Headline
Pemerintah tetapkan 1 Ramadan pada Kamis, 19 Februari 2026.
Kumpulan Berita DPR RI
Sebuah kelompok LSM dan peneliti memperingatkan, pada tahun 2021 para pemimpin di lebih dari 100 negara dan wilayah – yang mewakili sebagian besar hutan dunia – berjanji untuk menghentikan dan memulihkan hilangnya hutan pada tahun 2030. Namun, penilaian tahunan yang dirilis pada Selasa (24/10) menunjukkan bahwa deforestasi global sebenarnya meningkat sebesar empat persen pada tahun lalu, dan dunia masih jauh dari jalur untuk memenuhi komitmen tahun 2030.
“Tujuan tahun 2030 tersebut tidak hanya bagus untuk dicapai, tapi juga penting untuk menjaga iklim yang layak huni bagi umat manusia,” Erin Matson, penulis utama Forest Declaration Assessment memperingatkan. Hutan tidak hanya merupakan habitat utama bagi kehidupan hewan namun juga berperan sebagai pengatur penting iklim global dan spons karbon yang menyedot emisi yang dihasilkan aktivitas manusia. Namun, deforestasi tahun lalu lebih tinggi 20% dari yang seharusnya untuk memenuhi janji para pemimpin itu, dengan hilangnya 6,6 juta hektar hutan, yang sebagian besar merupakan hutan primer di wilayah tropis.
Penilaian tersebut, yang diawasi sejumlah kelompok lingkungan hidup dan organisasi penelitian, juga memperingatkan bahwa degradasi hutan masih merupakan masalah besar. Degradasi mengacu pada berbagai dampak buruk, termasuk kebakaran hutan dan hilangnya keanekaragaman hayati, yang berdampak pada kesehatan hutan secara keseluruhan. “Data dari tahun ke tahun cenderung berubah. Jadi satu tahun bukanlah segalanya, akhir dari segalanya,” kata Matson. “Tetapi yang paling penting adalah trennya. Dan sejak baseline tahun 2018 hingga 2020, kita menuju ke arah yang salah.”
Penilaian tersebut tidak terlalu suram, karena ada sekitar 50 negara yang diperkirakan akan mengakhiri deforestasi. Secara khusus, Brasil, Indonesia, dan Malaysia mengalami "kemajuan dramatis” dalam mencegah deforestasi. Namun, laporan tersebut memperingatkan bahwa kemajuan tersebut berisiko. Keberhasilan Indonesia sebagian terkait dengan moratorium deforestasi, namun terdapat kekhawatiran bahwa undang-undang baru mengenai cipta kerja dapat melemahkan komitmen tersebut. Di Brasil, meski ada minat baru untuk melindungi Amazon, ekosistem penting lainnya – sabana Cerrado – malah menjadi target eksploitasi.
Laporan tersebut memuji peraturan baru yang diperkenalkan oleh Uni Eropa yang bertujuan untuk memblokir impor komoditas yang mendorong deforestasi. Namun mereka menyerukan tindakan global yang lebih kuat, termasuk lebih banyak dana untuk melindungi hutan, dan diakhirinya subsidi pada sektor-sektor seperti pertanian yang mendorong deforestasi. “Dunia mengalami kerusakan hutan yang berdampak buruk pada skala global,” kata Fran Price, pimpinan hutan global WWF. “Sejak janji global dibuat, kawasan hutan tropis seluas Denmark telah hilang.”
Laporan ini muncul sebelum negara-negara bertemu untuk membicarakan krisis iklim bulan depan. Namun penggundulan hutan sepertinya tidak akan menjadi prioritas dalam diskusi mengenai energi terbarukan dan masa depan bahan bakar fosil. “Kami ingin menjadikan alam dan hutan sebagai agenda utama. Kami khawatir hal-hal tersebut tidak termasuk dalam agenda kami,” kata Price.(AFP/M-3)
Dalam satu tahun terakhir, Delonix Hotel Karawang menjalankan program keberlanjutan terstruktur yang mengacu pada kerangka kerja berbasis sains dari EarthCheck.
Di tengah tekanan deforestasi, perubahan iklim, dan tuntutan pasar terhadap komoditas berkelanjutan pemerintah dan pelaku usaha kehutanan mulai menggeser paradigma pengelolaan hutan.
Kemajuan ilmu pengetahuan modern telah membawa banyak progres dalam pengelolaan kehutanan dan lingkungan.
Pemerintah mencabut izin 28 perusahaan kehutanan dan non-kehutanan di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat terkait pelanggaran hukum dan kerusakan lingkungan.
Kapolda Riau Irjen Herry Heryawan, menegaskan bahwa manusia memiliki kewajiban moral tanpa batas untuk menjaga kelestarian alam
Muslimat NU dan Kementerian Lingkungan Hidup RI menandatangani MoU untuk memperkuat gerakan pelestarian lingkungan berbasis masyarakat melalui program Mustika Darling.
Ilmuwan temukan empat spesies baru "springtail" di Cagar Alam Yintiaoling, Tiongkok. Meski sekecil butiran beras, makhluk ini punya peran besar bagi kesehatan tanah.
Analisis global terhadap 31.000 spesies pohon mengungkap tren mengkhawatirkan: spesies pohon yang tumbuh lambat mulai punah, digantikan pohon cepat tumbuh yang rapuh.
Indonesia menegaskan komitmen dalam melindungi keanekaragaman hayati dunia melalui penguatan hutan adat, perlindungan satwa liar, dan pemberantasan kejahatan satwa.
Tak hanya penting untuk aktivitas warga kota, Tebet Eco Park juga menjadi habitat bagi para satwa. Di antaranya adalah burung, reptil, hingga amfibi.
Senyawa alami memiliki keragaman struktur kimia dan mekanisme aksi yang menjadikannya sumber utama dalam pengembangan agen preventif penyakit kronis.
"Kami melihat akar masalah sesungguhnya adalah perusakan ekosistem hulu sampai hilir dari daerah aliran sungai dan kelalaian tata ruang yang terjadi secara sistematik,”
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved