Headline
Tragedi Bantargebang menjadi bukti kegagalan sistemis.
Kumpulan Berita DPR RI
TUDINGAN negatif terkait dengan independensi lembaga penyelenggara dan pengawas pemilu yang kerap dilontarkan sebagian kalangan dalam kaitan penyelenggaraan Pemilu 2019 terbukti memang sekadar permainan persepsi dengan bumbu narasi yang terkadang amat intimidatif.
Selama ini terus dikesankan bahwa Komisi Pemilihan Umum (KPU) ataupun Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) telah dijadikan alat penguasa untuk melanggengkan kuasa. Mereka dicap tidak independen, tidak netral, bahkan disebut punya kekuatan untuk melakukan kecurangan-kecurangan yang sistematis selama pemilu demi memenangkan petahana.
Namun, sekali lagi, itu hanya persepsi. Faktanya bertolak belakang dengan yang dipersepsikan. KPU dan Bawaslu mungkin saja menyimpan masalah pada persoalan-persoalan teknis masing-masing, tetapi bukan pada independensi mereka. Boleh jadi masih ada bolong penyelenggaraan dan pengawasan di sana-sini, tapi itu bukan dalam rangka mereka sedang mengupayakan kecurangan seperti yang kini kencang dinarasikan.
Kita ambil contoh keputusan Bawaslu dalam sidang mereka kemarin yang menyatakan KPU melanggar Pasal 532 dan 536 Undang-Undang Pemilu Nomor 7 Tahun 2017 terkait dengan tata cara input data ke dalam Situng. Itu selayaknya bisa dijadikan salah satu bukti bahwa KPU ataupun Bawaslu tetap mampu menjaga profesionalitas dan independensi mereka.
Dua hal itulah yang memang paling dibutuhkan duet lembaga itu saat ini. Ketika narasi-narasi kecurangan terus dikumandangkan pihak-pihak yang sebenarnya tak siap berkompetisi, profesionalitas dan independensi lembaga yang terkait dengan penyelenggaraan pemilu akan menjadi pembeda.
Dengan modal itu, kiranya Bawaslu sudah benar. Meskipun menyatakan KPU melanggar dalam hal input data ke dalam Situng, Bawaslu tetap tidak merekomendasikan penghentian Situng. Yang direkomendasikan Bawaslu ialah KPU mesti memperbaiki atau memverifikasi ulang data yang keliru dalam Situng tersebut.
Peribahasa lama mengatakan 'jangan gara-gara seekor tikus, lumbung padi dibakar'. Yang salah diputus salah, yang benar jangan pula disalah-salahkan. Dalam konteks Situng, prinsip itu sangat perlu dipegang teguh karena bagaimanapun, keberadaan Situng penting sebagai instrumen dalam menjamin keterbukaan dan akses informasi penyelenggaran pemilu bagi masyarakat.
Apresiasi yang sama juga mesti kita berikan kepada KPU yang tetap tekun menyelesaikan rekapitulasi penghitungan suara Pemilu 2019 meski tekanan, intimidasi, dan tuduhan dalam berbagai bentuk terus menerpa. Bahkan KPU bergeming walaupun kubu Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno mengancam menarik semua saksi penghitungan suara di Pemilu 2019 dari tingkat kabupaten/kota hingga pusat.
KPU berkeyakinan sah tidaknya rekapitulasi suara menjadi tanggung jawab penuh KPU. Ada atau tidak ada saksi yang hadir, rapat pleno rekapitulasi tetap jalan. Apalagi dalam proses itu Bawaslu terus memelototinya. Justru, seharusnya proses rekapitulasi penghitungan suara di KPU menjadi panggung bagi semua pihak untuk beradu data.
Namun, inilah yang terjadi di Republik ini sekarang. Satu kubu terus melempar narasi-narasi kecurangan di ruang publik, tapi di ruang rapat tak banyak data yang bisa mereka tunjukkan. Mereka konsisten melontarkan klaim kemenangan, tetapi tidak banyak pula data yang bisa mereka sodorkan untuk membuktikan klaim tersebut.
Karena itu, sekali lagi, kita mendukung KPU untuk tetap istikamah dalam tugasnya sambil terus memperbaiki titik-titik lemah seperti yang ditemukan Bawaslu. Jika semua proses itu telah dilakukan dengan betul, dalam koridor profesionalitas dan independensi yang ketat, kiranya tak ada alasan bagi siapa pun untuk menolak hasil Pemilu 2019.
NEGARA akhirnya menunjukkan taringnya di jagat digital yang kian sulit dikendalikan.
TEPAT sepekan lalu, negara superpower Amerika Serikat (AS) bersama sekondannya, Israel, membombardir Iran.
PENANGKAPAN Bupati Pekalongan Fadia Arafiq oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali menegaskan satu hal, bahwa praktik korupsi di daerah bukanlah peristiwa tunggal
DUNIA kembali berdiri di tepi pusaran krisis. Ketidakpastian global menjelma menjadi badai yang sulit diprediksi arahnya.
PERANG di Timur Tengah telah berlangsung selama lebih dari tiga hari. Dampaknya mulai dirasakan oleh berbagai negara di dunia, termasuk Indonesia.
SETELAH menjadi polemik, Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas’ud akhirnya mengembalikan mobil dinas mewah seharga Rp8,5 miliar ke kas daerah.
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
PROGRAM Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) kini berada di persimpangan jalan. Di satu sisi, ia adalah oase bagi jutaan rakyat untuk mengakses layanan kesehatan.
PEMBAHASAN revisi Undang-Undang Pemilu kembali menghadirkan satu isu strategis, yakni ambang batas parlemen.
RUANG digital yang semula digadang-gadang sebagai wahana belajar dan berkreasi bagi generasi muda kini berubah menjadi medan yang semakin berbahaya bagi anak-anak.
FANDI Ramadhan adalah potret dari petaka yang disebabkan oleh narkoba.
Para awardee ini dibiayai miliaran rupiah untuk mendapatkan kemewahan bersekolah ke luar negeri agar mereka pulang sebagai agen perubahan yang ikut membereskan ketidakidealan tersebut.
DUNIA sedang menyaksikan titik balik luar biasa dalam lanskap perdagangan internasional.
Pemerintah perlu memastikan harmonisasi regulasi, mempercepat layanan perizinan, serta memperkuat lembaga pengawas mutu agar tidak terjadi kasus penolakan produk di pelabuhan tujuan.
IRAN menutup sementara Selat Hormuz di tengah meningkatnya ketegangan dengan negara adidaya Amerika Serikat.
SEPERTI pada 2022 dan 2024, juga pada banyak tahun sebelumnya, perbedaan jatuhnya 1 Ramadan kembali terjadi di Indonesia dan sejumlah negara lain.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved