Headline

Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.

Lahan Basah Harus Jadi Sumber Biodiversitas dan Ekonomi Pesisir

Cahya Mulyana
06/2/2026 21:43
Lahan Basah Harus Jadi Sumber Biodiversitas dan Ekonomi Pesisir
hutan basah.(dok.istimewa)

MENTERI Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni menegaskan pentingnya perlindungan dan pengelolaan lahan basah berbasis pengetahuan tradisional. Raja Antoni berharap lahan basah menjadi kawasan dengan biodiversitas tinggi dan menjadi sumber ekonomi untuk masyarakat pesisir.

“Kita berharap Lahan basah bukan hanya tanah yang basah, tetapi kawasan dengan biodiversitas yang sangat tinggi, sumber ekonomi yang baik, sekaligus memiliki kemampuan penyerapan karbon yang sangat besar,” ujar Menhut Raja Antoni di Kawasan Konservasi Mangrove dan Bekantan, Kalimantan Utara

Hal ini disampaikan Raja Antoni dalam peringatan Hari Lahan Basah Sedunia dengan mengusung tema ‘Lahan Basah dan Pengetahuan Tradisional: Merayakan Warisan Budaya’. Dalam acara turut dihadiri Head of Development Cooperation and Counsellor, Embassy of Canada to Indonesia Ms. Alice Birnbaum, Gubernur Kalimantan Utara Zainal A. Paliwang dan jajaran Kementerian Kehutanan.

Raja Antoni mengatakan kemajuan ilmu pengetahuan modern telah membawa banyak progres dalam pengelolaan kehutanan dan lingkungan. Namun, kearifan lokal tetap memiliki peran strategis sebagai sumber pengetahuan yang harus diakui dan dirayakan.

“Masyarakat kita sejak dulu sudah sangat terbiasa dengan sistem pasang surut, sistem pertanian di lahan basah, hingga memahami pola migrasi burung di kawasan basah sejak zaman nenek moyang,” jelasnya.

“Hal-hal seperti ini perlu kita institusionalisasikan untuk melengkapi riset-riset yang dilakukan oleh universitas dan lembaga-lembaga kita,” sambungnya.

Lebih lanjut, dia menegaskan komitmen Indonesia sebagai anggota Konvensi Ramsar, dengan telah mendaftarkan delapan situs lahan basah penting. Indonesia, lanjutnya, dianugerahi kekayaan lahan basah yang luar biasa, sehingga perlu adanya kerja sama dan kolaborasi semua pihak baik nasional maupun internasional.

“Sekitar 23 persen mangrove dunia berada di Indonesia, dan kita juga memiliki gambut tropis terbesar di dunia. Ini adalah titipan dari Tuhan Yang Maha Kuasa yang harus kita jaga bersama-sama,” tuturnya.

Pada kesempatan yang sama, Head of Development Cooperation and Counsellor, Embassy of Canada to Indonesia Alice Birnbaum mengatakan pihaknya bangga dapat bekerja sama dengan Kementerian Kehutanan. Ia juga mengaku berkomitmen untuk terus memperkuat ekosistem mangrove dan masyarakat pesisir.

“Mangrove ini tidak hanya indah tapi juga diakui secara global sebagai penopang keanekaragaman hayati dan pondasi bagi ekosistem. Canada sangat bangga dapat bermitra dengan Kementerian Kehutanan dan banyak pihak lainnya. Kami berkomitmen untuk melindungi ekosistem sekaligus memperkuat masyarakat pesisir. Kita di sini hadir ini menjadi babak baru menuju keberlanjutan,” ujar Alice. (Ant/P-3)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Cahya Mulyana
Berita Lainnya