Headline

Pemerintah utamakan menjaga kualitas pendidikan.

IHSG Tertekan Sentimen Timur Tengah, Investor Pilih Bertahan di Aset Aman

 Gana Buana
26/3/2026 18:27
IHSG Tertekan Sentimen Timur Tengah, Investor Pilih Bertahan di Aset Aman
IHSG Tertekan Sentimen Timur Tengah(Antara)

TEKANAN geopolitik kembali menghantam pasar keuangan global. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup merosot tajam pada perdagangan Kamis sore, terseret pelemahan mayoritas bursa Asia di tengah ketidakjelasan arah negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran.

IHSG hari ini ambles 138,03 poin atau 1,89 persen ke level 7.164,09. Senada, indeks LQ45 yang berisi saham unggulan ikut terkoreksi 1,97 persen ke posisi 731,73.

Pelemahan ini tidak berdiri sendiri. Lonjakan tensi di Timur Tengah, yang melibatkan AS, Iran, dan Israel, mendorong harga minyak naik signifikan, memicu kekhawatiran baru atas inflasi global. Kondisi tersebut berpotensi menunda pelonggaran suku bunga oleh bank sentral utama dunia.

Pengamat pasar modal Elandry Pratama menilai pasar kini bergerak dalam mode waspada tinggi.

“Kenaikan harga energi akibat konflik meningkatkan risiko inflasi, sehingga ekspektasi penurunan suku bunga menjadi semakin tidak pasti,” ujarnya dilansir dari Antara, Kamis (26/3).

Ketidakpastian arah konflik juga memperbesar risiko gangguan pasokan energi global. Akibatnya, pelaku pasar cenderung menahan posisi sambil menunggu kepastian, baik dari jalur diplomasi maupun potensi eskalasi lanjutan.

Di saat yang sama, perhatian investor masih tertuju pada kebijakan Federal Reserve, terutama terkait arah inflasi dan waktu penurunan suku bunga. Kombinasi faktor geopolitik dan moneter ini membuat investor global mengambil sikap defensif.

Aksi jual investor asing pun masih berlanjut. Terlihat pula pergeseran alokasi dana dari saham bertumbuh ke sektor yang lebih tahan terhadap tekanan, seperti komoditas dan sektor defensif.

“Arus dana global mulai mengalir ke aset aman seperti dolar AS dan energi. Ini memberi tekanan tambahan bagi pasar negara berkembang, termasuk Indonesia,” kata Elandry.

Dari sisi domestik, tekanan diperparah oleh pelemahan rupiah serta kekhawatiran meningkatnya beban fiskal akibat harga energi yang tinggi.

Sepanjang hari, IHSG gagal keluar dari zona merah. Sempat dibuka menguat, indeks langsung berbalik arah dan terus melemah hingga penutupan sesi kedua.

Secara sektoral, hanya sektor transportasi dan logistik yang mampu bertahan di zona hijau dengan kenaikan 2,68 persen. Sementara itu, sektor energi mencatatkan penurunan terdalam sebesar 2,67 persen, disusul sektor industri dan bahan baku.

Pada level saham, penguatan terbesar dibukukan AYLS, KUAS, TALF, SSTM, dan SOTS. Sebaliknya, DEFI, ROCK, INDS, ICON, dan ARTA menjadi penekan utama pasar.

Aktivitas perdagangan tergolong ramai dengan frekuensi mencapai 1,72 juta transaksi. Sebanyak 31,14 miliar saham berpindah tangan dengan nilai transaksi Rp32,34 triliun. Dari seluruh saham yang diperdagangkan, 292 menguat, 380 melemah, dan 148 stagnan.

Sentimen negatif juga menyelimuti kawasan Asia. Indeks Nikkei, Shanghai, Hang Seng, hingga Straits Times kompak ditutup di zona merah, mencerminkan kekhawatiran global yang semakin meluas.

Dengan kondisi saat ini, pasar tampaknya masih akan bergerak fluktuatif, menunggu kejelasan arah konflik geopolitik dan kebijakan moneter global.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Gana Buana
Berita Lainnya