Kamis 17 Juni 2021, 08:05 WIB

Wall Street Melorot Akibat Kebijakan The Fed Bingungkan Investor

mediaindonesia.com | Ekonomi
Wall Street Melorot Akibat Kebijakan The Fed Bingungkan Investor

Antara
Ilustrasi

 

TIGA indeks utama Wall Street semuanya merosot pada penutupan perdagangan Rabu atau Kamis pagi WIB (17/6), setelah para pejabat Federal Reserve (Fed) AS membuat investor bingung dengan indikasi bahwa bank sentral dapat mulai menaikkan suku bunga pada 2023, setahun lebih awal dari yang diperkirakan.

Indeks Dow Jones Industrial Average terpangkas 265,66 poin atau 0,77 persen, menjadi menetap di 34.033,67 poin. Indeks S&P 500 berkurang 22,89 poin atau 0,54 persen, menjadi berakhir di 4.223,70 poin. Indeks Komposit Nasdaq turun 33,17 poin atau 0,24 persen, menjadi ditutup pada 14.039,68 poin.

Sepuluh dari 11 sektor utama S&P 500 berakhir di zona merah, dengan sektor utilitas tergelincir 1,49 persen, memimpin penurunan. Sementara itu, sektor consumer discretionary terangkat 0,16 persen, merupakan satu-satunya kelompok yang mencatat kenaikan.

Proyeksi baru melihat mayoritas 11 dari 18 pejabat bank sentral AS mencatat setidaknya dua seperempat poin persen kenaikan suku bunga untuk tahun 2023. Para pejabat juga berjanji untuk mempertahankan kebijakan yang mendukung untuk saat ini guna mendorong pemulihan pekerjaan yang sedang berlangsung.

The Fed mengutip prospek ekonomi yang membaik, dengan pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan diperkirakan mencapai 7,0 persen tahun ini. Namun, investor terkejut mengetahui para pejabat sedang mempertimbangkan kenaikan suku bunga lebih awal dari 2024.

"Pada awalnya, plot titik yang memproyeksikan dua kenaikan pada tahun 2023 lebih hawkish dari yang diharapkan, dan pasar bereaksi seperti itu," kata Daniel Ahn, kepala ekonom AS di BNP Paribas.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS 10-tahun yang dijadikan acuan naik di tengah berita Fed, sementara indeks dolar, yang melacak greenback terhadap enam mata uang utama lainnya, naik ke puncak enam minggu.

Dengan inflasi yang meningkat lebih cepat dari yang diperkirakan dan ekonomi bangkit kembali dengan cepat, pasar telah mencari petunjuk kapan Fed dapat mengubah kebijakan yang diberlakukan tahun lalu untuk memerangi dampak ekonomi dari pandemi, termasuk program pembelian obligasi besar-besaran.

The Fed mengulangi janjinya untuk menunggu "kemajuan lebih lanjut yang substansial" sebelum mulai beralih ke kebijakan yang disesuaikan dengan ekonomi dibuka penuh. Bank sentral juga mempertahankan suku bunga acuan jangka pendek mendekati nol dan mengatakan akan terus membeli obligasi 120 miliar dolar AS setiap bulan untuk mendorong pemulihan ekonomi.

“Ketua Powell sudah memberi isyarat, sementara komite belum siap untuk tapering (pengurangan pembelian obligasi), sekarang sudah ada di pikiran komite. Mereka telah menghentikan ungkapan 'berpikir tentang memikirkan tentang tapering', dan kami berharap bahwa dalam beberapa pertemuan berikutnya, komite kemungkinan akan secara resmi memulai diskusi tentang tapering,”kata Ahn dari BNP. (Ant/OL-13)

Baca Juga: Dolar Melejit Usai Fed Menarik Kenaikan Suku Bunga ke 2023

Baca Juga

Dok.Risland Indonesia

Apartemen Masih Banjir Peminat, Risland Indonesia Buat Tower Baru di Sky House BSD+

👤Dero Iqbal Mahendra 🕔Rabu 04 Agustus 2021, 00:21 WIB
“Melihat tingginya permintaan pasar terhadap hunian apartemen, kami memutuskan untuk mulai membuka pemasaran Tower Kensington ini...
Dok. WOM Finance

Investasi Logam Mulia Masih Diminati, WOM Finance Luncurkan MasKU

👤Ghani Nurcahyadi 🕔Selasa 03 Agustus 2021, 23:48 WIB
Hadirnya produk MasKu diharapkan dapat menjadi solusi dalam memudahkan masyarakat untuk memiliki logam mulia yang...
MI/Ramdani

PLN Sebut EBT Mencapai 13 Persen Per Juni 2021

👤Mediaindonesia.com 🕔Selasa 03 Agustus 2021, 23:15 WIB
PLN akan terus berupaya memenuhi target bauran tersebut melalui pengembangan beberapa jenis pembangkit energi bersih, di antaranya...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Kenyang Janji dan Pasrah Menunggu Keajaiban

Sejak peristiwa gempa bumi disertai tsunami dan likuefaksi di Palu, Sigi, dan Donggala, Sulawesi Tengah hingga kini masih banyak warga terdampak bencana tinggal di hunian sementara.

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya