Headline
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Kumpulan Berita DPR RI
KORUPSI memang bertampang seram menakutkan, tetapi buat sebagian orang ia terlihat molek sebagai bahan jualan. Korupsi yang menjadi musuh nomor satu bagi seluruh anak negeri bahkan menjadi komoditas untuk mempromosikan diri di luar negeri.
Adalah Prabowo Subianto yang mengangkat persoalan korupsi di Republik ini di forum internasional. Saat menjadi pembicara utama di forum The World in 2019 Gala Dinner yang dihelat majalah The Economist di Singapura, Selasa (27/12), calon presiden nomor urut 02 itu mengumbar pernyataan perihal betapa dahsyatnya korupsi merusak Indonesia.
Menurut Prabowo, isu utama di Indonesia sekarang ialah maraknya korupsi yang sudah seperti kanker stadium empat. Dia utarakan pula bahwa yang dibutuhkan Indonesia ialah membentuk tim anak bangsa terbaik dengan integritas tinggi untuk melakukan reformasi dan membentuk pemerintahan yang bersih dan antikorupsi.
The Economist ialah majalah bergengsi dan paling dipercaya para pemimpin dan pengambil keputusan dunia. Acara yang mereka gelar di Singapura pekan lalu itu pun dihadiri para pebisnis dan pemegang kebijakan papan atas.
Artinya, apa pun yang dilontarkan pembicara akan menjadi kajian dan rujukan mereka untuk membuat kebijakan. Artinya pula, pernyataan Prabowo bahwa Indonesia sedang sakit parah akibat korupsi berpotensi menjadi bahan evaluasi mereka terhadap Indonesia.
Dari sisi materi, narasi yang disampaikan Prabowo bisa jadi benar adanya. Memang, mustahil disangkal bahwa korupsi telah sedemikian ganas menggerogoti pilar-pilar bangsa. Tiada lagi sendi kehidupan di negeri ini yang masih steril dari korupsi. Tak ada satu pun organ negara yang masih imun dari korupsi. Semua, baik itu eksekutif, legislatif, maupun yudikatif, telah tercemar oleh virus mematikan bernama korupsi.
Indeks korupsi Indonesia tak juga menunjukkan perbaikan signifikan. Menurut hasil survei Transparency International pada 2017, misalnya, kita turun enam level ke peringkat ke-96 dunia. Indonesia bahkan berada di bawah Timor Leste yang merupakan bekas provinsi kita.
Dengan semua data dan fakta yang ada, mau tidak mau, suka tidak suka, kita harus mengakui bahwa korupsi di negeri ini sudah berada di stadium akut, sangat akut. Namun, kita juga mesti mengamini bahwa korupsi yang kian menggurita sekarang ialah bagian dari kegagalan rezim di masa silam dalam mencegah dan memeranginya. Pun, kita mesti jujur mengatakan pemerintahan saat ini telah berupaya keras menekan korupsi meski hasilnya belum menggembirakan.
Lebih dari itu, amat tidak bijak jika korupsi diumbar ke komunitas dunia. Korupsi ialah borok dan aib bangsa yang tak perlu diwartakan ke negara-negara tetangga.
Mengumbar korupsi ke para pebisnis dan pemimpin dunia ialah promosi sangat buruk yang bisa berdampak serius, sangat serius, bagi masa depan bangsa. Ia bisa menjadi penghalang investasi karena pada hakikatnya investor membenci negara-negara yang korup. Padahal, sejumlah lembaga pemeringkat investasi internasional telah menempatkan Indonesia pada level layak investasi.
Pantang bagi siapa pun, apalagi yang mengaku sebagai patriot bangsa, menjelek-jelekkan negara termasuk dengan menguar masalah korupsi. Terlebih jika hal itu dilakukan untuk sekadar menarik simpati dan dukungan internasional demi memenangi kontestasi politik dalam negeri. Biarkan korupsi menjadi urusan dalam negeri yang mutlak disikapi dengan kepedulian level tertinggi tanpa harus dipamer-pamerkan di luar negeri. Ia ada untuk dibasmi, bukan untuk dipolitisasi. Elok nian bila calon presiden mengumbar visi, misi, dan programnya untuk memberantas korupsi.
KITA mafhum bahwa saat ini ruang fiskal negara tengah menghadapi ujian berat.
KEPASTIAN kerap menjadi barang langka di tengah gejolak global.
GUGURNYA tiga prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) dalam misi perdamaian di Libanon menjadi pukulan keras bagi Indonesia.
RUANG publik kembali disuguhi dinamika penegakan hukum yang menimbulkan kegelisahan.
SABTU (28/3) lalu, genap satu bulan prahara di Timur Tengah berlangsung.
MULAI hari ini, 28 Maret 2026, jagat digital Indonesia memasuki babak baru yang krusial.
SETIAP musim mudik Lebaran tiba, pemerintah seolah kembali memasuki arena uji publik yang tak pernah benar-benar usai
DI tengah langkah penghematan energi sebagai antisipasi terhadap gejolak global, pemerintah memastikan untuk tidak memberlakukan pembelajaran daring bagi para siswa.
BERHEMAT adalah hal mutlak dalam menghadapi krisis global saat ini. Berhemat, khususnya BBM, merupakan adaptasi pertama dan minimal ketika Selat Hormuz belum juga aman.
PEMBERANTASAN korupsi di Indonesia kembali diuji. Di tengah persepsi publik bahwa praktik korupsi kian mengakar, langkah penegakan hukum justru dinilai melemah.
Mantan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas, atau yang akrab disapa Gus Yaqut, dilaporkan mendapatkan status tahanan rumah.
RAMADAN telah berlalu dan kini seluruh umat Islam di dunia merayakan Hari Raya Idul Fitri.
PENGUNGKAPAN identitas terduga pelaku penyiraman air keras terhadap Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) Andrie Yunus menjadi angin segar.
Ramadan dengan puasanya dan Nyepi dengan catur brata penyepiannya adalah dua jalan berbeda yang sama-sama menuju pada penguatan sikap pengendalian diri.
DALAM minggu ini, ada dua momentum besar ujian kematangan toleransi bangsa kita, yaitu Hari Raya Nyepi dan Idul Fitri 1447 Hijriah.
TAK salah kiranya jika Transparency International menempatkan Indonesia di level rendah dalam pemberantasan korupsi sepanjang 2025.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved