Headline

Warga AS menolak kepemimpinan yang kian otoriter.

IHSG Terperosok ke Level 7.020 Imbas Eskalasi Konflik AS-Iran dan Krisis Energi

Basuki Eka Purnama
30/3/2026 10:19
IHSG Terperosok ke Level 7.020 Imbas Eskalasi Konflik AS-Iran dan Krisis Energi
Ilustrasi--Pengunjung melintas di depan layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (2/2/2026).(MI/Usman Iskandar)

INDEKS Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) dibuka melemah signifikan pada perdagangan Senin (30/3) pagi. Pelemahan ini mengikuti tren negatif bursa saham kawasan Asia seiring meningkatnya ketidakpastian global akibat konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

IHSG merosot 76,53 poin atau 1,08% ke posisi 7.020,53. Senasib, indeks kelompok 45 saham unggulan (LQ45) juga terkoreksi 11,00 poin atau 1,53% ke posisi 707,96.

Investor Ambil Sikap Wait and See

Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, menjelaskan bahwa pergerakan pasar saat ini sangat dipengaruhi oleh berita utama (headline-driven) terkait ketegangan di Timur Tengah.

“Kiwoom Research ingatkan para investor untuk masih lebih banyak menahan diri, *wait and see* menunggu perkembangan perang AS-Iran, serta data payroll AS dan data Inflasi Indonesia, serta keputusan mitigasi risiko krisis BBM yang sedianya dirilis pemerintah pekan ini,” ujar Liza dalam kajiannya di Jakarta, Senin (30/3).

Sentimen global kian memanas setelah kabar potensi penambahan 10.000 pasukan AS ke wilayah konflik. 

Di sisi lain, upaya mediasi oleh Pakistan melalui proposal perdamaian 15 poin belum membuahkan hasil signifikan karena Iran tetap menolak proposal AS, meski telah mengizinkan 20 kapal melintas di Selat Hormuz.

Ancaman Krisis Energi dan Inflasi Global

Konflik yang memasuki pekan kelima ini berdampak langsung pada pasokan energi dunia. Harga minyak mentah jenis Brent dan WTI bertahan di atas US$100 per barel akibat penutupan efektif Selat Hormuz yang biasanya menyalurkan 15-20 juta barel per hari.

UBS memprediksi dalam skenario ekstrem, harga minyak bisa menyentuh US$150 per barel. Kondisi ini dikhawatirkan memicu inflasi global di atas 4% dan mendorong resesi di wilayah AS serta Eropa.

Di dalam negeri, pemerintah terus melakukan komunikasi intensif agar pasokan energi tetap terjaga. 

Meski dua kapal tanker Pertamina (Pertamina Pride dan Gamsunoro) telah mendapat izin keluar dari Selat Hormuz, risiko terhadap ketahanan energi nasional tetap tinggi. 

Kapasitas kedua tanker tersebut hanya setara dengan 1 hingga 1,5 hari kebutuhan BBM nasional, sehingga gangguan berkepanjangan di Hormuz akan berdampak langsung pada stabilitas domestik.

Tekanan Serentak di Bursa Global

Koreksi IHSG pagi ini selaras dengan kejatuhan bursa global pada penutupan pekan lalu (27/3). Di Wall Street, indeks Dow Jones anjlok 1,73%, S&P 500 melemah 1,67%, dan Nasdaq terkoreksi 1,93%. Kondisi serupa terjadi di Eropa ketika indeks Euro Stoxx 50 dan DAX Jerman masing-masing melemah di atas 1 persen.

Pagi ini, bursa regional Asia pun memerah tajam:

  • Nikkei (Jepang): Anjlok 4,53%.
  • Hang Seng (Hong Kong): Melemah 1,71%.
  • Shanghai (Tiongkok): Turun 0,80%.
  • Strait Times (Singapura): Terkoreksi 0,29%.

Ketidakpastian ini diperparah dengan tekanan politik di internal AS, saat jutaan orang melakukan demonstrasi menentang kebijakan Presiden Donald Trump. 

Kondisi ini membuat aset aman (safe haven) seperti emas dan Yen Jepang pun gagal memberikan perlindungan maksimal, sehingga investor memilih untuk mengurangi eksposur risiko secara agresif. (Ant/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya