Headline
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Kumpulan Berita DPR RI
PELAKSANA tugas (Plt) Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti mengungkapkan neraca perdagangan barang Indonesia kembali mengalami surplus sebesar US$3,12 miliar atau senilai Rp51,07 triliun pada Februari.
Angka ini lebih rendah dibandingkan dengan surplus pada bulan sebelumnya yang mencapai US$3,49 miliar.
"Pada Februari 2025 surplus neraca perdagangan turun sebesar US$0,38 miliar secara bulanan," ungkapnya dalam konferensi pers Rilis BPS secara daring, Senin (17/3).
Secara kumulatif, neraca perdagangan Indonesia selama periode Januari sampai dengan Februari 2025 mencapai US$6,61 miliar. Neraca perdagangan Indonesia mencatatkan surplus selama 58 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.
Surplus pada Februari 2025 lebih ditopang dari surplus sektor nonmigas yang sebesar US$4,84 miliar.
Komoditas penyumbang surplus utama ialah lemak dan minyak hewan nabati (HS15), kemudian bahan bakar mineral (HS27), serta besi dan baja (HS72).
Pada saat yang sama, neraca perdagangan komoditas migas tercatat defisit US$1,72 miliar.
"Ini utamanya berasal dari defisit hasil minyak maupun minyak mentah," jelas Amalia.
Sementara itu, lanjutnya, Indonesia mengalami defisit perdagangan dengan tiga yang terbesar. Yakni, dengan Tiongkok defisit sebesar US$1,76 miliar, dengan Australia sebesar US$430 juta dan dengan Brazil mengalami defisit sebesar US$170 juta.
Selanjutnya, Amalia menerangkan untuk komoditas penyumbang defisit terbesar dengan Tiongkok utamanya adalah mesin dan perlengkapan elektrik serta bagiannya, lalu mesin dan peralatan mekanis serta bagiannya, dan juga kendaraan dan bagiannya.
Dengan Australia, Indonesia mengalami defisit perdagangan disumbang komoditas bahan bakar mineral, terutama batu bara, biji logam terak dan abu, dan serealia.
"Berikutnya, dengan Brazil. Defisit perdagangan terutama disumbang oleh ampas dan sisa industri makanan, terutama untuk pakan ternak, kemudian kapas, dan juga gula," terang Amalia.
Kendati demikian, BPS mencatat neraca perdagangan Indonesia pada Januari-Februari 2025 mengalami kenaikan sebesar US$3,78 miliar dibandingkan periode yang sama di tahun lalu. Surplus pada periode ini ditopang oleh komoditas nonmigas yang memberikan kontribusi sebesar US$9,76 miliar. (E-4)
Neraca perdagangan Indonesia yang tetap mencatatkan surplus sepanjang 2025 mencerminkan daya tahan sektor eksternal.
Indonesia kembali mencatatkan kinerja positif dengan mempertahankan surplus neraca perdagangan selama 68 bulan berturut-turut, di tengah kondisi ekonomi global yang tak pasti.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan barang Indonesia sepanjang Januari hingga Desember 2025 kembali mencatatkan surplus signifikan.
Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan neraca perdagangan barang Indonesia mengalami surplus sebesar US$38,54 miliar atau setara Rp645,7 triliun di sepanjang Januari-November 2025.
Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan neraca perdagangan barang pada Oktober 2025 mencatatkan surplus sebesar US$2,39 miliar.
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan neraca perdagangan Indonesia pada Agustus 2025 kembali mencatat surplus sebesar US$5,49 miliar atau setara sekitar Rp91,56 triliun (kurs Rp16.685).
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved