Headline
Indonesia tangguhkan pembahasan soal Dewan Perdamaian.
Kumpulan Berita DPR RI
PERGERAKAN saham emiten BUMN secara year to date (YTD) dinilai sudah terkoreksi cukup dalam. Kapitalisasi emiten BUMN tercatat turun sekitar 37,8%, sementara emiten non-BUMN hanya turun 25,4%.
Dalam lima tahun terakhir, saham BUMN bahkan dinilai memiliki kinerja lebih buruk daripada emiten non-BUMN. Ditambah lagi dengan pandemi covid-19 yang menimbulkan ketidakpastian pasar.
Pada dasarnya, koreksi ini tidak hanya dialami emiten BUMN saja. Analis Binaartha Sekuritas, M Nafan Aji Gusta Utama, mengatakan hampir semua emiten mengalami pergerakan minus pada harga sahamnya secara YTD.
Baca juga: Bos BEI: Covid-19 Tidak Halangi Perusahaan Masuk Pasar Modal
"Saat ini pemerintah lebih fokus memberikan program stimulus terhadap sektor yang paling terdampak covid-19. Mungkin salah satunya berimbas pada emiten BUMN. Komitmen pemerintah masih kuat dalam menanggulangi pandemi," ujar Nafan saat dihubungi, Senin (27/4).
Lebih lanjut, Nafan menilai pergerakan saham sangat erat kaitannya dengan sentimen pasar. Terlebih sentimen terhadap pandemi covid-19. Hal ini yang mendasari penurunan hampir seluruh emiten.
"Sentimen pasar saja yang masih belum mereda, sehingga harga saham bisa menurun," imbuh Nafan.
Baca juga: Saham Wall Street Bertumbangan Imbas Rusaknya Perekonomian AS
Hal senada juga diungkapkan Direktur Anugerah Mega Investama, Hans Kwee. Menurutnya, saat ini hampir semua emiten mengalami kondisi saham emiten BUMN. Apabila dilihat satu per satu, sebagian BUMN terutama perbankan, sangat terpukul sentimen covid-19. Mengingat, adanya potensi kredit macet dan cash flow yang diprediksi menurun.
"Kalau Garuda itu kasusnya beda. Mereka terpukul karena terdampak sejak Januari. Bahkan ada pegawai yang tidak memiliki pendapatan dari bulan tersebut. Penerbangan yang dibatalkan dari Januari sampai Februari sangat besar sekali. Baik dari domestik maupun internasional," papar Hans.
Kondisi serupa juga terjadi pada Semen Indonesia, kemudian sektor tambang, batu bara, timah, nikel dan komoditas. Hans menilai sejumlah sektor tersebut memiliki tekanan yang sama dan juga mengalami penurunan. Terkecuali Kimia Farma dan Indofarma, yang disebut memiliki kinerja baik di tengah pandemi.(OL-11)
Industri startup Indonesia yang semakin kompetitif tidak selalu memberikan ruang bertahan bagi perusahaan teknologi finansial.
IHSG Kamis pagi (5/3/2026) dibuka menguat 118,29 poin ke level 7.695,35. Simak analisis teknikal, kurs Rupiah terbaru, dan rekomendasi saham pilihan di sini.
Bursa Efek Indonesia (BEI) menyatakan pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hari ini dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, bukan karena sentimen domestik.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), pada perdagangan Rabu 4 Maret 2026, dibuka melemah.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan bergerak melemah terbatas pada perdagangan Rabu, 4 Maret 2026).
IHSG Bursa Efek Indonesia (BEI) dibuka menguat pada perdagangan Selasa (3/3) di tengah sikap pelaku pasar yang masih mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah
Dokter mengingatkan orang tua untuk melengkapi imunisasi anak minimal dua pekan sebelum mudik Lebaran.
Memahami perbedaan mendasar antara Super Flu, Influenza, dan Covid-19 bukan hanya soal ketenangan pikiran, tetapi juga tentang ketepatan penanganan medis untuk mencegah komplikasi serius.
GURU Besar Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya, Dominicus Husada, menilai penularan virus Nipah tidak sebesar kasus covid-19 yang menjadi pandemi.
Secara sederhana, zoonosis adalah penyakit infeksi yang ditularkan dari hewan vertebrata ke manusia.
Ia menjelaskan, salah satu langkah pencegahan yang dilakukan adalah melakukan vaksinasi untuk kepada masyarakat.
Bencana banjir di Sumatra memicu kritik terhadap respons pemerintah. Sosok almarhum Achmad Yurianto kembali dikenang atas perannya sebagai juru bicara pemerintah saat pandemi Covid-19.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved