Headline

Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.

Program M4CR Perkuat Rehabilitasi Mangrove di Kalimantan

Despian Nurhidayat
28/2/2026 21:33
Program M4CR Perkuat Rehabilitasi Mangrove di Kalimantan
Kementerian Kehutanan memperkuat rehabilitasi ekosistem mangrove melalui Program Mangroves for Coastal Resilience (M4CR).(Kemenhut)

Kementerian Kehutanan melalui Direktorat Jenderal Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Rehabilitasi Hutan (PDASRH) terus memperkuat rehabilitasi ekosistem mangrove di kawasan pesisir melalui Program Mangroves for Coastal Resilience (M4CR).

Direktur Rehabilitasi Mangrove PDASRH, Nikolas Nugroho Surjobasuindro, menegaskan rehabilitasi mangrove perlu dilakukan dengan pendekatan yang tidak hanya berfokus pada aspek ekologis, tetapi juga memperhatikan keberlanjutan penghidupan masyarakat pesisir.

“Rehabilitasi mangrove tidak hanya bertujuan memulihkan ekosistem pesisir, tetapi juga memastikan masyarakat tetap dapat menjalankan aktivitas ekonomi secara berkelanjutan. Pendekatan silvofishery memungkinkan mangrove tumbuh kembali tanpa mengganggu kegiatan budidaya tambak masyarakat,” ujarnya.

Program M4CR di Kalimantan Utara yang didukung World Bank itu menargetkan rehabilitasi mangrove seluas 5.579 hektare hingga akhir 2026. Tahapan awal dimulai melalui penandatanganan Surat Perjanjian Kerja Sama (SPKS) dengan 11 kelompok masyarakat di Kabupaten Bulungan dan Tana Tidung untuk penanaman mangrove di area tambak seluas 653 hektare.

Manager M4CR Kalimantan Utara mengatakan kerja sama tersebut menjadi langkah awal implementasi program di lapangan.

“Kami memastikan seluruh tahapan berjalan sesuai standar teknis dan target luasan yang telah ditetapkan, dengan tetap memperhatikan kesiapan kelompok dan kondisi lokasi,” ujarnya.

Pendekatan silvofishery memungkinkan rehabilitasi dilakukan tanpa menghentikan aktivitas tambak masyarakat. Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Mahakam Berau menilai pola tersebut mampu menjaga keseimbangan antara pemulihan lingkungan dan produktivitas ekonomi.

“Rehabilitasi mangrove dapat berjalan seiring dengan keberlanjutan usaha tambak. Mangrove tumbuh, dan kegiatan budidaya tetap berlangsung,” jelasnya.

Secara kumulatif, rehabilitasi mangrove di Kalimantan Utara telah mencapai 6.543 hektare dengan melibatkan 45 kelompok masyarakat dan 2.115 warga pesisir, serta penanaman lebih dari 5,6 juta bibit mangrove.

Di Kalimantan Timur, program difokuskan pada kawasan pesisir Delta Mahakam melalui integrasi rehabilitasi mangrove dan penguatan kapasitas masyarakat. Manager M4CR Kalimantan Timur, Asman Azis, menyebut program ini menunjukkan hasil nyata.

“Untuk tahun 2026 ini rencana target capaian M4CR Kalimantan Timur adalah penanaman 2.813 hektare di Kutai Kartanegara dan 262 hektare di Berau, sekolah lapang livelihood bagi 24 kelompok masyarakat, sekolah lapang silvofishery bagi 10 kelompok, serta penyaluran matching grant kepada 24 kelompok masyarakat,” kata Asman.

Manfaat program juga dirasakan langsung oleh masyarakat pesisir. Ketua Kelompok Pengolah dan Pemasar (Poklahsar) Pesona Wanita Pesisir Desa Saliki, Hj. Suliati, mengatakan bantuan matching grant membantu meningkatkan kapasitas usaha kelompoknya.

“Kami berterima kasih kepada M4CR yang telah memberikan bantuan modal sebesar 150 juta rupiah untuk usaha kelompok kami. Bantuan tersebut kami gunakan untuk merenovasi rumah produksi dan membeli peralatan untuk menunjang produksi olahan udang,” tuturnya.

Melalui pendekatan partisipatif yang mengintegrasikan kepentingan ekologi dan ekonomi, program M4CR diharapkan dapat mempercepat pemulihan ekosistem mangrove sekaligus memperkuat ketahanan pesisir dan kesejahteraan masyarakat. (E-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Andhika
Berita Lainnya