Headline

RI tetap komitmen perjuangkan kemerdekaan Palestina.

Aplaus untuk Hukuman Maksimal Koruptor

15/10/2020 05:00

INDONESIA sejatinya punya reputasi tak bagus soal pemberian hukuman bagi pelaku korupsi alias koruptor. Pengadilan di Indonesia ‘terlalu baik hati’ menghukum pelaku kejahatan luar biasa ini.

Kebaikan itulah yang barangkali menjadi musabab mengapa seperti sama sekali tidak ada efek jera yang membuat orang mesti berpikir dua kali untuk menilap uang negara. Kebaikan yang tidak baik itu ibarat pupuk yang membuat korupsi tumbuh subur di negeri ini.

Indonesia Corruption Watch (ICW) baru-baru ini merilis catatan buruk terkait hukuman bagi koruptor itu. Menurut penelitian mereka, ratarata vonis yang diberikan kepada para koruptor hanya tiga tahun. Data tersebut diperoleh selama kurun waktu Januari-Juni 2020 atawa semester I-2020. Bandingkan dengan total kerugian negara akibat kasus korupsi dalam kurun waktu yang sama yang mencapai Rp39 triliun. Bagai langit dan bumi.

Menjadi amat wajar ketika pada Senin (12/10) lalu majelis hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) pada PN Jakarta Pusat me nebar vonis penjara seumur hidup kepada empat terdakwa kasus korupsi PT Asuransi Jiwasraya, publik bersorak. Tim jaksa dan majelis hakim diapresiasi. Mereka dianggap mampu melepaskan diri dari ‘kutukan’ tuntutan dan vonis ringan yang selama ini kerap membelenggu.

Bara perang melawan korupsi yang sebelumnya mulai kehabisan harapan, seperti menemukan momentum untuk kembali menyala. Penuntutan dan vonis hukuman maksimal diharapkan dapat menjadi ‘kebiasaan’ baru dalam laku kejaksaan dan pengadilan saat menghadapi kasus korupsi. Ini utamanya untuk kasus-kasus rasywah dengan nilai dan menimbulkan kerugian yang besar bagi negara.

Peraturan Mahkamah Agung (Perma) pun sebetulnya sudah mengatur soal itu. Dalam Perma disebutkan koruptor yang korupsi Rp100 miliar atau lebih, dihukum maksimal penjara seumur hidup atau penjara 16 hingga 20 tahun. Artinya, ketika peraturan sudah tersedia, momentum pun sudah ada, semestinya tidak ada alasan lagi bagi pengadilan memberikan hukuman ringan bagi para terdakwa kasus korupsi di kemudian hari.

Pesan ini pun selayaknya berlaku bagi pengadilan- pengadilan tingkat lanjutan di atas pengadilan negeri. Kita tahu, putusan majelis hakim di pengadilan tingkat pertama belumlah inkrah ketika si terdakwa mengajukan banding hingga kasasi. Publik ingin majelis hakim di tingkat mana pun punya kesamaan perspektif tentang penjeraan, atau dalam bahasa vulgarnya mungkin mereka perlu memiliki tingkat kesadisan yang sama dalam menghukum koruptor.

Bukan cerita bohong bila selama ini, bahkan akhir-akhir ini beberapa kali terjadi, ada istilah diskon hukuman di pengadilan tingkat lanjutan. Alih-alih memperkuat vonis hukuman bagi koruptor di tingkat pertama dan tingkat banding, Majelis Hakim MA di level kasasi justru me ringankan vonis hukuman dan bahkan memvonis bebas koruptor yang telah terbukti melakukan tindak pidana korupsi. Di awal mereka jera, di ujung mereka juara.

Ini seharusnya mengingatkan kita semua bahwa upaya pemberantasan korupsi mesti dilakukan serius, bukan cuma pura-pura serius. Korupsi tak bakal mati jika kita hanya terusmenerus menarasikan bahwa korupsi ialah kejahatan luar biasa, tetapi senyatanya ditangani dengan cara biasa-biasa saja.

Vonis untuk empat terdakwa kasus korupsi PT Asuransi Jiwasraya harus dijadikan preseden sekaligus spirit seluruh penegak hukum di negeri ini. Sejatinya efek jera hanya bisa dicapai jika koruptor dituntut dan divonis hukuman maksimal tanpa perlu lagi diskon, korting hukuman, atau sejenisnya.



Berita Lainnya
  • Meneruskan Ambang Batas Parlemen

    03/2/2026 05:00

    KUALITAS demokrasi suatu bangsa selalu berbanding lurus dengan kesehatan partai politik.

  • Tindak Aksi Kemplang Pajak

    02/2/2026 05:00

    DI saat gonjang-ganjing yang terjadi di pasar modal Indonesia belum tertangani secara tuntas, kita kembali disuguhi berita buruk lain di sektor ekonomi.

  • Benahi Bursa Efek Indonesia

    31/1/2026 05:00

    KEPUTUSAN mengundurkan diri Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Iman Rachman, Jumat (30/1), pantas diapresiasi.

  • Jangan Ulangi Kasus Hogi

    30/1/2026 05:00

    DALAM beberapa hari terakhir, ruang publik kembali diharubirukan oleh dua kasus yang melibatkan aparat penegak hukum.

  • Memangkas BBM Subsidi Berbasis Keadilan

    29/1/2026 05:00

    PEMERINTAHAN di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dan Wapres Gibran Rakabuming Raka mulai menyentuh bola panas, yakni mengutak-atik bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi.

  • Menunggu Bukti Aksi Purbaya

    28/1/2026 05:00

    BEA cukai dan pajak merupakan tulang punggung penerimaan negara. Dari sanalah roda pemerintahan dan negara mendapatkan bahan bakar untuk bergerak.

  • Gaji Kecil bukan Pembenar Aksi Korup

    27/1/2026 05:00

    Jika dihitung secara sederhana, gaji bupati Rp5,7 juta per bulan selama lima tahun masa jabatan hanya menghasilkan sekitar Rp342 juta.

  • Lalai Mencegah Bencana

    26/1/2026 05:00

    NEGERI ini agaknya sudah berada pada kondisi normalisasi bencana. Banjir setinggi perut orang dewasa? Normal. Tanah longsor menimbun satu kampung? Normal.

  • Akhiri Menyalahkan Alam

    24/1/2026 05:00

    BANJIR lagi-lagi merendam Jakarta dan daerah penyangganya, Bekasi dan Tangerang.

  • Pencabutan Izin bukan Ajang Basa-basi

    23/1/2026 05:00

    PENCABUTAN izin 28 perusahaan membuka peluang bagi pemulihan lingkungan pascabencana Aceh dan Sumatra.

  • Mewaspadai Pelemahan Rupiah

    22/1/2026 05:00

    PELEMAHAN nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dalam beberapa bulan terakhir bukan sekadar fenomena singkat.

  • Akhiri Biaya Politik Tinggi

    21/1/2026 05:00

    Korupsi tersebut adalah gejala dari penyakit sistemik yang belum juga disembuhkan, yakni politik berbiaya tinggi.

  • Cermat dan Cepat di RUU Perampasan Aset

    20/1/2026 05:00

    PEMBERANTASAN korupsi di Republik ini seolah berjalan di tempat, bahkan cenderung mundur.

  • Mitigasi Dampak Geopolitik Efek Trump

    19/1/2026 05:00

    PERTENGAHAN minggu ini, satu lagi kebijakan agresif Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mulai berlaku. Mulai 21 Januari, Trump menghentikan proses visa dari 75 negara.

  • Jangan Remehkan Alarm Rupiah

    17/1/2026 05:00

    PASAR keuangan Indonesia sedang mengirimkan sinyal bahaya. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus mengalami tekanan hebat sejak pergantian tahun. 

  • Aset Dirampas, Koruptor Kandas

    16/1/2026 05:00

    SECERCAH harapan tentang akan hadirnya undang-undang tentang perampasan aset kembali datang.