Headline

Indonesia akan alihkan sebagian impor minyak mentah ke AS.

Saatnya Menangkan Indonesia

30/1/2024 21:00

KETELADANAN menjaga muruah bangsa ditunjukkan oleh KH Ahmad Mustofa Bisri, Mustasyar PBNU, di tengah kancah politik pemilu yang kian sengit. Gus Mus, demikian dia dipanggil, mengingatkan kembali agar Nahdlatul Ulama (NU) tidak kehilangan muruah dan tersesat di tiga jalur politik kuasa yang tengah bertarung. NU harus tetap pada khitah netral. Ini sudah menjadi kekhasan warga NU atau nahdliyin yang sejak lama tidak tersentralistik di satu kutub politik.

Ketika figur pimpinan organisasi NU mulai cenderung menunjukkan keberpihakan, pertanyaan ke mana NU berlabuh makin menjadi sorotan. Di titik ini, perlu ada peluit yang dibunyikan untuk mengingatkan. Perlu ada rem agar tidak kebablasan, sehingga warga NU tidak dirugikan hanya karena bahtera besar tempat mereka bernaung sibuk dengan gelombang 'copras-capres'.

Gus Mus menyuarakan hal yang esensial. Menyitir istilah kolumnis NU Mahbub Djunaidi, NU pantang doyong-doyong seperti daun bawang. Memang tidak mudah untuk berada di jalan tengah kala godaan politik kekuasaan ada di kanan kiri. Namun demikian, NU harus taat pada panggilan muruahnya demi kebaikan warganya, demi dan demi martabat bangsa.

"Urusannya NU itu memperbaiki kinerja memenangkan Indonesia, bukan memenangkan capres," kata Gus Mus saat memberikan tausiyah di acara Konferensi Besar Nahdlatul Ulama dan Halaqah Nasional Strategi Peradaban Nahdlatul Ulama di Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak, Yogyakarta, Senin (29/1/2024).

Gus Mus memang benar bahwa yang terpenting ialah memenangkan rumah besar bernama Indonesia. Dengan Indonesia menang, bangsa ini akan sejajar, terpandang, bahkan disegani di antara bangsa-bangsa lain. Dengan Indonesia menang, rakyat semakin sejahtera dan bisa memberi kontribusi besar bahkan menjadi pemain paling penting di kawasan.

Patut diingat, NU adalah ormas terbesar di Indonesia. Sejak lama, kepentingan bangsa menjadi yang terutama. Pesan Gus Mus soal netralitas karena itu patut diapresiasi dan diikuti. Lebih jauh, NU yang menjunjung netralitas bisa menjadi contoh kala karut-marut tidak netralnya para penyelenggara negara belakangan ini.

Aroma ketidaknetralan itu semakin kental terasa setelah Presiden Joko Widodo terang-terangan menyatakan ia bisa berkampanye dan memihak pasangan calon tertentu. Pernyataan itu jelas bertentangan dengan semangat Pasal 282 UU No. 7 Tahun 2017 tentang Pemilu. Di sana terdapat larangan kepada pejabat negara membuat keputusan atau melakukan tindakan yang menguntungkan atau merugikan salah satu peserta pemilu selama masa kampanye.

Publik tentu berharap suara dari Gus Mus terus menggema dan menjalar agar NU terus berada di jalur yang benar. Publik juga rindu agar pesan tersebut mampu mengetuk nurani para penyelenggara dari level tertinggi hingga desa untuk bersama-sama memenangkan Indonesia. Kalau NU yang menjadi bagian ormas saja pemimpinnya meniupkan peluit perlunya memenangkan bangsa dan negara, apalagi para pemimpin negara, mestinya jauh lebih berkepentingan memenangkan Indonesia.



Berita Lainnya
  • Mobil Mewah bukan Penentu Muruah

    03/3/2026 05:00

    SETELAH menjadi polemik, Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas’ud akhirnya mengembalikan mobil dinas mewah seharga Rp8,5 miliar ke kas daerah.

  • Saatnya Semua Menahan Diri

    02/3/2026 05:00

    SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.

  • Menambal Defisit tanpa Bebani Rakyat

    28/2/2026 05:00

    PROGRAM Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) kini berada di persimpangan jalan. Di satu sisi, ia adalah oase bagi jutaan rakyat untuk mengakses layanan kesehatan.

  • Menata Ulang Efektivitas Demokrasi

    27/2/2026 05:00

    PEMBAHASAN revisi Undang-Undang Pemilu kembali menghadirkan satu isu strategis, yakni ambang batas parlemen.

  • Krisis Ruang Digital Anak

    26/2/2026 05:00

    RUANG digital yang semula digadang-gadang sebagai wahana belajar dan berkreasi bagi generasi muda kini berubah menjadi medan yang semakin berbahaya bagi anak-anak.

  • Ungkap Otak Sindikat Narkoba

    25/2/2026 05:00

    FANDI Ramadhan adalah potret dari petaka yang disebabkan oleh narkoba.

  • Menagih Imbal Hasil Investasi Pendidikan

    24/2/2026 05:00

    Para awardee ini dibiayai miliaran rupiah untuk mendapatkan kemewahan bersekolah ke luar negeri agar mereka pulang sebagai agen perubahan yang ikut membereskan ketidakidealan tersebut.

  • Sigap Membaca Perubahan Amerika

    23/2/2026 05:00

    DUNIA sedang menyaksikan titik balik luar biasa dalam lanskap perdagangan internasional.

  • Hasil Gemilang Negosiasi Dagang

    21/2/2026 05:00

    Pemerintah perlu memastikan harmonisasi regulasi, mempercepat layanan perizinan, serta memperkuat lembaga pengawas mutu agar tidak terjadi kasus penolakan produk di pelabuhan tujuan.

  • Memitigasi Penutupan Selat Hormuz

    20/2/2026 05:00

    IRAN menutup sementara Selat Hormuz di tengah meningkatnya ketegangan dengan negara adidaya Amerika Serikat.

  • Ramadan Mempersatukan

    19/2/2026 05:00

    SEPERTI pada 2022 dan 2024, juga pada banyak tahun sebelumnya, perbedaan jatuhnya 1 Ramadan kembali terjadi di Indonesia dan sejumlah negara lain.

  • Kendalikan Harga Segera

    18/2/2026 05:00

    KENAIKAN harga bahan pokok menjelang Ramadan kembali terulang. Polanya nyaris seragam dari tahun ke tahun.

  • Imlek dan Ramadan Merajut Tenun Kebangsaan

    17/2/2026 05:00

    SUDAH lebih dari dumedia a dekade, Hari Raya Imlek berdiri tegak sebagai simbol kematangan Republik dalam merawat keberagaman.

  • Meneror Penggarong Uang Negara

    16/2/2026 05:00

    BADAN Pusat Statistik (BPS), awal Februari lalu, baru saja merilis angka pertumbuhan ekonomi yang dapat dicapai Indonesia sepanjang 2025, yakni 5,11% secara tahunan.

  • Percepat Rekonstruksi, Pulihkan Harapan

    14/2/2026 05:00

    DI antara puing-puing yang perlahan berganti struktur permanen, tersimpan doa ribuan warga terdampak bencana di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.

  • Swasembada Energi semata demi Rakyat

    13/2/2026 05:00

    SWASEMBADA pangan dan energi, itu dua janji Prabowo Subianto saat membacakan pidato pelantikannya sebagai presiden pada 2024 lalu.