Headline

Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.

Politik Genderuwo

12/11/2018 05:05

POLITIK kerap disebut sebagai seni kemungkinan yang dapat ditempuh untuk meraih kemenangan dan mendapatkan kekuasaan. Dalam meraih kemenangan itu para politikus mestinya hanya menempuh jalan beradab, bukan menghalalkan semua cara.

Memasuki masa kampanye Pilpres 2019, cara-cara berpolitik menghalalkan semua cara kian marak. Hal itu membuat calon presiden petahana Joko Widodo angkat bicara.

Sekurang-kurangnya ada dua kali pernyataan Jokowi yang terkait dengan hal itu. Pertama, seusai menghadiri Trade Expo di ICE, BSD, Tangerang Selatan, Rabu (24/10), Presiden mengingatkan warga agar berhati-hati karena banyak politikus yang ia sebut sebagai politikus sontoloyo.

Menurut Presiden, politik sontoloyo menggunakan politik kebencian, politik SARA, politik adu domba, dan politik pecah belah.

Tidak berhenti dengan istilah politik sontoloyo, Presiden pun kembali menyentil pihak-pihak yang diduga terus saja menghalalkan segala cara dalam berupaya meraih kemenangan politik.

Jokowi menyebut mereka dengan istilah lain, sebagai politik genderuwo. Istilah itu dilontarkan Presiden saat berpidato dalam acara pembagian sertifikat tanah untuk masyarakat Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, Jumat (9/11).

Politik genderuwo, menurut Presiden, dilakukan dengan propaganda menakut-nakuti, menimbulkan kekhawatiran, menimbulkan ketidakpastian, terakhir menjadi keragu-raguan masyarakat.

Keprihatinan Presiden itu bukan tanpa dasar. Berbagai bentuk berita palsu alias hoaks yang terus menerpa pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla ialah fakta empiris yang tidak dapat dibantah dari praktik nyata politik sontoloyo, politik genderuwo, dan politik menghalalkan segala cara.

Pernyataan Presiden terkait dengan politik sontoloyo dan politik genderuwo patut didukung. Pihak-pihak yang doyan mempraktikkan politik sontoloyo dan genderuwo itu sebaiknya segera menghentikan praktik busuk tersebut.

Para pendiri bangsa mendirikan bangsa ini melalui perjuangan, didasarkan pada nilai-nilai luhur dan cara-cara beradab. Nilai-nilai luhur dan cara-cara beradab itulah yang mestinya dilestarikan untuk mewarnai kontestasi politik saat ini, bukan politik sontoloyo dan politik genderuwo.

Lagi pula, politik sontoloyo dan genderuwo berpotensi memecah-belah NKRI dan melahirkan bom waktu konflik komunal di masa depan. Untuk Indonesia yang adil dan makmur, kita harus berpolitik dengan cara-cara yang beradab, kesatria, dan membangun optimisme, bukan menebarkan ketakutan.

Tinggalkan politik sontoloyo dan genderuwo, jauhkan Indonesia dari  pesimisme dan ketakutan. Bukan saatnya lagi mempertontonkan politik penuh tipu muslihat. Lewat media sosial, politik tipu muslihat dilancarkan dengan menebar berita bohong, hinaan, hujatan, fitnah, dan kebencian.

Jangan biarkan kontestasi pemilu disabotase politikus sontoloyo dan genderuwo. Inilah saatnya mengembalikan politik sebagai tempat tersemainya watak-watak mulia.



Berita Lainnya
  • Memastikan Efisiensi Terukur

    03/4/2026 05:00

    KITA mafhum bahwa saat ini ruang fiskal negara tengah menghadapi ujian berat.

  • Stabilitas Harga BBM hanya Awal

    02/4/2026 05:00

    KEPASTIAN kerap menjadi barang langka di tengah gejolak global.

  • Evaluasi Pengiriman Prajurit TNI

    01/4/2026 05:00

    GUGURNYA tiga prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) dalam misi perdamaian di Libanon menjadi pukulan keras bagi Indonesia.

  • Kembalikan Akal Sehat Kasus Amsal Sitepu

    31/3/2026 05:00

    RUANG publik kembali disuguhi dinamika penegakan hukum yang menimbulkan kegelisahan.

  • Saat Tepat untuk Berhemat

    30/3/2026 05:00

    SABTU (28/3) lalu, genap satu bulan prahara di Timur Tengah berlangsung.

  • Mengawal Fajar Baru Perlindungan Anak

    28/3/2026 05:00

    MULAI hari ini, 28 Maret 2026, jagat digital Indonesia memasuki babak baru yang krusial.

  • Memetik Hasil Tata Kelola Mudik

    27/3/2026 05:00

    SETIAP musim mudik Lebaran tiba, pemerintah seolah kembali memasuki arena uji publik yang tak pernah benar-benar usai

  • Langkah Tepat Pembatalan Belajar Daring

    26/3/2026 05:00

    DI tengah langkah penghematan energi sebagai antisipasi terhadap gejolak global, pemerintah memastikan untuk tidak memberlakukan pembelajaran daring bagi para siswa.

  • Penghematan Tepat Sektor

    25/3/2026 05:00

    BERHEMAT adalah hal mutlak dalam menghadapi krisis global saat ini. Berhemat, khususnya BBM, merupakan adaptasi pertama dan minimal ketika Selat Hormuz belum juga aman.

  • Jalan Abu-Abu Status Tahanan Rumah

    24/3/2026 05:00

    PEMBERANTASAN korupsi di Indonesia kembali diuji. Di tengah persepsi publik bahwa praktik korupsi kian mengakar, langkah penegakan hukum justru dinilai melemah.

  • Privilese di KPK

    23/3/2026 05:00

    Mantan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas, atau yang akrab disapa Gus Yaqut, dilaporkan mendapatkan status tahanan rumah.

  • Memancarkan Takwa ke Sesama Manusia

    21/3/2026 05:00

    RAMADAN telah berlalu dan kini seluruh umat Islam di dunia merayakan Hari Raya Idul Fitri.

  • Peradilan Koneksitas untuk Penyiram Air Keras

    20/3/2026 05:00

    PENGUNGKAPAN identitas terduga pelaku penyiraman air keras terhadap Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) Andrie Yunus menjadi angin segar. 

  • Ujian Pengendalian Diri

    19/3/2026 05:10

    Ramadan dengan puasanya dan Nyepi dengan catur brata penyepiannya adalah dua jalan berbeda yang sama-sama menuju pada penguatan sikap pengendalian diri.

  • Kematangan Toleransi

    18/3/2026 05:00

    DALAM minggu ini, ada dua momentum besar ujian kematangan toleransi bangsa kita, yaitu Hari Raya Nyepi dan Idul Fitri 1447 Hijriah.

  • Korupsi tak Kunjung Henti

    17/3/2026 05:00

    TAK salah kiranya jika Transparency International menempatkan Indonesia di level rendah dalam pemberantasan korupsi sepanjang 2025.