Headline

Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.

Ganjalan Demokrasi

25/12/2019 05:05
Ganjalan Demokrasi
Editorial(MI/Tiyok)

DEMOKRASI sesungguhnya sebuah sistem yang berada di batas tipis idealisme dan omong kosong. Demokrasi butuh banyak penyangga sehingga ia bisa benar-benar menjadi atap yang menaungi kepentingan rakyat. 

Sejak zaman bangsa pencetus demokrasi, yakni Yunani Kuno, salah satu tiang penting demokrasi itu ialah politik. Mereka mewujudkan politik itu dalam faksi-faksi dan kemudian oleh bangsa modern dikembangkan lagi menjadi partai politik (parpol).

Dari situ pula jelaslah jika esensi politik ataupun parpol sesungguhnya untuk menghidupkan demokrasi. Namun, nyatanya dalam dinamika politik di Indonesia sekarang ini kita disuguhi sesuatu yang berkebalikan dari konsep ideal itu.

Alih-alih menjadi roda demokrasi, parpol justru sangat berpotensi menjadi ganjalan pengembangan demokrasi. Hal itu terjadi ketika parpol sibuk dengan konflik internal.

Contoh yang terjadi saat ini ialah konflik internal Partai Hanura yang sudah berbuntut rencana tuntutan hukum. Contoh lain ialah gejolak internal di PAN dan sebelumnya PPP.

Memang konflik internal parpol bukan hal baru di politik kita. Namun, tetap saja tidak boleh jadi permakluman. 

Parpol yang terus terjebak dalam konflik internal panjang hanya memproduksi kesia-siaan bagi rakyat. Alih-alih menjalankan fungsinya untuk menangkap aspirasi rakyat dan memperjuangkannya lewat kader-kader mereka, parpol itu justru sibuk dengan urusan rumah tangga sendiri. 

Memang kita dapat pula mengatakan kerugian terbesar justru pada parpol itu sendiri. Mereka akan kehilangan suara dari rakyat kita yang telah semakin pintar. Di Pileg 2019, Hanura pun merasakan pahitnya. Mereka nihil kursi di Senayan.

Di sisi lain, sebagaimana telah dikemukakan profesor politik dari LIPI, Siti Zuhro, salah satu penyebab maraknya konflik internal parpol ialah pelembagaan mereka yang lemah. Pernyataan itu memang tidak hanya memberi kita refleksi tajam, tetapi juga jernih ke akar konflik.

Sebagaimana yang sudah ada dalam teori, pelembagaan parpol bukan hanya soal legitimasi, melainkan juga koherensi dan akar mereka kepada rakyat. Memang kita tidak juga naif perihal lahirnya partai-partai sebagai kendaran politik sang pendiri. Namun, jika tujuan itu tidak bisa memanjangkan tangannya pada kepentingan rakyat, tidak aneh kalau batu sandungan selalu ada.

Apabila sudah demikian, sebenarnya memalukan bila para pengurus parpol tersebut masih berambisi menjadi wakil rakyat. Ketimbang bicara demokrasi, ada baiknya mereka belajar berorganisasi dahulu.

Namun, sebagai negara yang menjalankan sistem pemerintahan demokrasi, perhatian kita tentunya bukan pada apesnya satu atau dua partai. Yang patut kita cemaskan ialah hilangnya kepercayaan rakyat kepada parpol di masa depan.

Berbagai permasalahan ataupun kesalahan yang dibuat parpol bisa menggerus kepercayaan rakyat kepada  organisasi itu maupun lebih luasnya terhadap politik. Tanpa partisipasi rakyat, demokrasi bisa mandek dan berujung pada lahirnya pemerintahan yang tidak akuntabel.

Oleh karena itu, konflik internal parpol patut menjadi pelajaran semua pemangku kepentingan politik kita. Konflik-konflik tersebut harus tuntas cepat demi demokrasi yang bukan omong kosong.



Berita Lainnya
  • Memastikan Efisiensi Terukur

    03/4/2026 05:00

    KITA mafhum bahwa saat ini ruang fiskal negara tengah menghadapi ujian berat.

  • Stabilitas Harga BBM hanya Awal

    02/4/2026 05:00

    KEPASTIAN kerap menjadi barang langka di tengah gejolak global.

  • Evaluasi Pengiriman Prajurit TNI

    01/4/2026 05:00

    GUGURNYA tiga prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) dalam misi perdamaian di Libanon menjadi pukulan keras bagi Indonesia.

  • Kembalikan Akal Sehat Kasus Amsal Sitepu

    31/3/2026 05:00

    RUANG publik kembali disuguhi dinamika penegakan hukum yang menimbulkan kegelisahan.

  • Saat Tepat untuk Berhemat

    30/3/2026 05:00

    SABTU (28/3) lalu, genap satu bulan prahara di Timur Tengah berlangsung.

  • Mengawal Fajar Baru Perlindungan Anak

    28/3/2026 05:00

    MULAI hari ini, 28 Maret 2026, jagat digital Indonesia memasuki babak baru yang krusial.

  • Memetik Hasil Tata Kelola Mudik

    27/3/2026 05:00

    SETIAP musim mudik Lebaran tiba, pemerintah seolah kembali memasuki arena uji publik yang tak pernah benar-benar usai

  • Langkah Tepat Pembatalan Belajar Daring

    26/3/2026 05:00

    DI tengah langkah penghematan energi sebagai antisipasi terhadap gejolak global, pemerintah memastikan untuk tidak memberlakukan pembelajaran daring bagi para siswa.

  • Penghematan Tepat Sektor

    25/3/2026 05:00

    BERHEMAT adalah hal mutlak dalam menghadapi krisis global saat ini. Berhemat, khususnya BBM, merupakan adaptasi pertama dan minimal ketika Selat Hormuz belum juga aman.

  • Jalan Abu-Abu Status Tahanan Rumah

    24/3/2026 05:00

    PEMBERANTASAN korupsi di Indonesia kembali diuji. Di tengah persepsi publik bahwa praktik korupsi kian mengakar, langkah penegakan hukum justru dinilai melemah.

  • Privilese di KPK

    23/3/2026 05:00

    Mantan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas, atau yang akrab disapa Gus Yaqut, dilaporkan mendapatkan status tahanan rumah.

  • Memancarkan Takwa ke Sesama Manusia

    21/3/2026 05:00

    RAMADAN telah berlalu dan kini seluruh umat Islam di dunia merayakan Hari Raya Idul Fitri.

  • Peradilan Koneksitas untuk Penyiram Air Keras

    20/3/2026 05:00

    PENGUNGKAPAN identitas terduga pelaku penyiraman air keras terhadap Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) Andrie Yunus menjadi angin segar. 

  • Ujian Pengendalian Diri

    19/3/2026 05:10

    Ramadan dengan puasanya dan Nyepi dengan catur brata penyepiannya adalah dua jalan berbeda yang sama-sama menuju pada penguatan sikap pengendalian diri.

  • Kematangan Toleransi

    18/3/2026 05:00

    DALAM minggu ini, ada dua momentum besar ujian kematangan toleransi bangsa kita, yaitu Hari Raya Nyepi dan Idul Fitri 1447 Hijriah.

  • Korupsi tak Kunjung Henti

    17/3/2026 05:00

    TAK salah kiranya jika Transparency International menempatkan Indonesia di level rendah dalam pemberantasan korupsi sepanjang 2025.