Kamis 26 Desember 2019, 05:05 WIB

Rayakan Natal Nyalakan Harapan

Administrator | Editorial

KABAR baik di hari yang penuh kasih. Misa Natal di berbagai kota Indonesia berlangsung aman dan lancar. Dengan dilandasi semangat toleransi yang tinggi, hampir seluruh elemen bangsa ikut larut dalam kesemarakan Natal. Tak cuma menyeru, mereka juga ikut menjaga agar Natal kali ini benar-benar dapat dirayakan umat Nasrani dengan khidmat dan damai.

Sebelumnya, memang ada penolakan dari sekelompok masyarakat di sejumlah daerah terhadap perayaan Natal. Memprihatinkan di satu sisi. Namun, di sisi yang lain kita mesti yakin bahwa gerakan-gerakan seperti itu hanyalah riak yang jika kita bisa membendungnya dengan baik, tidak bakal menggoyahkan bangunan utuh kebinekaan negeri ini.

Fakta tersebut sekali lagi membuktikan bahwa sesungguhnya fondasi toleransi keagamaan bangsa ini masih cukup kuat untuk menahan gelombang-gelombang liar yang belakangan kerap datang merisak. Itulah cermin kecil Indonesia, yakni tentang bagaimana indahnya saling menghargai perbedaan dan mensyukuri keragaman. Inilah gambaran Indonesia, negara yang dikenal sejak lama dengan toleransinya yang berkadar tinggi.

Natal kali ini setidaknya memberi bukti bahwa kebinekaan dan toleransi semestinya memang membawa kedamaian dan persatuan, bukan perpecahan.

Damai dan khidmatnya Natal tahun ini sekaligus mengingatkan kita untuk memuliakan keberagaman secara persisten karena itulah kekuatan utama bangsa ini melawan gerakan intoleransi saat ini ataupun nanti.

Spirit itu juga sangat relevan dengan pesan yang disampaikan Uskup Keuskupan Agung Jakarta Ignatius Kardinal Suharyo pada Misa Natal di Gereja Katedral, Jakarta, kemarin. Menurutnya, perbedaan di dalam bangsa seperti suku, bahasa, dan agama sudah ada sejak dulu. Namun, perbedaan itu dapat diselesaikan para pendiri bangsa dengan cara yang istimewa, yakni melalui Pancasila.

Suharyo menegaskan itulah yang sekarang mesti dirawat. Itulah yang sekarang harus diperjuangkan di tengah-tengah gejala baru lunturnya kebersamaan tersebut. Ada tiga hal yang ditengarai memicu lunturnya kebersamaan warga negara, yaitu ujaran kebencian, intoleransi, dan politik identitas.

Toleransi jelas tak boleh luntur. Spirit keberagaman tidak boleh sedikit pun memudar. Ingatlah bahwa kita hidup di dunia yang penuh dengan hiruk pikuk konsumerisme, korupsi di segala lini, perebutan kekuasaan, kemiskinan, kemunafikan, degradasi moral, kemalasan, dan kebodohan.

Natal sesungguhnya mengajarkan kita bahwa kekuatan toleransi dan keberagaman akan menjadi landasan kukuh untuk menghadapi tantangan-tantangan pelik itu. Perayaan Natal semestinya juga semakin kontekstual untuk sekaligus merawat dan memperkuat rasa cinta terhadap Tanah Air.

Dalam skop yang lebih luas, seperti diungkapkan Uskup Katolik Roma paling senior di Timur Tengah, Uskup Agung Pierbattista Pizzaballa, saat memimpin misa di Jerusalem, Natal bisa dimaknai pula sebagai hari untuk merayakan harapan. Sesulit apa pun masa yang kita lalui, tak pernah ada alasan untuk tidak menyalakan harapan.

Nyala harapan mesti dijaga agar mata kita tak buta sehingga mampu melihat cahaya. Obor harapan harus dijaga agar hati kita tak lekas mati sehingga bisa mendengar nurani. Selama api harapan itu kita pegang teguh, bangsa ini patut berharap kerukunan dan persaudaraan bakal tetap terpelihara, baik persaudaraan atas dasar kemanusiaan maupun persaudaraan kebangsaan.

Baca Juga

MI/Seno

PSBB Butuh Keteladanan

👤Administrator 🕔Selasa 07 April 2020, 05:05 WIB
REGULASI dibuat untuk segera dijalankan, bukan untuk...
Duta

Menanti Penerapan PSBB

👤Administrator 🕔Senin 06 April 2020, 05:45 WIB
Seluruh komponen bangsa, segenap warga negara, hendaknya bergotong royong berperang melawan covid-19 sang musuh bersama yang tidak...
MI/Duta

Mudik Membawa Maut

👤Administrator 🕔Senin 06 April 2020, 05:00 WIB
PENANGGULANGAN covid-19 jangan hanya mengandalkan usaha yang dilakukan...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya