Headline
Transparansi data saham bakal diperkuat demi kerek bobot RI.
Kumpulan Berita DPR RI
DI tengah modernisasi yang terus bergulir hingga tahun 2026 ini, masyarakat Jawa tetap memegang teguh tradisi leluhur yang sarat akan makna spiritual dan sosial. Salah satu tradisi yang paling dinanti setiap tahunnya, khususnya menjelang bulan suci Ramadan, adalah Nyadran.
Bagi masyarakat awam, Nyadran mungkin sekadar terlihat sebagai kegiatan ziarah kubur massal. Namun, jika ditelisik lebih dalam, tradisi ini menyimpan filosofi mendalam tentang hubungan manusia dengan Tuhan, alam, dan sesama manusia. Artikel ini akan mengupas tuntas apa itu Nyadran, mulai dari asal-usul sejarah, tata cara pelaksanaan, hingga relevansinya di masa kini.
Secara bahasa, kata Nyadran berasal dari bahasa Sanskerta, yaitu 'Sraddha' yang berarti keyakinan. Dalam perkembangannya, istilah ini mengalami penyesuaian lidah Jawa menjadi Nyadran atau Sadranan.
Secara istilah, Nyadran adalah serangkaian upacara adat yang dilakukan oleh masyarakat Jawa, terutama di Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Timur, pada bulan Syaban (kalender Hijriah) atau bulan Ruwah (kalender Jawa). Tradisi ini merupakan bentuk penghormatan kepada arwah leluhur dan nenek moyang, sekaligus wujud rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa sebelum memasuki bulan puasa.
Sejarah Nyadran tidak bisa dilepaskan dari kepiawaian para Wali Songo, khususnya Sunan Kalijaga, dalam menyebarkan agama Islam di tanah Jawa. Sebelum Islam masuk, masyarakat Jawa kuno yang bercorak Hindu-Buddha sudah memiliki tradisi Sraddha, yaitu upacara pemujaan roh leluhur.
Alih-alih menghapus tradisi tersebut secara frontal, para ulama menyelaraskannya dengan nilai-nilai Islam. Isi doa yang semula berupa mantra-mantra diubah menjadi pembacaan ayat-ayat Al-Qur'an, tahlil, dan doa kepada Allah SWT untuk memohon ampunan bagi para leluhur. Inilah yang menjadikan Nyadran sebagai bukti nyata akulturasi budaya yang harmonis antara nilai lokal Jawa dan ajaran Islam.
Nyadran biasanya dilaksanakan pada bulan Ruwah (Sya'ban), tepatnya mulai dari tanggal 15 Ruwah hingga menjelang hari pertama puasa Ramadan. Pemilihan waktu ini tidak sembarangan, karena bulan Ruwah dianggap sebagai bulan persiapan spiritual sebelum memasuki 'kawah candradimuka' di bulan Ramadan.
Di tahun 2026, antusiasme masyarakat desa maupun yang berada di perantauan untuk pulang kampung demi mengikuti Nyadran masih sangat tinggi, menjadikannya momen 'mudik kecil' sebelum Lebaran.
Meski setiap daerah memiliki variasi tersendiri, secara umum urutan prosesi Nyadran adalah sebagai berikut:
Kegiatan diawali dengan gotong royong membersihkan area pemakaman desa. Rumput liar dicabut, nisan dibersihkan, dan lingkungan makam dirapikan. Ini menyimbolkan pembersihan diri dan hati dari sifat-sifat buruk.
Di beberapa daerah wisata budaya, Nyadran diawali dengan kirab atau arak-arakan tenong (wadah makanan) dari balai desa menuju makam, diiringi kesenian tradisional.
Setelah makam bersih, masyarakat berkumpul (bisa di area makam atau masjid terdekat) untuk melakukan doa bersama. Acara dipimpin oleh pemuka agama atau Mbah Kaum. Lantunan tahlil, tahmid, dan doa dipanjatkan khusus untuk arwah leluhur agar mendapatkan tempat terbaik di sisi Tuhan.
Ini adalah puncak acara sosial Nyadran. Masyarakat menggelar tikar dan membuka bekal makanan yang dibawa dari rumah. Makanan khas yang wajib ada biasanya adalah:
Dalam sesi ini, status sosial lebur. Pejabat, petani, pedagang, semua duduk sama rendah menikmati hidangan yang saling ditukarkan.
Seringkali orang menyamakan Nyadran dengan ziarah kubur biasa. Berikut adalah tabel perbedaannya untuk memberikan pemahaman yang lebih jelas:
| Aspek | Ziarah Kubur Biasa | Tradisi Nyadran |
|---|---|---|
| Waktu | Kapan saja (fleksibel) | Khusus bulan Ruwah/Sya'ban |
| Pelaku | Individu atau keluarga inti | Komunal (satu dusun/desa) |
| Kegiatan | Doa dan tabur bunga | Pembersihan makam, kenduri, makan bersama |
| Fokus | Spiritual personal | Spiritual dan kohesi sosial |
Nyadran bukan sekadar ritual tanpa arti. Di dalamnya terkandung nilai-nilai luhur:
Nyadran adalah warisan budaya takbenda yang sangat berharga bagi bangsa Indonesia. Ia mengajarkan kita bahwa agama dan budaya lokal tidak harus saling bertentangan, melainkan bisa berjalan beriringan membentuk harmoni. Di tengah gempuran zaman, melestarikan Nyadran berarti merawat ingatan akan asal-usul, menjaga kerukunan sosial, dan memelihara kesucian hati menyambut Ramadan. (E-4)
Tradisi Nyadran atau Sadranan yang digelar masyarakat Jawa setiap bulan Ruwah (Sya'ban) menjelang Ramadan, sejatinya bukan hanya peristiwa kebudayaan dan spiritual semata.
Menjelang bulan suci Ramadan 2026, denyut kehidupan masyarakat Jawa kembali diwarnai oleh kesibukan spiritual yang khas.
Warga berpartisipasi dalam tradisi Nyadran Pepunden di Dusun Kebondalem, Kemiri, Kaloran, Temanggung, Jawa Tengah.
Tradisi Nyadran Seribu Kupat di Temanggung
Acara tradisi nyadran diselenggarakan untuk menyambut ramadan di Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pada Rabu (6/3).
Tradisi Nyadran atau Sadranan yang digelar masyarakat Jawa setiap bulan Ruwah (Sya'ban) menjelang Ramadan, sejatinya bukan hanya peristiwa kebudayaan dan spiritual semata.
Menjelang bulan suci Ramadan 2026, denyut kehidupan masyarakat Jawa kembali diwarnai oleh kesibukan spiritual yang khas.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved