Headline
Transparansi data saham bakal diperkuat demi kerek bobot RI.
Kumpulan Berita DPR RI
MENJELANG bulan suci Ramadan 2026, denyut kehidupan masyarakat Jawa kembali diwarnai oleh kesibukan spiritual yang khas. Tradisi Nyadran, atau sering disebut Sadranan, bukan sekadar ritual ziarah kubur biasa. Ini adalah manifestasi dari rasa syukur, penghormatan kepada leluhur, dan momentum mempererat tali persaudaraan (ukhuwah) antarwarga.
Meskipun zaman telah beralih ke era digital yang serba cepat, tradisi ini tetap lestari dan bahkan menjadi daya tarik wisata religi yang kuat. Bagi Anda yang ingin menyaksikan atau mendalami kekayaan budaya ini, berikut adalah ulasan mendalam mengenai daerah-daerah yang melaksanakan tradisi Nyadran dengan tata cara yang paling ikonik dan khidmat di tanah Jawa.
Secara etimologi, Nyadran berasal dari bahasa Sanskerta 'Sraddha' yang berarti keyakinan. Dalam perkembangannya setelah masuknya Islam, istilah ini berakulturasi menjadi tradisi menyambut bulan Sya'ban (bulan Ruwah dalam kalender Jawa). Inti dari Nyadran adalah tiga rangkaian utama: pembersihan makam leluhur, doa bersama (tahlil), dan kenduri atau makan bersama (kembul bujana).
Di tahun 2026 ini, Nyadran semakin relevan sebagai pengingat akan akar budaya di tengah modernitas. Berikut adalah pemetaan wilayah yang masih memegang teguh tradisi ini.
Kabupaten dan Kota Magelang dikenal sebagai salah satu pusat perayaan Nyadran yang paling meriah namun tetap sakral. Lokasi yang paling terkenal adalah area Gunung Tidar.
Jika Anda mencari visualisasi Nyadran yang paling unik dan Instagramable untuk dokumentasi budaya, Boyolali adalah destinasinya, khususnya di Kecamatan Cepogo dan Selo (lereng Merapi-Merbabu).
Ciri khas utama Nyadran di Boyolali adalah penggunaan Tenong. Tenong adalah wadah makanan berbentuk bundar yang terbuat dari anyaman bambu atau aluminium. Ribuan warga akan berbaris memanggul tenong berisi aneka jajanan pasar, nasi, dan lauk pauk menuju makam leluhur. Setelah doa selesai, isi tenong dimakan bersama dan dibagikan kepada siapa saja yang hadir, termasuk wisatawan, sebagai simbol sedekah.
Di Yogyakarta, Nyadran memiliki nuansa yang sedikit berbeda karena pengaruh kuat budaya Keraton. Wilayah seperti Kotagede dan Imogiri menjadi pusat perhatian.
Di Kabupaten Semarang, khususnya daerah Ungaran dan desa wisata seperti Lerep, Nyadran memiliki dimensi ekologis. Selain Nyadran makam, dikenal juga istilah Nyadran Kali atau Sedekah Bumi.
Warga tidak hanya mendoakan leluhur, tetapi juga membersihkan mata air (sendang) yang menjadi sumber kehidupan desa. Ini adalah kearifan lokal yang mengajarkan pentingnya menjaga lingkungan sebagai warisan bagi generasi mendatang.
Bergeser ke arah barat Jawa Tengah, tepatnya di Desa Pekuncen, Banyumas, komunitas adat Bonokeling memiliki variasi Nyadran yang disebut Perlon Unggahan.
Tradisi ini sangat unik karena para pengikut (anak putu) Bonokeling akan berjalan kaki puluhan kilometer tanpa alas kaki menuju makam leluhur Kyai Bonokeling. Mereka membawa hasil bumi dan melakukan ritual masak besar dengan tata cara yang sudah berlangsung ratusan tahun. Ini adalah salah satu bentuk Nyadran paling otentik yang masih tersisa di tahun 2026.
Di Kota Solo dan sekitarnya (Sukoharjo, Karanganyar), Nyadran tetap hidup di tengah masyarakat urban. Kampung-kampung lawas seperti Laweyan dan Pajang masih menggelar sadranan massal.
Di Solo, tradisi ini seringkali menjadi ajang reuni keluarga besar (Bani) yang tersebar di perantauan. Mereka pulang kampung khusus untuk Nyadran sebelum nanti mudik lagi saat Idul Fitri. Hal ini memutar roda ekonomi daerah secara signifikan sebelum bulan puasa dimulai.
Pada tahun 2026, pemerintah daerah di Jawa Tengah dan Yogyakarta semakin gencar mempromosikan Nyadran sebagai agenda wisata tahunan. Dampak ekonominya cukup terasa, mulai dari jasa katering, penjualan bunga tabur, hingga perputaran Mata Uang Rupiah di pasar-pasar tradisional yang menyediakan kebutuhan kenduri.
Tradisi Nyadran mengajarkan kita bahwa menyambut Ramadan bukan hanya soal persiapan fisik menahan lapar dan dahaga, tetapi juga persiapan batin dengan menyambung silaturahmi kepada yang masih hidup dan mendoakan yang telah tiada. Bagi Anda yang berada di perantauan, momen Nyadran adalah panggilan pulang untuk kembali ke akar jati diri. (E-4)
Tradisi Nyadran atau Sadranan yang digelar masyarakat Jawa setiap bulan Ruwah (Sya'ban) menjelang Ramadan, sejatinya bukan hanya peristiwa kebudayaan dan spiritual semata.
Di tengah modernisasi yang terus bergulir hingga tahun 2026 ini, masyarakat Jawa tetap memegang teguh tradisi leluhur yang sarat akan makna spiritual dan sosial.
Warga berpartisipasi dalam tradisi Nyadran Pepunden di Dusun Kebondalem, Kemiri, Kaloran, Temanggung, Jawa Tengah.
Tradisi Nyadran Seribu Kupat di Temanggung
Acara tradisi nyadran diselenggarakan untuk menyambut ramadan di Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pada Rabu (6/3).
Tradisi Nyadran atau Sadranan yang digelar masyarakat Jawa setiap bulan Ruwah (Sya'ban) menjelang Ramadan, sejatinya bukan hanya peristiwa kebudayaan dan spiritual semata.
Di tengah modernisasi yang terus bergulir hingga tahun 2026 ini, masyarakat Jawa tetap memegang teguh tradisi leluhur yang sarat akan makna spiritual dan sosial.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved