Headline

Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.

Pembajak Demonstrasi

27/9/2019 05:00

DEMONSTRASI merupakan bagian dari demokrasi. Melalui demonstrasi, publik mendapatkan ruang seluas-luasnya untuk menyampaikan aspirasi. Sayangnya, demonstrasi tak jarang pula dijadikan kuda tunggangan oleh pihak-pihak yang punya kepentingan tersembunyi.

Sejak Republik ini menapaki era reformasi pada dua dekade silam, demonstrasi tak lagi menjadi barang haram. Demonstrasi kembali ke khitahnya sebagai instrumen politik yang jamak dilakukan untuk menunjukkan sikap.

Fenomena itu pula yang terjadi dalam beberapa hari ini. Dipicu pengesahan revisi Undang-Undang tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (KPK), unjuk rasa merebak di mana-mana. Demonstransi kian menjadi setelah di penghujung masa jabatannya, DPR hendak mengesahkan sejumlah revisi undang-undang yang oleh sebagian kalangan dinilai merupakan langkah mundur reformasi.

Demonstrasi akhir-akhir ini pun bukan sembarang demonstrasi. Ia menyita perhatian bangsa. Selain karena cakupannya sangat luas hampir di seluruh wilayah Indonesia, juga dilakukan mahasiswa bahkan siswa. Sudah sangat lama mahasiswa dianggap tertidur pulas dan kini mereka terbangun untuk membuat gebrakan.

Lepas dari pro-kontra terhadap sikap dan tuntutan mereka, keputusan mahasiswa turun ke jalan harus kita hormati. Kita yakin, amat yakin, mereka bergerak semata-mata didorong keinginan untuk memperjuangkan kepentingan rakyat.

Kita percaya, amat percaya, mahasiswa rama-ramai berunjuk rasa hanya untuk menjaga harapan agar reformasi tak berjalan menyimpang dan KPK tidak dilemahkan.

Betul bahwa di beberapa tempat demonstrasi mahasiswa diwarnai kerusuhan. Namun, secara umum harus kita katakan bahwa aksi mereka berlangsung elegan. Mereka menunjukkan jati diri sebagai kalangan terdidik dengan menyampaikan pendapat secara bermartabat.

Yang menjadi persoalan kemudian, demonstrasi mereka diikuti aksi-aksi susulan yang sangat mungkin tak lagi murni. Ada indikasi sangat kuat bahwa demonstrasi mahasiswa lantas dibajak kelompok-kelompok tertentu. 

Indikasi itulah yang disampaikan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto dalam jumpa pers bersama Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto dan Kapolri Jenderal Tito Karnavian di Jakarta, kemarin. 

Wiranto menyesalkan unjuk rasa mahasiswa diambil alih pihak lain yang berupaya membuat kekacauan. Wiranto bahkan menyebut para perusuh itu sedang menjalankan skenario untuk menggagalkan pelantikan presiden dan wakil presiden terpilih pada 20 Oktober mendatang.

Wiranto tentu tak asal bicara. Dia punya banyak mata dan telinga untuk melihat dan mendengar tentang dinamika politik akhir-akhir ini. Fakta di lapangan pun menguatkan dugaan adanya penumpang gelap. Aksi-aksi anarkistis yang banyak terjadi jelas bukan perbuatan mahasiswa, tetapi pasti ulah pihak-pihak yang punya maksud jahat. 

Banyak juga keanehan yang muncul. Setelah aksi besar-besaran yang dilakukan mahasiswa pada Selasa (24/9), misalnya, ratusan pelajar SMK yang sebagian membekali diri dengan beragam senjata tajam menggeruduk kawasan sekitar kompleks parlemen Senayan. 

Mereka yang masih anak-anak dan sesuai UU Perlindungan Anak harus dilindungi dari penyalahgunaan politik itu tampak beringas melakukan pelemparan dan pembakaran. Anehnya lagi, mereka tak paham apa yang sebenarnya disuarakan. Kita khawatir mereka korban dari provokasi pihak-pihak yang membajak demonstrasi.

Kita menghargai dan mengapresiasi para mahasiswa yang hingga kemarin masih berunjuk rasa di sejumlah daerah meski sebenarnya pemerintah dan DPR telah menunda revisi sejumlah undang-undang yang mereka persoalkan.

Namun, kita juga mengutuk mereka yang berunjuk rasa dengan cara-cara di luar keadaban, dan tentu saja yang dimaksud ialah para penumpang gelap. Kita mengutuk perusakan fasilitas umum, anarkistis, karena akan merugikan kepentingan bersama.

Mahasiswa harus dipisahkan dari penumpang gelap yang membajak demokrasi. Karena itu, kita mendorong Presiden Joko Widodo segera berdialog dengan pemimpin mahasiswa.

Pembajak demonstrasi merupakan musuh demokrasi. Seluruh anak bangsa wajib menutup pintu rapat-rapat buat mereka. Aparat pun harus ekstra tegas menindak sehingga kemurnian demonstrasi bisa terjaga.



Berita Lainnya
  • Memetik Hasil Tata Kelola Mudik

    27/3/2026 05:00

    SETIAP musim mudik Lebaran tiba, pemerintah seolah kembali memasuki arena uji publik yang tak pernah benar-benar usai

  • Langkah Tepat Pembatalan Belajar Daring

    26/3/2026 05:00

    DI tengah langkah penghematan energi sebagai antisipasi terhadap gejolak global, pemerintah memastikan untuk tidak memberlakukan pembelajaran daring bagi para siswa.

  • Penghematan Tepat Sektor

    25/3/2026 05:00

    BERHEMAT adalah hal mutlak dalam menghadapi krisis global saat ini. Berhemat, khususnya BBM, merupakan adaptasi pertama dan minimal ketika Selat Hormuz belum juga aman.

  • Jalan Abu-Abu Status Tahanan Rumah

    24/3/2026 05:00

    PEMBERANTASAN korupsi di Indonesia kembali diuji. Di tengah persepsi publik bahwa praktik korupsi kian mengakar, langkah penegakan hukum justru dinilai melemah.

  • Privilese di KPK

    23/3/2026 05:00

    Mantan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas, atau yang akrab disapa Gus Yaqut, dilaporkan mendapatkan status tahanan rumah.

  • Memancarkan Takwa ke Sesama Manusia

    21/3/2026 05:00

    RAMADAN telah berlalu dan kini seluruh umat Islam di dunia merayakan Hari Raya Idul Fitri.

  • Peradilan Koneksitas untuk Penyiram Air Keras

    20/3/2026 05:00

    PENGUNGKAPAN identitas terduga pelaku penyiraman air keras terhadap Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) Andrie Yunus menjadi angin segar. 

  • Ujian Pengendalian Diri

    19/3/2026 05:10

    Ramadan dengan puasanya dan Nyepi dengan catur brata penyepiannya adalah dua jalan berbeda yang sama-sama menuju pada penguatan sikap pengendalian diri.

  • Kematangan Toleransi

    18/3/2026 05:00

    DALAM minggu ini, ada dua momentum besar ujian kematangan toleransi bangsa kita, yaitu Hari Raya Nyepi dan Idul Fitri 1447 Hijriah.

  • Korupsi tak Kunjung Henti

    17/3/2026 05:00

    TAK salah kiranya jika Transparency International menempatkan Indonesia di level rendah dalam pemberantasan korupsi sepanjang 2025.

  • Ujian HAM dan Demokrasi untuk Negara

    16/3/2026 05:00

    Peristiwa itu merupakan ancaman serius terhadap demokrasi dan perlindungan hak asasi manusia (HAM) di Indone

  • Antisipasi Tepat, Mudik Selamat

    14/3/2026 05:00

    GELOMBANG mudik Lebaran selalu menjadi ujian besar bagi kapasitas negara dalam mengelola mobilitas manusia berskala besar.

  • Merawat Optimisme Publik lewat Mudik

    13/3/2026 05:00

    BAGAIMANAPUN dampak situasi global saat ini, pemerintah harus bisa memastikan mudik Lebaran berlangsung aman dan lancar.

  • Negara Hadir untuk Menenangkan

    12/3/2026 05:00

    PEMERINTAH sejatinya lahir untuk melindungi, memberi kepastian, dan mewujudkan kesejahteraan bagi rakyatnya.

  • Napas Panjang Antisipasi Perang

    11/3/2026 05:00

    Stok BBM untuk 21 hari yang selama ini disebut sebagai standar buffer operasional semestinya tidak dipandang sebagai zona aman.

  • Menajamkan Sistem Pengawasan

    10/3/2026 05:00

    LAILA Fathiah, dengan nama panggung Fadia Arafiq, menjadi kepala daerah kedelapan hasil pilkada serentak pada 2024 lalu yang ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).