Kamis 28 Oktober 2021, 15:27 WIB

Kemenhub Urus Izin Komersial Pelita Air, Mau Gantikan Garuda?

Insi Nantika Jelita | Ekonomi
Kemenhub Urus Izin Komersial Pelita Air, Mau Gantikan Garuda?

Antara
Ilustrasi pekerja melakukan bongkar muat barang dari badan pesawat Garuda Indonesia.

 

KEMENTERIAN Perhubungan (Kemenhub) tengah memproses perizinan Sertifikat Operator Udara (AOC) maskapai Pelita Air Service (PAS) milik PT Pertamina (Persero), agar bisa terbang untuk tujuan komersial. 

Diketahui, maskapai tersebut digadang-gadang menjadi pengganti Garuda Indonesia sebagai maskapai nasional. Saat ini, Pelita Air memiliki dua izin, yaitu Surat Izin Usaha Angkutan Udara Niaga Berjadwal (SIUAU-NB) dan SIUAU Niaga Tidak Berjadwal atau charter.

Artinya, maskapai itu telah mengantongi sertifikat standar yang diterbitkan oleh Online Single Submission Risk Based Approach atau OSS Berbasis Risiko. "Kami masih proses sertifikasi teknis untuk AOC penerbangan berjadwal untuk Pelita Air," ujar Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub Novie Riyanto kepada Media Indonesia, Kamis (28/10).

Baca juga: Dahlan Iskan Nilai Erick Cerdas Soal Berencana Gantikan Garuda dengan Pelita Air

Lebih lanjut, Novie menyebut pihaknya tengah mengkaji sejumlah dokumen yang diajukan Pelita Air untuk penerbitan AOC. Sertifikasi itu akan menentukan nama dan lokasi atau empat usaha utama operator. Berikut, tanggal penerbitan dan masa berlaku penerbangan, hingga jenis pesawat terbang yang diizinkan untuk digunakan.

Adapun Direktur Utama Pelita Air Albert membenarkan bahwa pihaknya sudah mendapatkan izin niaga berjadwal dari Kemenhub. Serta, tengah menunggu izin pelaksanaan rute penerbangan komersil dari pemerintah. "Iya, sudah dapat izin niaga berjadwal. AOC masih dalam persiapan dan pengurusan," jelas Albert.

Baca juga: Garuda Ekspansi Jaringan Kargo ke Eropa dan Amerika

Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra enggan berkomentar lebih jauh terkait rencana Kementerian BUMN, yang bakal menggantikan posisi Garuda sebagai flag carrier dengan Pelita Air. Wacana itu sebagai buntut masalah finansial yang melilit perseroan.

"Opsi tersebut merupakan pandangan dari Kementerian BUMN selaku pemegang saham mayoritas Garuda. Dalam melihat berbagai kemungkinan melalui perspektif yang lebih luas. Atas berbagai opsi terkait langkah pemulihan kinerja Garuda," tutur Irfan beberapa waktu lalu.

Garuda memiliki utang senilai lebih dari Rp70 triliun. Perseroan juga mengalami kerugian US$2,5 miliar atau Rp36,2 triliun pada 2020 akibat pandemi covid-19. Garuda membukukan pendapatan sebesar US$1,49 miliar per 31 Desember 2020. Capaian itu merosot tajam dibandingkan periode 2019 lalu, yakni US$4,57 miliar.(OL-11)

 

 

Baca Juga

Ist

Tingkatkan Kualitas Pelayanan, PStore Komit Penuhi Kepuasan Konsumen

👤Widhoroso 🕔Senin 06 Desember 2021, 00:30 WIB
KENYAMANAN konsumen menjadi salah satu hal yang harus dipenuhi setiap perusahaan untuk bisa tetap bertahan dalam...
DOK Pribadi.

Merek Lokal Queensland Luncurkan Koleksi Terbaru

👤Mediaindonesia.com 🕔Minggu 05 Desember 2021, 23:09 WIB
Koleksi tersebut dapat ditemukan dan dibeli di toko offline yang tersebar luas di seluruh Indonesia dan tersedia pada online store yang...
Dok. Nippon Paint

Ekspansi Bisnis ke sektor Konstruksi, Nippon Paint Akuisisi Selleys dan Vital Technical

👤Ghani Nurcahyadi 🕔Minggu 05 Desember 2021, 22:10 WIB
akuisisi itu didasari potensi pasar retail SAFL dapat mencapai Rp6 Triliun per tahun berdasarkan penelitian pasar yang dilakukan secara...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya