Headline
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Kumpulan Berita DPR RI
ARAH dolar berada dalam ketidakpastian karena pasar keuangan menunggu jalur yang lebih jelas dari kebijakan Federal Reserve (Fed) AS, menurut jajak pendapat Reuters yang dikutip LKBN Antara, terhadap para analis valas yang terpecah di mana mereka memperkirakan mata uang itu akan diperdagangkan selama tiga bulan ke depan.
Pada posisi kurang menguntungkan bahkan sebelum komentar Ketua Fed Jerome Powell Jumat lalu (27/8/2021) di Jackson Hole, greenback telah kehilangan hampir 1,4 persen sejak mencapai tertinggi sembilan bulan sekitar dua minggu lalu. Tapi masih naik sekitar 3,0 persen untuk tahun ini.
Sementara para analis dalam jajak pendapat pada 30 Agustus - 2 September terhadap hampir 60 ahli strategi valas memperkirakan greenback akan menyerahkan sebagian besar kenaikan tersebut selama tahun mendatang, mereka semakin tidak yakin tentang prospek jangka pendek dan menengah.
“Ada dua kekuatan penting ketika kita melihat arah dolar. Yang pertama adalah pemulihan global dan momentum yang kita lihat baru-baru ini dan poin kedua jelas merupakan respons bank sentral terhadap hal itu,” kata Ahli Strategi Pasar Global JP Morgan Asset Management, Kerry Craig, di Melbourne.
“Karena kedua kekuatan itu bersaing saat ini, kami relatif netral tentang arah dolar AS.”
Boleh jadi Fed akan mengurangi pembelian obligasi bulanan senilai 120 miliar AS, yang diperkirakan oleh mayoritas lebih dari 75 persen dari 51 analis, akan diumumkan oleh bank sentral pada kuartal terakhir tahun ini, akan membantu imbal hasil obligasi pemerintah AS bergerak lebih tinggi.
"Pada akhirnya, kami berpikir di dunia di mana imbal hasil riil akan terus meningkat selama beberapa bulan mendatang, kemungkinan dolar positif," kata Kepala Strategi Valas Morgan Stanley, David Adams, di Amerika Utara.
"Kami terus menjadikan dolar bullish, terutama versus mata uang pendanaan dengan imbal hasil rendah - yaitu yen Jepang dan euro."
Data dari Komisi Perdagangan Berjangka Komoditas AS yang dirilis pada 27 Agustus, menunjukkan spekulan sekali lagi meningkatkan posisi net long dolar AS mereka.
Tetapi menggarisbawahi ketidakpastian yang kuat, tidak ada konsensus di antara para analis yang menjawab pertanyaan tambahan tentang bagaimana dolar akan diperdagangkan selama tiga bulan ke depan.
Meskipun 23 dari 60 ahli strategi mengatakan mereka memperkirakan mata uang akan diperdagangkan di sekitar level saat ini, 25 mengatakan secara umum lebih tinggi dan 12 sisanya memilih secara luas lebih rendah.
Sementara berpegang teguh pada pandangan lama mereka tentang melemahnya dolar selama 12 bulan, para analis menjadi skeptis.
Ditanya seberapa yakin mereka dalam pandangan itu, 62 persen ahli strategi atau 36 dari 58, mengatakan mereka tidak percaya atau tidak percaya sama sekali. Dua puluh dua memilih percaya.
Dengan sebagian besar mata uang utama diperkirakan akan menguat terhadap dolar dalam 12 bulan ke depan, euro diperkirakan naik sedikit di atas 2,0 persen untuk periode yang sama. Mata uang bersama itu turun 3,0 persen sejauh tahun ini.
Sebagian besar mata uang pasar negara berkembang juga diperkirakan melemah atau paling baik bertahan pada kisaran selama tiga hingga enam bulan ke depan, karena penarikan stimulus AS dapat mendorong investor menghindari mata uang yang disebut "lima rapuh" (fragile five) - Turki, Afrika Selatan, Brazil, India dan Indonesia - seperti yang mereka lakukan pada tahun 2013.
"Dolar cenderung melemah ketika kita memiliki banyak selera risiko, menarik uang ke pasar negara berkembang dan apa yang kita lihat baru-baru ini adalah varian Delta benar-benar mengguncang pasar Asia dan tingkat ketidakpastian itu telah diperkuat oleh perdebatan tapering," kata Kepala Strategi Valas Rabobank, Jane Foley, di London.
“Ini adalah kombinasi dari dua faktor yang telah melihat aliran ditarik kembali ke dolar. Agar dolar melemah lagi, kita harus memiliki sejumlah besar aliran masuk ke pasar negara berkembang, dan saya tidak dapat melihat itu terjadi dalam waktu dekat.” (OL-13)
Baca Juga: Dolar Turun Tertekan Kenaikan Euro
Selain faktor suku bunga, Deni menilai bahwa kondisi neraca pembayaran pemerintah juga turut memberikan tekanan.
Harga emas batangan Antam diprediksi akan melanjutkan tren kenaikan hingga mendekati level psikologis Rp2,7 juta per gram akibat sentimen positif melandainya inflasi Amerika Serikat.
Sejumlah Senator Republik berbalik melawan Trump, mengancam akan memblokir nominasi petinggi The Fed sebagai protes atas investigasi kriminal terhadap Jerome Powell.
Tiga mantan ketua The Fed, termasuk Janet Yellen, mengecam investigasi kriminal terhadap Jerome Powell. Mereka menyebut aksi pemerintahan Trump ini mengancam fondasi ekonomi AS.
Nilai tukar rupiah melemah ke level Rp16.780 per dolar AS. Pasar merespons ketidakpastian suku bunga The Fed dan invasi AS ke Venezuela.
IHSG menutup perdagangan Rabu (7/1) dengan penguatan ke level 8.944. Ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed dan stimulus Tiongkok menjadi penopang utama indeks.
PEMERINTAH memastikan isu melemahnya nilai tukar rupiah yang mendekati Rp17.000 per dolar AS menjadi perhatian dalam koordinasi tim ekonomi seraya memastikan penguatan sektor riil
Nilai tukar Rupiah hari ini 22 Januari 2026 menguat ke Rp16.900 per USD didorong sentimen Trump dan keputusan BI Rate 4,75%. Cek selengkapnya di sini.
Ketua umum Apindo Shinta Widjaja Kamdani mengaku sangat khawatir dengan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap Dolar AS yang semakin dalam pada akhir-akhir ini.
Selain faktor suku bunga, Deni menilai bahwa kondisi neraca pembayaran pemerintah juga turut memberikan tekanan.
NILAI tukar rupiah menguat 20 poin atau 0,12 persen menjadi Rp16.936 per dolar AS dari sebelumnya hampir Rp17.000 per dolar AS. Penguatan itu terjadi saat penutupan perdagangan 21 Januari 2026
Nilai tukar rupiah pada pembukaan perdagangan di Jakarta, Rabu 21 Januari 2026, bergerak menguat 1 poin atau 0,01% menjadi Rp16.955 per dolar AS.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved