Headline

Indonesia akan alihkan sebagian impor minyak mentah ke AS.

Tenaga Bayu

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group
04/7/2018 05:30
Tenaga Bayu
()

PRESIDEN Joko Widodo Senin (2/7) meresmikan Pembangkit Listrik Tenaga Bayu yang ada di Kabupaten Sidrap, Sulawesi Selatan. Pembangkit listrik berdaya 75 Megawatt merupakan energi tenaga angin terbesar yang pernah ada di Indonesia. Pembangkit yang masuk jaringan Perusahaan Listrik Negara akan menerangi sekitar 150 ribu rumah penduduk.
        
Pengembangan energi baru dan terbarukan merupakan sesuatu yang harus dilakukan. Tidaklah mungkin kita terus bertumpu kepada energi fosil. Cepat atau lambat energi fosil akan habis dan kita membutuhkan energi pengganti untuk memenuhi kebutuhan warga masyarakat.
         
Sejak 2006 kita sudah menetapkan arah pengembangan energi yang harus dilakukan hingga 2025 yang akan datang. Tenaga bayu diharapkan bisa menyumbang minimal 5% dari kebutuhan energi primer kita. Kalau pada saat itu kebutuhan listrik nasional sebesar 70 ribu Mw, tenaga bayu harus bisa menyumbangkan 3.500 Mw.
          
Kita tentu hargai langkah awal yang baik ini. Hanya, perjalanan kita masih jauh karena baru 2% yang bisa disumbangkan tenaga bayu sekarang ini. Apalagi kalau kita lihat pengembangan energi baru terbarukan tidak cukup cepat.
         
Hanya tinggal 7 tahun kita menuju 2025, ketergantungan kita kepada minyak bumi masih begitu tinggi. Kebanyakan pembangkit listrik masih mengandalkan solar. Padahal pada 2025 hanya 20% yang seharusnya berasal dari minyak bumi. Sisanya 30% berasal dari gas bumi, batu bara 33%, dan energi baru dan terbarukan termasuk bayu sebesar 17%.
         
Kita memiliki banyak pilihan energi yang bisa dipakai untuk menghasilkan listrik. Kita punya matahari yang nyaris tidak pernah berkurang, panas bumi yang potensinya juga sangat besar, biofuel yang melimpah, serta sumber daya air yang ada di mana-mana, di samping juga angin.
          
Hanya saja, untuk memanfaatkan semua sumber daya itu, yang dibutuhkan pertama ialah teknologi. Kita butuh putra-putra Indonesia yang mampu mengembangkan teknologi sesuai dengan perkembangan zaman. Kedua, dukungan pemerintah bagi berkembangnya energi baru dan terbarukan. Adanya unsur penemuan dan pengembangan membuat ada 'biaya pembelajaran' atau cost of learning yang harus kita tanggung.
         
Pengalaman banyak negara, pengembangan energi baru dan terbarukan pada awalnya memakan biaya yang relatif lebih mahal. Namun, dengan perbaikan teknologi kelak didapat harga yang lebih efisien dan terjangkau oleh masyarakat. Pemerintah hadir untuk membuat bangsanya bisa mandiri memanfaatkan energi primer.
         
Kita sayangnya tidak berpandangan seperti itu. Bagi kita yang lebih diutamakan ialah efisiensi. Pemerintah hanya mengacu kepada negara-negara yang biaya energinya lebih murah. Kita tidak pernah mau peduli pada proses, yang lebih penting ialah hasilnya dengan alasan untuk kepentingan rakyat.
          
Tidak usah heran apabila pengembangan energi baru dan terbarukan tidak optimal. Dari potensi 72 ribu Mw panas bumi, misalnya, tidak lebih dari 5.000 Mw yang baru termanfaatkan. Energi surya pun tidak cukup besar pengembangannya, karena dinilai tidak feasible meski setiap hari ada 12 jam matahari yang menyinari Indonesia. Hanya tenaga air yang sudah kita manfaatkan secara baik mulai dari Asahan, Saguling, Cirata, hingga Jatiluhur.
 
Oleh karena pendekatan hanya efisiensi, banyak pembangkit listrik yang teknologinya kita beli dari luar. Kalau isu tenaga kerja dari Tiongkok merebak, salah satunya disebabkan pendekatan turn-key project yang kita terapkan. Kita tidak mau bersusah-susah dan lebih suka membeli teknologi yang sudah ada.
           
Pembangkit listrik tenaga bayu yang diresmikan Jokowi, teknologinya berasal dari Denmark. Bahkan kontraktornya dari Eropa, sedangkan pendanaannya berasal dari bank Amerika Serikat dan Jepang. Bangsa Indonesia ikut sebagai pekerja yang membangun struktur tiang beton.
          
Apakah orang Indonesia belum ada yang mampu untuk mengerjakan itu? Selalu kita katakan, anak-anak Indonesia sebenarnya tidak kalah kemampuannya. Hanya saja mereka tidak memiliki modal yang cukup dan kesempatan untuk menerapkan ilmunya.
         
Kelemahan inilah yang sebelumnya dikritik Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad. Kita ini seringkali tidak mau susahnya dan lebih memilih cara yang gampang. Kita lebih suka membeli teknologi yang sudah ada karena bisa lebih cepat dibangun dan tidak repot.
          
Mantan Presiden BJ Habibie menyebutkannya sebagai mental inferior. Kita membiarkan bangsa lain yang memenuhi kebutuhan kita. Akibatnya, secara tidak sengaja kita membiarkan berkembangnya neokolonialisme. Kita tinggal bertanya kepada diri kita sendiri, apakah kita akan terus bangga dengan karya bangsa lain atau saatnya kita membangun bangsa yang hebat? Marilah kita menjawabnya sendiri.

 

 

 

 

 



Berita Lainnya
  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.