Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Ekonom Tepis Isu Harga Pangan Naik karena MBG

Naufal Zuhdi
25/12/2025 19:07
Ekonom Tepis Isu Harga Pangan Naik karena MBG
Ilustrasi: petugas menyusun makanan bergizi gratis (MBG) untuk dibagikan kepada siswa di SMA Negeri 4 Ternate, Maluku Utara(ANTARA FOTO/Andri Saputra)

DI tengah kekhawatiran publik mengenai potensi kenaikan harga bahan pokok akibat implementasi program Makan Bergizi Gratis (MBG), sejumlah pengamat memberikan pandangan optimis. Alih-alih memicu inflasi pangan, program prioritas pemerintah ini dinilai justru akan menjadi stimulus bagi peningkatan produktivitas nasional dan penguatan ekonomi kerakyatan.

Menanggapi isu bahwa permintaan besar dari program MBG akan memicu kelangkaan dan lonjakan harga pangan di pasar, Ekonom sekaligus Mantan Direktur Program Magister Manajemen FEB UI, Harryadin Mahardika, menegaskan bahwa kekhawatiran tersebut tidak beralasan justru dengan hadirnya MBG dan beroperasinya SPPG, lonjakan harga pangan lebih terkendali.

“Sebelum program MBG berjalan, petani dan peternak tidak punya mekanisme untuk bisa langsung berdagang ke masyarakat. Mereka harus selalu menjual produk mereka ke tengkulak, distributor, dan ini artinya harga gampang dipermainkan spekulan. Justru menurut saya para spekulan agak sulit mempermainkan Harga lagi. Karena produk peternak dan petani bisa langsung dibeli SPPG. Jadi opsi bagi petani dan peternak lebih banyak,” ujarnya, Kamis (25/12).

Selama masa libur sekolah, SPPG terus beroperasi dan mendistribusikan paket makanan bernutrisi ke penerima manfaat. Hal ini diyakini merupakan upaya komitmen pemerintah untuk memenuhi nutrisi anak-anak meskipun di hari libur.

Kebijakan jangka panjang

Senada dengan hal tersebut, Guru Besar Bidang Ilmu Politik dan Humaniora Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), Sri Yunanto, menjawab tudingan program MBG di masa libur sekolah adalah cara untuk menghabiskan anggaran. 

Ia menilai pandangan sempit tersebut menunjukkan masyarakat masih belum memaknai intervensi gizi sebagai kebijakan jangka panjang. “Pemenuhan gizi tidak boleh terputus hanya karena kalender akademik, demi memastikan investasi SDM menuju Indonesia Emas 2045 tetap terjaga,” tegasnya seperti dikutip Antara.

MBG, sambung dia, juga memberikan manfaat napas baru bagi ribuan relawan yang bekerja di dapur SPPG. Program ini telah menjelma menjadi lapangan kerja baru yang krusial bagi ekonomi para pekerja dan relawannya.

“SPPG itu keberkahan dan manfaatnya untuk banyak orang. Termasuk untuk pegawai yang ada di sana. Ini akan memutar perekonomian,” tambah Harryadin.

Hingga Rabu (24/12), tercatat sehanyak 17.555 SPPG yang sudah melayani yang sudah melayani 50 juta lebih penerima manfaat di 38 provinsi. Adapun jumlah tenaga kerja yang sudah terlibat langsung di SPPG tercatat hingga 741.985 orang.

Kisah inspiratif

Salah satu kisah inspiratif datang dari Maria Sudilaksana Mega (42). Ia adalah seorang relawan di SPPG Khusus Tangerang Selatan. Ibu tunggal yang sedang hamil enam bulan ini mengaku hidupnya sangat terbantu oleh program MBG, terutama setelah berpisah dengan suaminya beberapa bulan lalu.

"Sedihlah saya. Saya enggak tahu mau kerja di mana lagi untuk menghidupi anak-anak saya. Mana saya baru saja berpisah dengan suami saya tujuh bulan lalu dan baru tahu kalau ternyata saya hamil," ucapnya.

Di SPPG tersebut, Mega bertugas sebagai juru racik yang menyiapkan bumbu dan bahan makanan. Mega memproduksi 3.300 porsi makanan setiap hari bersama 46 relawan lain yang bekerja di SPPG Khusus Tangerang Selatan.

Bagi Mega, program MBG bukan sekadar kebijakan pemerintah, melainkan tumpuan nyata untuk menyekolahkan anak-anaknya dan menyambung hidup keluarga di masa sulit. (Fal/M-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik