Headline

Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa. 

Mangrove Impact Fellowship 2026: Perkuat Kolaborasi Global Demi Kelestarian Pesisir

Basuki Eka Purnama
14/2/2026 19:54
Mangrove Impact Fellowship 2026: Perkuat Kolaborasi Global Demi Kelestarian Pesisir
Mangrove Impact Fellowship 2026(MI/HO)

YAYASAN Mangrove Indonesia Lestari sukses menyelenggarakan Mangrove Impact Fellowship 2026, sebuah inisiatif global yang mempertemukan individu-individu berdedikasi untuk memperkuat konservasi ekosistem mangrove. 

Perhelatan yang berlangsung pada 7 hingga 12 Februari 2026 ini diikuti oleh 14 peserta dari berbagai negara, mulai dari Inggris, Prancis, Maroko, hingga negara-negara Asia Tenggara seperti Vietnam, Myanmar, dan tuan rumah Indonesia.

Acara resmi dibuka pada 7 Februari oleh Direktur Rehabilitasi Mangrove dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Nikolas Nugroho S, S.Hut., M.T.

Dalam sambutannya, Nikolas menekankan bahwa ekosistem mangrove memiliki peran krusial yang memerlukan kerja sama lintas sektor dan negara. 

Senada dengan hal tersebut, Pendiri Yayasan, Paundra Hanutama, memberikan wawasan melalui kuliah daring mengenai pentingnya kemitraan internasional dalam praktik lingkungan yang berkelanjutan.

Inovasi Teknologi dan Workshop Berkelanjutan

Memasuki hari ketiga pada 10 Februari, fokus beralih pada penguatan kapasitas melalui workshop praktik berkelanjutan di Artotel Gelora Senayan. 

Para peserta tidak hanya belajar teori, tetapi juga melihat langsung aplikasi teknologi dalam konservasi melalui peluncuran Platform Mandara milik KLHK di Merlyn Park Hotel.

Paundra Hanutama menegaskan urgensi platform digital tersebut dalam upaya pemulihan lingkungan. 

"Platform ini akan menjadi alat penting untuk meningkatkan upaya konservasi di seluruh Indonesia, khususnya dalam restorasi mangrove,” ujarnya.

Aspek kolaborasi lintas budaya juga diperdalam melalui sesi bersama Audrey Utoyo, News Anchor WORLD TVRI dan pembicara dari Harvard University. 

Audrey menyoroti tantangan bekerja di lingkungan multikultural serta pentingnya membangun kemitraan jangka panjang untuk mencapai tujuan konservasi global.

Aksi Nyata di Pulau Tidung Kecil

Puncak dari fellowship ini adalah kegiatan lapangan yang berlangsung pada 11 hingga 12 Februari di Kawasan Konservasi Pulau Tidung Kecil. 

Di lokasi ini, para peserta terjun langsung melakukan penanaman mangrove dan aktivitas monitoring untuk mendapatkan pengalaman praktis dalam pengelolaan lingkungan yang bertanggung jawab.

Kegiatan ini turut diperkaya oleh perspektif dari para konsultan keberlanjutan seperti Aditi Jadhav (Schiller International University Paris) dan Bayu Pamungkas (IPB University) yang berbagi tips mengintegrasikan praktik hijau ke dalam kehidupan sehari-hari.

Membangun Masa Depan Konservasi

Program ini ditutup pada 12 Februari dengan pemberian penghargaan kepada para peserta. 

Andi Dala Jemma, S.Pi., M.P, Kepala Pusat Budidaya dan Konservasi Laut (PBKL), mengapresiasi sinergi yang tercipta selama acara berlangsung.

"Melalui fellowship ini, saya menyaksikan dampak mendalam yang dapat kita ciptakan terhadap lingkungan ketika kita bekerja bersama melintasi batas negara," ungkap Andi.

Sebagai penutup, Paundra Hanutama optimistis inisiatif ini akan melahirkan pemimpin lingkungan masa depan. 

"Ini baru permulaan. Kami bertujuan untuk terus membina generasi baru pemimpin lingkungan yang siap memimpin perubahan dalam konservasi mangrove di seluruh dunia,” pungkasnya. (Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya