Headline
“Damai bukan sekadar absennya perang. Ia adalah kebajikan,” tulis filsuf Baruch Spinoza.
“Damai bukan sekadar absennya perang. Ia adalah kebajikan,” tulis filsuf Baruch Spinoza.
Kumpulan Berita DPR RI
ASOSIASI Psikologi Amerika (APA) memberikan 10 rekomendasi bagi pendidik, pembuat kebijakan, perusahaan teknologi dan orangtua terkait panduan penggunaan media sosial pada remaja. Panduan itu bertujuan agar remaja bisa menggunakan teknologi secara aman dan positif.
Salah satu panduannya yakni orangtua diharap memantau anaknya yang memasuki usia remaja saat menggunakan media sosial untuk meminimalkan paparan terhadap cyberbullying, ujaran kebencian dan konten yang menyebabkan mereka membandingkan penampilan fisik mereka dengan orang lain.
Orangtua pun diminta untuk mengawasi penggunaan media sosial pada anak-anak usia 10 hingga 14 tahun. Dilansir dari The New York Times, psikolog di Children's National Hospital di Washington DC Laura Gray mengatakan umur 10-14 tahun merupakan masa yang penting bagi orangtua untuk mengajarkan kebiasaan baik.
Caranya bisa dengan membatasi penggunaan media sosial, misalkan hanya memperbolehkan satu aplikasi selama enam bulan pertama atau lebih. Orangtua kemudian meninjau unggahan dan permintaan pertemanan dengan anak mereka.
Gray menyadari akan sulit mengawasi secara intens. Namun, tidak sulit rasanya jika meluangkan waktu lima menit sehari untuk meninjau penggunaan media sosial oleh anak.
Kepala Privasi Common Sense Media Girard Kellt menambahkan orangtua harus mengatur penggunaan media sosial bersifat private dan mengatur konten apa saja yang boleh dilihat. Ini perlu dilakukan melihat aplikasi media sosial dirancang untuk mempelajari semua hal dan konten yang dipersonalisasi sehingga membuat anak-anak dan remaja ketagihan.
Orangtua juga perlu melakukan pengaturan durasi dan waktu penggunaan media sosial. Orangtua harus menerapkan aturan tidak boleh ada gawai kepada anak mereka setelah jam 9 malam atau benar-benar tidak ada gawai pada malam hari. Hal ini perlu dilakukan untuk mendapatkan jam tidur setidaknya delapan atau sembilan jam.
Psikolog Jean Twenge yang telah menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk mengampanyekan dampak media sosial terhadap kesehatan mental remaja menekankan pembatasan penggunaan gawai pada malam hari. Twenge merekomendasikan agar semua anggota keluarga meletakkan ponsel mereka di ruang bersama pada malam hari.
"Kita tahu dari begitu banyak penelitian tentang tidur bahwa orang tidak akan tidur nyenyak, atau selama mungkin, jika ponsel mereka berada dalam jangkauan tangan," kata Twenge.
Remaja mungkin akan menentang batasan-batasan semacam ini, terutama jika orangtua mencoba untuk menerapkannya secara retroaktif. Dalam kasus-kasus seperti itu, akan sangat membantu jika para orangtua dapat memberikan alasan pembatasan merupakan rasa kasih sayang.
Ketua Departemen Neurologi di University of Pennsylvania sekaligus penulis The Teenage Brain, Frances Jansen, mengungkap bagian tengah otak, yang ia gambarkan sebagai "otak sosial" secara aktif berkembang selama masa remaja dan paling rentan terhadap pengaruh dari luar. Namun, bagian depan otak yang mengelola hal-hal seperti pengambilan keputusan, mitigasi risiko dan pengaturan emosi, berkembang dengan baik hingga usia 20-an.
Baca juga: Terlalu Banyak Aplikasi Buat Gawai Jadi Rentan Diretas
Jensen mendesak orangtua untuk berbicara dengan anak-anak mereka tentang perubahan otak ini dan bagaimana perubahan tersebut membuat mereka sangat rentan terhadap beberapa efek negatif dari media sosial. Semua konten dan stimulasi yang tersedia secara online sangat mudah diakses oleh anak-anak saat otak sosial mereka sedang berkembang.
Para ahli juga menekankan orangtua untuk mendorong dialog terbuka seputar media sosial di sepanjang kehidupan anak-anak. Para remaja sering kali berasumsi orangtua mengajukan pertanyaan tentang penggunaan media sosial untuk menindak atau mengambil ponsel mereka.
Psikolog anak dan remaja di Rumah Sakit Anak Hassenfeld di NYU Langone, Becky Lois, mengatakan orangtua perlu melakukan pendekatan tersendiri.
"Kita perlu membantu anak-anak memahami mengapa muncul pertanyaan tersebut. Pertanyaan ini tidak bersifat menuduh, mengkritik atau menghakimi. Katakan dengan sangat jelas bahwa Anda bertanya karena ingin tahu tentang aspek kehidupan mereka, bukan karena mereka sedang dalam masalah," saran Lois.
Ia menyadari remaja mungkin tidak jujur atau tidak ingin membicarakannya dengan orangtua, tetapi tugas orangtua adalah terus bertanya. Lois menambahkan penting bagi orangtua untuk terhubung dengan anak mereka.
"Selain itu, untuk memastikan bahwa mereka tahu orangtua tempat yang aman untuk membicarakan apa yang mereka lihat," ucapnya.(channelnewsasia/M-4)
Penggunaan gawai justru memutus kebutuhan stimulasi tersebut karena sifatnya yang searah. Anak cenderung hanya menjadi peniru pasif tanpa memahami makna di balik kata-kata yang didengar.
Jika orangtua melarang anak bermain ponsel namun mereka sendiri sibuk dengan perangkatnya, hal itu akan mengirimkan pesan yang bertentangan bagi anak.
Anak-anak adalah peniru ulung yang belajar dari apa yang mereka lihat sehari-hari.
Perlindungan ruang digital memerlukan langkah komprehensif yang mencakup edukasi publik dan penguatan kapasitas pengguna dalam memahami risiko siber.
Selain AI, gim daring populer seperti Roblox dan Minecraft juga dinilai menghadirkan risiko karena anak-anak sering kali sulit membedakan antara dunia gim dan realitas.
Aktivitas fisik dan sosial tidak hanya efektif mengalihkan perhatian dari layar, tetapi juga mendorong perkembangan interaksi anak dengan lingkungan sekitar.
Individu yang terjebak dalam adiksi judi memerlukan terapi medis karena adanya kerusakan struktur otak yang serupa dengan penyalahgunaan narkoba.
Motivasi setiap orang memulai perjudian sangat beragam, mulai dari sekadar iseng, tekanan lingkungan, hingga dorongan karakter pribadi.
Pakar FKUI Prof. Ari Fahrial Syam jelaskan bahaya tramadol jika disalahgunakan tanpa resep dokter. Simak gejala adiksi seperti tremor hingga gelisah di sini.
Cara seseorang merespons tekanan mental sangat menentukan apakah mereka akan terjatuh ke dalam jerat kecanduan atau tidak.
Efek jangka pendek dari menghirup gas ini adalah penonaktifan Vitamin B12 secara instan. Padahal, vitamin tersebut memegang peranan vital dalam menjaga integritas sistem saraf manusia.
WHO menyebut lebih dari 100 juta orang kini menggunakan rokok elektrik termasuk sedikitnya 15 juta anak usia 13–15 tahun.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved