Headline

Tragedi Bantargebang menjadi bukti kegagalan sistemis.

Tanah untuk Rakyat

07/9/2019 05:00

KEPEMILIKAN dan penguasaan tanah besar-besaran oleh sekelompok kecil orang telah berlangsung lebih dari tujuh periode pemerintahan.

Dalam kurun waktu tersebut, dari 42.253.234 hektare lahan yang izinnya diberikan pemerintah, hampir 95% dikuasai swasta atau perusahaan. Hanya sekitar 4,14% lahan yang benar-benar dikelola masyarakat.

Kondisi ketimpangan dalam kepemilikan lahan sudah teramat mencolok dan berlangsung sangat lama. Itu tidak bisa lagi dibiarkan. Langkah langkah koreksi kebijakan secara tepat, cepat, dan menyeluruh harus dijalankan.

Pilihan yang dapat diambil ialah mengimplementasikan program reformasi agraria. Dengan program ini, susunan pemilikan, penguasaan, dan penggunaan sumber-sumber agraria, terutama tanah, ditata kembali demi kepentingan rakyat kecil.

Pembagian Surat Keputusan (SK) Redistribusi Tanah Objek Reforma Agraria (Tora) hutan seluas 133 ribu hektare kepada 5.200 kepala keluarga di Taman Digulis Untan, Pontianak, Kalimantan Barat, Kamis (5/9), kita lihat dalam konteks itu. Penyerahan dilakukan Presiden Joko Widodo.

Seusai menyerahkan SK Tora, Presiden Jokowi menyerahkan 3.000 sertifikat tanah kepada warga Kalimantan Barat di Rumah Radakng, Pontianak. Termasuk di antara 3.000 sertifikat itu ialah 300 sertifikat tanah transmigran yang sudah ditempati sejak 2007.

Kita mencatat bukan kali itu saja Presiden membagikan sertifikat tanah kepada rakyat. Sudah puluhan atau bahkan ratusan kali Presiden melakukan hal serupa di berbagai wilayah Tanah Air.

Dalam berbagai kesempatan dan kunjungan ke daerah, Presiden tidak jemu-jemunya untuk memastikan program reformasi agraria tersebut berjalan di lapangan. Bukan hanya di atas kertas. Karena itu, Presiden pun tidak segan-segan untuk turun langsung membagikan sertifikat tanah kepada rakyat.

Konsistensi dan persistensi Presiden itu sangat kita dukung dan apresiasi. Presiden, kita lihat, menyadari benar buruknya kondisi ketimpangan atas penguasaan lahan.

Kondisi itu pun tidak jarang ikut menyulut konflik perebutan lahan antara masyarakat yang tinggal lama ataupun secara adat mempunyai hak ulayat atas tanah dengan pihak korporasi.

Apalagi, dalam lima tahun terakhir, kita mencatat progres dari program reforma agraria tersebut dapat dikategorikan sebagai pencapaian excellent.

Data dari Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional, misalnya, mencatat pada 2018 sebanyak 9.315.006 bidang tanah telah tesertifikasi. Angka itu merupakan 133% dari target yang ditetapkan. Pada 2019, pemerintah menargetkan 10 juta pencetakan sertifikat tanah gratis untuk rakyat.

Dengan progres yang ada, kita percaya, target itu bakal terlampaui. Karena itu, kita mendukung agar program yang sama diteruskan dalam periode pemerintahan Presiden Jokowi selanjutnya.

Hal ini penting untuk memastikan agar persoalan ketimpangan atas kepemilikan lahan di negeri ini dapat dikurangi semaksimal mungkin jika tidak mungkin ditiadakan sama sekali. Dengan sertifikat itu, rakyat dapat semakin diberdayakan bukan hanya secara sosial, melainkan juga secara ekonomi.

Apalagi, sertifikat itu dapat menjadi kolateral, diperjualbelikan, dan bahkan bisa diwariskan kepada anak cucu.

Kita berharap program tanah untuk rakyat ini pada gilirannya dapat pula menekan angka rasio gini yang dalam beberapa periode pemerintahan terus menggejala. Dengan demikian, keadilan sosial bagi seluruh rakyat akan dapat terwujud. Itulah amanat konstitusi yang menjadi tujuan bangsa ini.
 



Berita Lainnya
  • Menjaga Tunas Bangsa

    09/3/2026 05:00

    NEGARA akhirnya menunjukkan taringnya di jagat digital yang kian sulit dikendalikan.

  • Cegah Panik Amankan Mudik

    07/3/2026 05:00

    TEPAT sepekan lalu, negara superpower Amerika Serikat (AS) bersama sekondannya, Israel, membombardir Iran.

  • Sanksi Korupsi yang Menjerakan

    06/3/2026 05:00

    PENANGKAPAN Bupati Pekalongan Fadia Arafiq oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali menegaskan satu hal, bahwa praktik korupsi di daerah bukanlah peristiwa tunggal

  • Rapatkan Barisan Hadapi Guncangan

    05/3/2026 05:00

    DUNIA kembali berdiri di tepi pusaran krisis. Ketidakpastian global menjelma menjadi badai yang sulit diprediksi arahnya.

  • Menyiasati Krisis Energi

    04/3/2026 05:00

    PERANG di Timur Tengah telah berlangsung selama lebih dari tiga hari. Dampaknya mulai dirasakan oleh berbagai negara di dunia, termasuk Indonesia.

  • Mobil Mewah bukan Penentu Muruah

    03/3/2026 05:00

    SETELAH menjadi polemik, Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas’ud akhirnya mengembalikan mobil dinas mewah seharga Rp8,5 miliar ke kas daerah.

  • Saatnya Semua Menahan Diri

    02/3/2026 05:00

    SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.

  • Menambal Defisit tanpa Bebani Rakyat

    28/2/2026 05:00

    PROGRAM Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) kini berada di persimpangan jalan. Di satu sisi, ia adalah oase bagi jutaan rakyat untuk mengakses layanan kesehatan.

  • Menata Ulang Efektivitas Demokrasi

    27/2/2026 05:00

    PEMBAHASAN revisi Undang-Undang Pemilu kembali menghadirkan satu isu strategis, yakni ambang batas parlemen.

  • Krisis Ruang Digital Anak

    26/2/2026 05:00

    RUANG digital yang semula digadang-gadang sebagai wahana belajar dan berkreasi bagi generasi muda kini berubah menjadi medan yang semakin berbahaya bagi anak-anak.

  • Ungkap Otak Sindikat Narkoba

    25/2/2026 05:00

    FANDI Ramadhan adalah potret dari petaka yang disebabkan oleh narkoba.

  • Menagih Imbal Hasil Investasi Pendidikan

    24/2/2026 05:00

    Para awardee ini dibiayai miliaran rupiah untuk mendapatkan kemewahan bersekolah ke luar negeri agar mereka pulang sebagai agen perubahan yang ikut membereskan ketidakidealan tersebut.

  • Sigap Membaca Perubahan Amerika

    23/2/2026 05:00

    DUNIA sedang menyaksikan titik balik luar biasa dalam lanskap perdagangan internasional.

  • Hasil Gemilang Negosiasi Dagang

    21/2/2026 05:00

    Pemerintah perlu memastikan harmonisasi regulasi, mempercepat layanan perizinan, serta memperkuat lembaga pengawas mutu agar tidak terjadi kasus penolakan produk di pelabuhan tujuan.

  • Memitigasi Penutupan Selat Hormuz

    20/2/2026 05:00

    IRAN menutup sementara Selat Hormuz di tengah meningkatnya ketegangan dengan negara adidaya Amerika Serikat.

  • Ramadan Mempersatukan

    19/2/2026 05:00

    SEPERTI pada 2022 dan 2024, juga pada banyak tahun sebelumnya, perbedaan jatuhnya 1 Ramadan kembali terjadi di Indonesia dan sejumlah negara lain.