Headline
Kasus kuota haji diperkirakan merugikan negara Rp622 miliar.
Kumpulan Berita DPR RI
APA lagi yang lebih menyakitkan di alam demokrasi ini selain terkuaknya perselingkuhan antara lembaga penyelenggara pemilihan umum (pemilu) dan partai politik peserta pemilu?
Celakanya, fakta menyedihkan itu yang kini terjadi di Indonesia. Komisioner KPU ditangkap KPK karena terbukti menerima suap ratusan juta rupiah yang diduga berasal dari petinggi parpol. Suap itu dicurigai sebagai pemulus pengurusan pergantian antarwaktu (PAW) anggota DPR RI dari fraksi partai pemenang pemilu.
Penyelenggara pemilu dan parpol, keduanya tiang demokrasi. Demi kukuhnya bangunan demokrasi, dua tiang itu mestinya tegak dalam posisi dan fungsi masing-masing. Karena itu, ketika mereka malah enteng berselingkuh, menggadaikan integritas dan profesionalitas demi sesuatu yang jauh dari spirit demokrasi, tidak salah bila publik merasa amat kecewa.
Rakyat kecewa karena kepercayaan mereka, terutama kepada KPU, dilukai. Padahal, demokrasi mensyaratkan adanya kepercayaan (trust). Kepercayaan ibarat fondasi utama praktik demokrasi. Begitu kepercayaan itu retak, bangunan demokrasi bakal limbung, bahkan bisa ambruk bila keretakan tak segera dibenahi.
Pada titik itulah kredibilitas KPU dipertaruhkan. Mereka mesti cepat berbenah untuk memulihkan kepercayaan publik. Terlebih hanya dalam hitungan bulan, KPU bakal punya hajat besar, yakni pilkada serentak. Jangan sampai kasus rasuah yang menimpa lembaga penyelenggara pemilu pada akhirnya merusak pula kepercayaan rakyat terhadap pemilu.
Namun, sejatinya dalam kasus ini, pertaruhannya bukan hanya di KPU. Telunjuk publik juga akan mengarah ke KPK. Betul-betul seriuskah mereka mengusut suap di KPU sampai mengejar sumber dana suap tersebut?
Beranikah mereka mengusik Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), partai pemenang pemilu yang salah satu elitenya, Sekjen Hasto Kristiyanto diduga menjadi sumber aliran dana suap?
Harus diakui, dua kali operasi tangkap tangan (OTT) oleh KPK terhadap Bupati Sidoarjo dan Komisioner KPU Wahyu Setiawan, tempo hari, cukup melegakan masyarakat. KPK periode sekarang yang semula diragukan banyak orang, rupanya masih bergigi. Belum genap sebulan, dua kasus korupsi sudah mereka singkap sekaligus menangkap tangan tersangkanya.
Akan tetapi, bergigi belum tentu bernyali. Kasus suap KPU akan menjadi ujian penting bagi keberanian KPK. Bila KPK tak punya keberanian, publik jangan pernah bermimpi kasus ini bakal tuntas. Jika KPK bernyali ciut, mungkin pengusutannya hanya akan berhenti di Wahyu Setiawan dan mengabaikan kemungkinan yang lain.
Kekhawatiran publik bahwa KPK jeri berhadap-hadapan dengan parpol besar setidaknya terlihat pada Kamis (9/1) ketika mereka batal menggeledah Kantor DPP PDIP di Jalan Diponegoro, Jakarta, dengan alasan yang bermacam-macam versi. Pun kisah di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) Jakarta, kemarin, ketika penyidik KPK yang kabarnya ingin menangkap Hasto di sebuah acara di lokasi itu, tapi batal.
Cerita-cerita seperti itu bila tak segera diklarifikasi dengan aksi, pasti akan membuat KPK terlihat kehilangan nyali. Tidak bisa tidak, KPK mesti cepat bertindak agar penafsiran publik tak semakin liar. Segera periksa nama yang terlibat. Apalagi, yang sudah santer disebut dan menjadi pembicaraan publik.
Sampirkan dulu rasa takut, sungkan, atau apa pun. Sungguh tak elok bila KPK membiarkan nama-nama yang dianggap terlibat itu tanpa pemeriksaan karena ujungnya justru bisa menjadi fitnah bagi yang bersangkutan. Pemeriksaan akan memberi kepastian hukum sekaligus klarifikasi bagi yang namanya disebut-sebut terlibat dalam kasus itu.
Ini contoh gamblang korupsi yang mencederai demokrasi. Pengusutan kasus suap di KPU hingga tuntas setuntas-tuntasnya oleh KPK setidaknya akan membuat luka demokrasi akibat cedera itu tak semakin menganga.
BAGAIMANAPUN dampak situasi global saat ini, pemerintah harus bisa memastikan mudik Lebaran berlangsung aman dan lancar.
PEMERINTAH sejatinya lahir untuk melindungi, memberi kepastian, dan mewujudkan kesejahteraan bagi rakyatnya.
Stok BBM untuk 21 hari yang selama ini disebut sebagai standar buffer operasional semestinya tidak dipandang sebagai zona aman.
LAILA Fathiah, dengan nama panggung Fadia Arafiq, menjadi kepala daerah kedelapan hasil pilkada serentak pada 2024 lalu yang ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
NEGARA akhirnya menunjukkan taringnya di jagat digital yang kian sulit dikendalikan.
TEPAT sepekan lalu, negara superpower Amerika Serikat (AS) bersama sekondannya, Israel, membombardir Iran.
PENANGKAPAN Bupati Pekalongan Fadia Arafiq oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali menegaskan satu hal, bahwa praktik korupsi di daerah bukanlah peristiwa tunggal
DUNIA kembali berdiri di tepi pusaran krisis. Ketidakpastian global menjelma menjadi badai yang sulit diprediksi arahnya.
PERANG di Timur Tengah telah berlangsung selama lebih dari tiga hari. Dampaknya mulai dirasakan oleh berbagai negara di dunia, termasuk Indonesia.
SETELAH menjadi polemik, Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas’ud akhirnya mengembalikan mobil dinas mewah seharga Rp8,5 miliar ke kas daerah.
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
PROGRAM Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) kini berada di persimpangan jalan. Di satu sisi, ia adalah oase bagi jutaan rakyat untuk mengakses layanan kesehatan.
PEMBAHASAN revisi Undang-Undang Pemilu kembali menghadirkan satu isu strategis, yakni ambang batas parlemen.
RUANG digital yang semula digadang-gadang sebagai wahana belajar dan berkreasi bagi generasi muda kini berubah menjadi medan yang semakin berbahaya bagi anak-anak.
FANDI Ramadhan adalah potret dari petaka yang disebabkan oleh narkoba.
Para awardee ini dibiayai miliaran rupiah untuk mendapatkan kemewahan bersekolah ke luar negeri agar mereka pulang sebagai agen perubahan yang ikut membereskan ketidakidealan tersebut.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved