Headline
Pelibatan tokoh dan elite politik akan memperkuat legitimasi kebijakan pemerintah.
Pelibatan tokoh dan elite politik akan memperkuat legitimasi kebijakan pemerintah.
Kumpulan Berita DPR RI
SEBENTAR lagi, umat muslim akan menjalani ibadah puasa Ramadan. Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, bulan puasa selalu menjadi momen spesial yang disambut meriah oleh berbagai masyarakat di penjuru Nusantara.
Layaknya semboyan “Bhinneka Tunggal Ika” yang bermakna berbeda-beda tetapi tetap satu, perbedaan ragam suku dan budaya tidak menjadi penghalang bagi masyarakat Indonesia untuk merayakan datangnya bulan suci dengan berbagai keunikan tradisi masing-masing.
Tradisi-tradisi yang luhur tersebut sudah ada sejak ratusan tahun dan masih terpelihara sampai sekarang. Seperti dilansir dari berbagai sumber, berikut 5 tradisi unik menyambut bulan suci Ramadan di Indonesia:
Sadranan atau yang lebih dikenal dengan Nyadran merupakan salah satu tradisi berupa aktivitas ziarah ke kuburan leluhur menjelang bulan puasa. Ini menjadi sebuah kegiatan wajib bagi masyarakat Islam Jawa Kejawen khususnya di Provinsi Jawa Tengah.
Dilansir dari laman resmi Kebudayaan Provinsi DI Yogyakarta, Nyadran merupakan hasil dari perpaduan antara beberapa kepercayaan yang menghasilkan kepercayaan baru antara Hindu, Islam dan Jawa.
Saat menjalankan tradisi Nyadran, masyarakat akan membersihkan makam yang umumnya dilakukan di pedesaan, setelah itu mereka menaburkan bunga, air dan kemenyan lalu diakhiri dengan membuat upacara keselamatan berupa kenduri di makam leluhur.
Suro’baca atau suru maca tradisi jelang Ramadan yang masih terpelihara di Makassar ini selalu dilakukan turun temurun di kalangan suku Bugis. Acara ini biasanya dilakukan pada akhir bulan Sya’ban atau H-7 sampai dengan satu hari menjelang bulan Ramadan.
Keluarga yang masih memegang teguh tradisi ini akan berkumpul di salah satu rumah anggota keluarga. Acara makan bersama sekaligus silahturahmi ini biasanya diisi dengan menyantap hidangan bersama yang terbuat dari ayam hingga ikan dan berbagai hidangan tradisional khas Makassar. Setelah itu, mereka berdoa bersama dan diakhiri dengan ziarah ke makam para leluhur.
Tradisi Nyorog yang menjadi identitas masyarakat Betawi merupakan aktivitas tahunan dalam membagikan bingkisan kepada saudara-saudara sebelum memasuki bulan puasa. Tradisi ini umumnya berawal dari anggota keluarga termuda yang mengunjungi saudara-saudaranya yang lebih tua dan orang yang dituakan di kampungnya, kemudian mereka membagikan bingkisan berupa sembako dan makanan khas Betawi.
Dahulu, bingkisan yang dibagikan ketika melakukan Nyorog diletakkan di dalam rantang yang terbuat dari anyaman daun pandan. Namun, seiring perkembangan zaman, kini masyarakat betawi menggunakan rantang besi atau kotak makan untuk membagikan bingkisan Nyorog. Makanan khas Betawi yang sering dibagikan saat tradisi Nyorog di antaranya adalah sayur gabus pucung, ikan bandeng, dan olahan daging kerbau.
Meugang menjadi salah satu tradisi tahunan dalam menyambut bulan puasa yang sudah ada sejak masa Kerajaan Aceh, yakni sekitar tahun 1607-1636 Masehi. Kala itu, Sultan Iskandar Muda memotong hewan dalam jumlah besar dan membagikan dagingnya kepada seluruh rakyat Aceh sebagai ungkapan rasa syukur dan tanda terima kasih kepada rakyatnya.
Hal tersebut menjadi awal mula tradisi ini diadopsi hingga mengakar di antara masyarakat. Meugang biasanya dijalankan dengan memasak daging dalam jumlah besar dan menyantapnya bersama keluarga, kerabat, dan anak-anak yatim piatu. Tak jarang daging yang sudah dimasak dibagikan masjid untuk dimakan oleh tetangga dan warga lain, sehingga semua orang dapat merasakan kebahagiaan melalui sedekah dan kebersamaan.
Tradisi yang awal mulanya berasal dari sebuah permainan ini menjelma sebagai tradisi turun-temurun yang mengakar di masyarakat dayak. Tradisi ini merupakan aktivitas menyalakan obor dalam menyambut bulan Ramadan khususnya selama sepuluh malam terakhir di bulan Ramadan.
Keriang merupakan serangga penyuka cahaya yang diambil dari Bahasa Pontianak, sementara Bandong artinya berbondong-bondong atau beramai-ramai. Maka Keriang Bandong bisa diartikan sebagai kebiasaan warga yang ramai-ramai mencari cahaya dengan menyalakan obor dari bambu kecil dengan sumbu, atau lilin.(kemendikbud/kemenagsulsel/kebudayaanjogjakarta/senibudayabetawi/M-4)
Lewat “Ramadhan Thrift & Share”, DETA menjual baju bekas layak pakai dengan menggunakan platform media sosial (medsos)
Kegiatan ini bertujuan menguatkan ukhuwah Islamiyah serta memperkuat sinergi dan silaturahmi antar rekan seprofesi yang tergabung dalam INI dan IPPAT.
Kalau zakat bisa berubah jadi beras, biaya sekolah, atau modal kecil buat hidup sebulan ke depan, ya kenapa harus ditahan?
DT Peduli kembali menggelar program Ramadan Peduli Negeri (RPN) 2026 dengan tema Teguhkan Kepedulian untuk Saudaramu di Pelosok dan Lintas Negeri.
Sebagai Lembaga Amil Zakat Nasional, Laznas Yakesma terus menjunjung tinggi prinsip transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan dana zakat, infak, dan sedekah.
RAMADAN selalu datang dengan misi yang sama: jeda dari hiruk-pikuk kehidupan, kesempatan menata ulang batin, dan panggilan untuk memurnikan relasi manusia dengan Tuhan dan sesamanya
WARGA Desa Balongdowo, Kecamatan Candi, Kabupaten Sidoarjo, dan sekitarnya, menggelar tradisi nyadran menjelang datangnya bulan suci Ramadan, Minggu (8/2).
Tradisi Nyadran atau Sadranan yang digelar masyarakat Jawa setiap bulan Ruwah (Sya'ban) menjelang Ramadan, sejatinya bukan hanya peristiwa kebudayaan dan spiritual semata.
Menjelang bulan suci Ramadan 2026, denyut kehidupan masyarakat Jawa kembali diwarnai oleh kesibukan spiritual yang khas.
Di tengah modernisasi yang terus bergulir hingga tahun 2026 ini, masyarakat Jawa tetap memegang teguh tradisi leluhur yang sarat akan makna spiritual dan sosial.
Warga berpartisipasi dalam tradisi Nyadran Pepunden di Dusun Kebondalem, Kemiri, Kaloran, Temanggung, Jawa Tengah.
Tradisi Nyadran Seribu Kupat di Temanggung
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved