Headline
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Kumpulan Berita DPR RI
KEBIJAKAN penghapusan pungutan ekspor crude palm oil (CPO) diberikan untuk menyelaraskan beragam upaya percepatan ekspor komoditas tersebut. Diharapkan, ada pertumbuhan yang lebih baik pada sektor kelapa sawit.
Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kemenkeu Febrio Nathan Kacaribu menyebut kebijakan penghapusan sementara pungutan ekspor CPO juga bertujuan menjaga keseimbangan. Dalam hal ini, antara keterjangkauan harga minyak goreng, profit usaha yang berkeadilan, keberlanjutan program B30 dan kesejahteraan petani.
"Saat ini, ketersediaan dan keterjangkauan harga minyak goreng curah yang dijual di pasar tradisional, khususnya Jawa, sudah tercapai. Pemerintah memutuskan untuk menerbitkan kebijakan pelengkap. Ini untuk mendorong ekspor minyak sawit mentah dan turunannya," ujarnya dalam keterangan pers, Rabu (20/7).
Baca juga: Gapki Apresiasi Penghapusan Pungutan Ekspor Sawit
Kebijakan tarif pungutan ekspor sebesar US$0 diputuskan melalui rapat Komite Pengarah Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS). Langkah itu bertujuan mendorong percepatan ekspor dan peningkatan harga tandan buah segar (TBS) di level petani. Sekaligus, berkontribusi terhadap penurunan harga CPO global.
Aturan itu tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 115/PMK.05/2022 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor 103 PMK.05/2022 tentang Tarif Layanan Badan Layanan Umum BPDPKS pada Kementerian Keuangan.
Kebijakan anyar dimulai sejak 15 Juli sampai 31 Agustus 2022. Sehingga, mulai 1 September 2022, tarif progresif akan berlaku kembali terhadap harga pungutan ekspor. Hal ini diharapkan mendorong peningkatan ekspor lebih cepat dan meningkatkan harga TBS di level petani.
Baca juga: BKPM: Realisasi Investasi Semester I 2022 Capai Rp584,6 Triliun
Pemerintah dikatakannya berkomitmen meningkatkan kesejahteraan petani melalui peningkatan produktivitas perkebunan kelapa sawit yang dikelola rakyat. Ini termasuk hilirisasi produk kelapa sawit, baik untuk sektor industri maupun dukungan pembentukan pabrik kelapa sawit berskala kecil.
Kemudian, peningkatan kompetensi sumber daya manusia. Terutama, program pengembangan yang sesuai praktik pertanian yang baik dan menunjang keberlanjutan usaha. Pemerintah juga berkomitmen melanjutkan Program Mandatori Biodiesel untuk mendukung target bauran energi Indonesia sebesar 23% pada 2025.
"Program Mandatori Biodiesel yang saat ini mencapai B30, telah dijalankan dan mampu menciptakan instrumen pasar domestik. Sehingga mengurangi ketergantungan terhadap pasar ekspor," jelas Febrio.(OL-11)
Kenaikan kebutuhan paling signifikan tercatat pada komoditas telur ayam sebesar 7,50%, disusul daging sapi dan kerbau sebesar 3,57.
BPDP Kementerian Keuangan fokus melaksanakan program peremajaan perkebunan kakao dengan target 5.000 hektare secara nasional pada 2026.
Momentum AOE 2026 menjadi ajang forum bisnis yang mempertemukan calon pembeli (buyer) dan investor.
Penyumbang inflasi tertinggi adalah awang merah 0,04 persen, telur ayam 0,03 persen. Karena itu, Pemprov Jatim menggelar pasar murah untuk menurunkan harga telur dan bawang merah.
Upaya memperkuat sistem komoditas berkelanjutan di Indonesia terus dikembangkan melalui kolaborasi lintas lanskap yang melibatkan pemerintah, komunitas, dan sektor swasta.
Generasi muda sawit harus dibekali keterampilan teknis, manajerial, hingga digital sehingga mampu menghadapi tantangan industri 4.0 dan memperkuat daya saing global.
Kejaksaan Agung menetapkan 11 tersangka baru dalam kasus dugaan korupsi ekspor CPO dan produk turunannya, termasuk pejabat ASN yang menerima imbalan untuk meloloskan ekspor.
Kejaksaan Agung menetapkan 11 tersangka baru dalam kasus dugaan korupsi ekspor CPO dan produk turunannya dengan estimasi kerugian negara mencapai Rp14 triliun.
Pada kuartal IV 2025, industri tekstil dan produk tekstil tercatat tumbuh 4,37 persen secara tahunan di tengah tekanan global dan perlambatan permintaan di sejumlah negara tujuan ekspor.
Neraca perdagangan Indonesia yang tetap mencatatkan surplus sepanjang 2025 mencerminkan daya tahan sektor eksternal.
Indonesia kembali mencatatkan kinerja positif dengan mempertahankan surplus neraca perdagangan selama 68 bulan berturut-turut, di tengah kondisi ekonomi global yang tak pasti.
BPS melaporkan kinerja ekspor Indonesia sepanjang Januari hingga Desember 2025 tercatat mencapai US$282,91 miliar atau mengalami kenaikan sebesar 6,15%.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved