Headline

Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.  

Dow Jones Tembus 49.000 di Awal Tahun 2026, Rekor Tertinggi

Thalatie K Yani
06/1/2026 04:48
Dow Jones Tembus 49.000 di Awal Tahun 2026, Rekor Tertinggi
Ilustrasi(AFP)

WALL Street mengawali pekan penuh pertama perdagangan tahun 2026 dengan performa gemilang. Indeks Dow Jones Industrial Average berhasil mencetak rekor penutupan tertinggi baru, didorong optimisme investor yang mengabaikan ketidakpastian geopolitik global.

Pada penutupan perdagangan Senin waktu setempat, Dow Jones melonjak 595 poin atau 1,23%, berakhir di level rekor 48.977. Ini merupakan rekor tertinggi pertama bagi indeks blue-chip tersebut sejak 24 Desember 2025. Bahkan, dalam sesi perdagangan yang volatil, Dow sempat menembus angka psikologis 49.000 untuk pertama kalinya dan menyentuh level 49.200 sebelum akhirnya sedikit melandai di dua jam terakhir.

Kenaikan ini juga diikuti indeks utama lainnya; S&P 500 menguat 0,64%, sementara Nasdaq Composite yang sarat saham teknologi naik 0,69%.

Sentimen Venezuela dan Reli Sektor Energi

Pasar tampaknya tetap tangguh meski ada guncangan geopolitik menyusul penangkapan pemimpin Venezuela, Nicolás Maduro, oleh pasukan Amerika Serikat pada akhir pekan lalu. Bukannya terkoreksi, investor justru melihat peluang di tengah ketidakpastian tersebut.

“Pasar global menanggapi lonjakan risiko geopolitik terbaru ini dengan cukup tenang,” kata Karl Schamotta, kepala strategi pasar di Corpay, dalam catatannya.

Sektor energi menjadi bintang dalam reli S&P 500. Saham Chevron (CVX) melesat 5,1%, mencatatkan hari terbaiknya sejak April sekaligus memimpin penguatan di Dow Jones. Investor berspekulasi perubahan kepemimpinan di Venezuela akan membuka jalan bagi perusahaan AS untuk merombak kembali industri minyak di negara tersebut.

Sektor Finansial Turut Melaju

Selain energi, sektor finansial memberikan dorongan besar bagi bursa. Goldman Sachs (GS), yang memiliki bobot terbesar dalam indeks Dow, melonjak 3,73%. Kenaikan ini diikuti oleh JPMorgan Chase (JPM) yang naik 2,63%.

Jay Hatfield, CEO Infrastructure Capital Advisors, menilai bahwa Wall Street saat ini sedang dalam suasana "risk on" atau berani mengambil risiko. Kondisi ini secara langsung menguntungkan saham-saham perbankan besar.

Meski pasar saham reli, aset aman (safe haven) seperti emas tidak ditinggalkan. Kontrak berjangka emas di New York terpantau ikut merangkak naik sebesar 2,9%. Fenomena naiknya saham dan emas secara bersamaan menunjukkan bahwa meski optimis terhadap pertumbuhan, investor tetap melakukan lindung nilai terhadap potensi risiko ke depan. (CNN/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya