Headline
Pemprov Jabar identifikasi warga yang betul-betul tak mampu.
Pemprov Jabar identifikasi warga yang betul-betul tak mampu.
Kumpulan Berita DPR RI
ACARA tradisi nyadran diselenggarakan untuk menyambut ramadan di Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pada Rabu (6/3). Kegiatan tersebut diikuti masyarakat hingga perwakilan dari 12 kecamatan di wilayah tersebut.
Kegiatan nyadran agung atau yang diadakan dalam skala besar ini salah satunya kirab gunungan. Sebanyak 17 gunungan berupa hasil bumi dikirab dari halaman DPRD Kabupaten Kulon Progo hingga alun-alun Wates. Sesampainya di kompleks Alun-alun Wates dilaksanakan seremonial dan diperebutkan.
Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Kulon Progo, Eka Pranyata mengatakan kegiatan tradisi tersebut dilakukan setiap mendekati bulan ramadan dan sudah berlangsung bertahun-tahun. Kegiatan yang menjadi bagian kebudayaan tersebut bertujuan berdoa bersama sekaligus melestarikan tradisi.
"Nyadran ini diikuti masyarakat bersama pemerintah desa, kecamatan, dan jajaran pemerintah Kabupaten Kulon Progo," kata Eka di Alun-alun Wates Kabupaten kulon Progo.
Ada sebanyak 17 gunungan hasil bumi yang diperebutkan. Sebanyak 12 gunungan dibuat perwakilan dari jumlah kecamatan dari wilayah tersebut. Selain itu, gunungan dibuat dari Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) dan sejumlah lembaga.
Sebagian besar gunungan dibuat dari hasil bumi, seperti sayur-sayuran hingga buah-buahan. Selain itu, ada juga gunungan berupa makanan yang sudah diolah seperti apem dan gunungan nasi.
"Ada gunungan tumpeng, ada juga gunungan apem atau ngapem. Ngapem maksudnya meminta maaf," kata dia.
Penjabat Bupati Kulon Progo Ni Made Dwipanti Indrayanti mengatakan, nyadaran agung tersebut disokong masyarakat dan pemerintahan di level kabupaten, kecamatan, hingga desa. Menurutnya, tradisi nyadran yang dilaksanakan setiap tahun untuk melestarikan budaya Jawa yang dilaksanakan setiap bulan ruwah atau bulan sebelum ramadan
"Manfaat nyadran ini seperti silaturahmi untuk mendekatkan sesama warga Kulon Progo; menjaga hubungan sesama manusia, dengan tuhan; dan menggerakkan perekonomian," kata dia.
Made mengungkapkan, nyadran juga sekaligus menyampaikan doa untuk keberkahan dan kesehatan dalam menjalani kehidupan maupun ibadah. Pihaknya mengajak masyarakat menjaga tradisi yang sudah berjalan.
"Saya mengajak mari menjaga budaya yang sudah jalan sehingga busaya ini bisa lestari hingga anak dan cucu," ujarnya.
Kegiatan nyadran agung tersebut dilakukan dengan serangkaian acara. Selain kirab, juga diselenggarakan kegiatan mujahadah atau pengajian dengan mengundang Gus Muwwafiq pada Selasa (5/3) malam. Kemudian juga ada hiburan wayang kulit dengan dalang Ki Suranto Hadi Sucipto dari Desa Sukoreno, Kecamatan Sentolo, Kabupaten Kulon Progo pada Rabu (6/3) malam. (Z-10)
WARGA Desa Balongdowo, Kecamatan Candi, Kabupaten Sidoarjo, dan sekitarnya, menggelar tradisi nyadran menjelang datangnya bulan suci Ramadan, Minggu (8/2).
Tradisi Nyadran atau Sadranan yang digelar masyarakat Jawa setiap bulan Ruwah (Sya'ban) menjelang Ramadan, sejatinya bukan hanya peristiwa kebudayaan dan spiritual semata.
Menjelang bulan suci Ramadan 2026, denyut kehidupan masyarakat Jawa kembali diwarnai oleh kesibukan spiritual yang khas.
Di tengah modernisasi yang terus bergulir hingga tahun 2026 ini, masyarakat Jawa tetap memegang teguh tradisi leluhur yang sarat akan makna spiritual dan sosial.
Warga berpartisipasi dalam tradisi Nyadran Pepunden di Dusun Kebondalem, Kemiri, Kaloran, Temanggung, Jawa Tengah.
Tradisi Nyadran Seribu Kupat di Temanggung
Selain kemandirian finansial, standar sosial di Indonesia juga turut memperberat pertimbangan generasi muda untuk menikah.
Tradisi tabayyun di kalangan ulama dan warga NU telah lama familiar dan mengakar.
Sejarah makan siang di Indonesia sendiri adalah cerminan perjalanan sosial, ekonomi, dan budaya yang selalu berubah.
Dalam tradisi masyarakat tertentu di Indonesia, telur tembean (telur ayam yang sudah berisi bakal embrio dan dianggap “hampir menetas”) dipercaya sebagai makanan berkhasiat
Upacara adat Dola Maludu yang merupakan bagian tak terpisahkan dari identitas masyarakat kini resmi tercatat sebagai Kekayaan Intelektual Komunal (KIK) oleh DJKI.
Festival Jelajah Maumere III mengusung tema Wini Ronan atau lumbung benih sebagai refleksi atas tradisi dan kebudayaan di Kabupaten Sikka atau di Flores.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved