Headline

Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.

Kecanduan Judi Online Merusak Otak, Butuh Terapi Medis Layaknya Pecandu Narkoba

Basuki Eka Purnama
18/3/2026 10:36
Kecanduan Judi Online Merusak Otak, Butuh Terapi Medis Layaknya Pecandu Narkoba
Ilustrasi--Warga melihat iklan judi online melalui gawainya di Bogor, Jawa Barat, Rabu (26/6/2024).(ANTARA/Yulius Satria Wijaya)

KECANDUAN judi, termasuk judi online, bukan sekadar masalah perilaku atau ekonomi semata, melainkan gangguan kesehatan serius yang berdampak langsung pada fisik otak. 

Kepala Departemen Psikiatri RSUPN dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM), Dr. dr. Kristiana Siste, SpKJ(K), menegaskan bahwa individu yang terjebak dalam adiksi judi memerlukan terapi medis karena adanya kerusakan struktur otak yang serupa dengan penyalahgunaan narkoba.

Menurut Kristiana, aktivitas berjudi memicu lonjakan dopamin, zat kimia otak yang bertanggung jawab atas rasa senang dan penghargaan, secara berlebihan. Dampaknya, bagian otak tertentu mengalami malfungsi.

“Orang berjudi itu harus diterapi secara medis, karena perilaku judi yang adiktif itu menimbulkan kerusakan pada otak, terutama di area bagian kiri depan, area prefrontal cortex yang berguna untuk mengambil keputusan,” ujar Kristiana, dikutip Rabu (18/3_.

Dampak Kerusakan Otak dan Cognitive Error

Kerusakan pada prefrontal cortex ini sangat fatal bagi kendali diri seseorang. 

Ketika bagian ini terganggu, individu akan mengalami kesalahan berpikir atau cognitive error. Akibatnya, mereka kehilangan kemampuan untuk mengambil keputusan secara logis dan cenderung terus berjudi meskipun sudah mengalami kerugian besar.

Kristiana menyoroti bahwa meskipun judi tidak melibatkan zat kimia yang masuk ke tubuh seperti narkotika, efek kerusakannya terhadap saraf otak tetaplah nyata. 

“Jadi ternyata perilaku judi itu walaupun tidak ada zat yang masuk ke dalam tubuh, tapi dia merusak otak sama seperti narkoba merusak otak,” imbuhnya.

Mengatasi Akar Masalah Psikologis

Dalam proses penanganan, tim medis tidak hanya fokus pada penghentian perilaku judinya. Kristiana menjelaskan bahwa sering kali ada masalah emosi mendasar yang memicu adiksi tersebut, seperti rendahnya kepercayaan diri (self-esteem), depresi, atau kecemasan.

Ia mencontohkan kasus remaja yang merasa tidak berharga dalam kehidupan sosialnya. Saat menang judi, ia mendapatkan validasi instan. 

“Anak yang self-esteem rendah biasanya gampang depresi, gampang cemas. Dengan judi itu dia dapat validasi kalau dia itu punya power dan dia punya *skill* dan dia punya kelebihan. Jadi dia tidak menghentikan judi itu karena di situ membuat dirinya merasa berharga,” jelasnya.

Solusi Medis dan Angka Pemulihan

Kabar baiknya, kecanduan judi dapat disembuhkan melalui kombinasi beberapa modalitas terapi medis:

  1. Cognitive Behavioral Therapy (CBT): Terapi perilaku untuk memodifikasi pola pikir yang salah.
  2. Farmakologi: Pemberian obat-obatan untuk menstabilkan kadar dopamin agar otak bisa pulih.
  3. Transmagnetic Stimulation (TMS): Pemberian gelombang elektromagnetik langsung pada otak untuk memperbaiki area yang rusak.

Berdasarkan penelitian, kombinasi ketiga terapi ini memberikan harapan besar dengan tingkat pemulihan (*recovery rate*) di atas 85 persen dalam waktu sekitar tiga bulan. 

Kristiana mengimbau keluarga pasien untuk tidak menyerah dan mengabaikan stigma sosial. Penanganan dini sangat krusial karena dampak judi tidak hanya dirasakan pelaku. 

“Kerugian bukan hanya dialami oleh orang yang berjudi, tapi enam orang di sekitar Anda akan mengalami kerugian juga. Kalau Anda datang berobat kemudian mengalami penyembuhan, maka enam orang di sekitar Anda juga akan lebih berbahagia,” tutupnya. (Ant/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik