Headline

Warga AS menolak kepemimpinan yang kian otoriter.

Varian Baru Covid-19 Terdeteksi di Lebih 30 Negara, Indonesia Diminta Perkuat Surveilans

Atalaya Puspa
30/3/2026 16:25
Varian Baru Covid-19 Terdeteksi di Lebih 30 Negara, Indonesia Diminta Perkuat Surveilans
ilustrasi.(MI)

DIREKTUR Pascasarjana Universitas YARSI, Tjandra Yoga Aditama, mengungkapkan kemunculan varian baru COVID-19 BA.3.2 yang dijuluki Cicada dan kini mulai menyebar di berbagai negara.

Menurut dia, Centers for Disease Control and Prevention (CDC) telah mulai melacak varian tersebut sejak Februari 2026. Bahkan, per 19 Maret 2026, terjadi peningkatan kasus di Amerika Serikat. Kasus awal varian ini tercatat sejak Januari 2026 dan kini juga ditemukan pada hasil swab pelaku perjalanan internasional yang masuk ke negara tersebut.

Sementara itu, World Health Organization (WHO) telah memantau BA.3.2 secara global sejak Desember 2025, meskipun indikasi awal keberadaannya sudah terdeteksi di Afrika Selatan sejak November 2024. Saat ini, varian tersebut dikategorikan sebagai Variant Under Monitoring (VUM).

Tjandra menyebutkan, varian BA.3.2 telah ditemukan di lebih dari 30 negara yang secara kumulatif mencakup lebih dari 30 persen kasus global, termasuk Jepang, Kenya, Belanda, Inggris, serta Amerika Serikat.

“Indonesia perlu mengamati secara ketat perkembangan ini. Surveilans harus tetap dijaga kuat,” ujarnya, Senin (30/3).

Ia menegaskan, terdapat tiga virus pernapasan utama yang idealnya terus dipantau, yakni COVID-19, influenza, dan Respiratory Syncytial Virus (RSV).

Hal lain yang menjadi perhatian adalah ditemukannya varian BA.3.2 dalam air limbah di sejumlah negara. Temuan ini menunjukkan pentingnya penguatan surveilans berbasis lingkungan, selain pengujian pada manusia.

Tjandra menjelaskan, terdapat empat karakteristik utama varian ini. Pertama, BA.3.2 tergolong varian dengan tingkat mutasi tinggi (highly mutated). Kedua, telah terjadi antigenic drift serta penurunan kemampuan netralisasi secara in vitro.

Ketiga, vaksin covid-19 yang tersedia saat ini masih dinilai mampu mencegah penyakit berat. Karena itu, sejumlah negara tetap merekomendasikan vaksin booster, terutama bagi kelompok berisiko tinggi.

“Hal ini mungkin perlu dievaluasi juga di Indonesia untuk menentukan rekomendasi resmi,” katanya.

Keempat, gejala yang ditimbulkan pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan varian sebelumnya. Namun, pada beberapa kasus dilaporkan muncul keluhan nyeri tenggorokan yang tajam, yang dikenal dengan istilah razor blade throat. (Ata/P-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Cahya Mulyana
Berita Lainnya