan dolar AS disebut mendorong kenaikan harga bahan baku impor, sehingga perusahaan terpaksa menyesuaikan harga output untuk menjaga margin.
“Meskipun surplus perdagangan berkelanjutan, dan ekspansi PMI manufaktur memberi sinyal pemulihan industri, daya tahannya masih diuji oleh tekanan biaya impor,” kata Josua kepada Media Indonesia, Senin (1/9).
Tantangan lain termasuk potensi pelemahan konsumsi domestik, serta risiko eksternal dari gejolak harga komoditas dan ketidakpastian global. Untuk menjaga keberlanjutan surplus, Josua menekankan pentingnya memperkuat industri pengolahan berorientasi ekspor dan stabilitas daya beli masyarakat.
Secara umum, Josua menilai surplus perdagangan Juli 2025 menunjukkan daya saing ekspor nonmigas yang tetap kuat, terutama dari industri pengolahan dan komoditas pertanian, meski ekspor migas menurun. Sementara itu, impor barang konsumsi melambat, namun impor barang modal meningkat.
"Ini menandakan kebutuhan investasi yang mendukung perluasan dan efisiensi produksi," ucapnya.
Sinyal pemulihan industri terlihat dari PMI Manufaktur Indonesia yang kembali ke zona ekspansi, naik ke 51,5 pada Agustus 2025, setelah lima bulan sebelumnya berada di bawah 50. Peningkatan output dan pesanan baru, termasuk ekspor, menandakan permintaan domestik maupun internasional mulai menguat. Perusahaan, kata Josua, merespons dengan menambah tenaga kerja dan aktivitas pembelian input.
"Ini menunjukkan surplus dagang kali ini tidak hanya ditopang harga komoditas. tetapi juga oleh pemulihan sektor manufaktur," imbuhnya.
Dari sisi domestik, Josua mewanti-wanti pelemahan domestik. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Indonesia mengalami deflasi 0,08% pada Agustus 2025. Indeks Harga Konsumen (IHK) anjlok dari 108,60 pada Juli menjadi 108,51 di Agustus. Deflasi ini terdorong oleh pangan dan biaya perawatan pribadi.
"Kondisi ini menandakan risiko pelemahan daya beli, khususnya kelompok menengah bawah yang membatasi permintaan domestik ke depan," pungkasnya. (E-3)
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Triwulan IV 2025 mencapai 5,45%, menandai momentum pembalikan arah ekonomi yang solid.
IHSG mencetak sejarah baru (All Time High) di level 8.859, mengabaikan tensi geopolitik global berkat solidnya data neraca perdagangan dan inflasi domestik.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia pada November 2025 mengalami surplus sebesar 2,66 miliar dolar AS.
Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan neraca perdagangan barang Indonesia mengalami surplus sebesar US$38,54 miliar atau setara Rp645,7 triliun di sepanjang Januari-November 2025.
Pemerintah menyatakan perekonomian Indonesia sepanjang 2025 tetap menunjukkan ketahanan dan kinerja yang solid meskipun dihadapkan pada ketidakpastian ekonomi global.
Laporan Badan Pusat Statistik (BPS), pada Oktober 2025, ekspor tercatat US$24,24 miliar dan impor US$21,84 miliar sehingga surplus US$2,39 miliar.
Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan neraca perdagangan barang Indonesia mengalami surplus sebesar US$38,54 miliar atau setara Rp645,7 triliun di sepanjang Januari-November 2025.
Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan neraca perdagangan barang pada Oktober 2025 mencatatkan surplus sebesar US$2,39 miliar.
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan neraca perdagangan Indonesia pada Agustus 2025 kembali mencatat surplus sebesar US$5,49 miliar atau setara sekitar Rp91,56 triliun (kurs Rp16.685).
Neraca perdagangan barang Indonesia kembali mencatat surplus sebesar US$4,18 miliar atau senilai Rp68,89 triliun (kurs Rp16.481).
Surplus perdagangan barang yang sudah berlangsung selama 62 bulan berturut-turut menjadi bantalan utama ketahanan ekonomi eksternal Indonesia.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved