Headline

Transparansi data saham bakal diperkuat demi kerek bobot RI.

Geliat Ekonomi di Balik Tradisi: Mengukur 'Multiplier Effect' Nyadran bagi Warga Lokal

Putri Anisa Yuliani
02/2/2026 07:25
Geliat Ekonomi di Balik Tradisi: Mengukur 'Multiplier Effect' Nyadran bagi Warga Lokal
Makam Imogiri di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.(Dok Pemkab Bantul)

TRADISI Nyadran atau Sadranan yang digelar masyarakat Jawa setiap bulan Ruwah (Sya'ban) menjelang Ramadan, sejatinya bukan hanya peristiwa kebudayaan dan spiritual semata. Di balik khidmatnya doa dan ziarah kubur, terdapat mesin ekonomi raksasa yang bergerak senyap namun signifikan, memberikan napas segar bagi perekonomian arus bawah di tahun 2026 ini.

Fenomena ini menciptakan apa yang disebut sebagai multiplier effect atau efek berganda. Ketika satu tradisi dijalankan, dampaknya merembet ke berbagai sektor, mulai dari petani di ladang hingga pedagang di pasar tradisional. Berikut adalah analisis mendalam mengenai dampak ekonomi Nyadran bagi warga lokal.

1. Lonjakan Transaksi di Pasar Tradisional

Pusat dampak ekonomi Nyadran berada di pasar-pasar tradisional. Berbeda dengan hari biasa, menjelang pelaksanaannya, pasar desa akan buka lebih awal dan tutup lebih siang. Perputaran mata uang rupiah di sini sangat kencang.

Komoditas utama yang menjadi incaran adalah bahan baku untuk ubarampe (kelengkapan) kenduri, seperti:

  • Ayam Kampung: Harganya bisa melonjak drastis karena tingginya permintaan untuk hidangan Ingkung.
  • Beras Ketan & Kelapa: Bahan utama membuat jadah, wajik, dan apem yang wajib ada dalam tenongan.
  • Pisang Raja: Sebagai pelengkap sesaji atau hidangan penutup.

Bagi pedagang pasar, musim Nyadran adalah panen raya kedua setelah Lebaran. Keuntungan yang didapat dalam sepekan musim Nyadran bisa setara dengan pendapatan sebulan pada hari biasa.

2. Rezeki Musiman Petani dan Penjual Bunga

Salah satu fenomena ekonomi paling mencolok saat Nyadran adalah bisnis bunga tabur. Ziarah kubur (besik) adalah agenda wajib, dan bunga adalah instrumen utamanya.

Di wilayah sentra bunga seperti Bandungan (Semarang) atau Boyolali, harga bunga mawar, kenanga, dan melati bisa naik hingga 300% hingga 500%. Jika pada hari biasa sekeranjang bunga dihargai Rp20.000, saat puncak musim Nyadran di tahun 2026 ini harganya bisa menembus Rp100.000. Ini memberikan injeksi modal langsung kepada petani bunga dan membuka lapangan kerja dadakan bagi para perangkai dan penjual bunga musiman di sekitar area pemakaman.

3. Revitalisasi Ekonomi UMKM Makanan

Tradisi kembul bujana (makan bersama) menuntut ketersediaan makanan dalam jumlah besar. Di pedesaan, hal ini menggerakkan ekonomi ibu rumah tangga yang memproduksi jajanan pasar seperti lemper, kue cucur, dan rengginang.

Di wilayah urban yang masyarakatnya lebih sibuk, dampak ini beralih ke jasa katering atau penyedia nasi kotak. Pesanan tumpeng mini atau besek nasi untuk kenduri meningkat tajam, menghidupkan dapur-dapur UMKM kuliner yang mungkin sempat lesu di awal tahun.

4. Dampak pada Sektor Kerajinan (Craft)

Di daerah tertentu seperti Boyolali yang terkenal dengan tradisi Tenongan, permintaan terhadap wadah makanan tradisional meningkat. Pengrajin anyaman bambu (untuk besek) dan pengrajin tenong (wadah bundar bertingkat) mendapatkan pesanan jauh hari sebelum bulan Ruwah tiba.

Meskipun wadah plastik mulai marak, kesadaran akan estetika budaya dan isu lingkungan di tahun 2026 membuat anyaman bambu kembali diminati, menjaga keberlangsungan pengrajin lokal.

5. Redistribusi Kekayaan (Social Safety Net)

Secara sosiologis-ekonomis, Nyadran berfungsi sebagai mekanisme redistribusi kekayaan. Warga yang mampu akan membawa makanan lebih banyak dan lebih mewah (daging sapi/ayam utuh) untuk diletakkan di tengah kumpulan warga.

Makanan tersebut kemudian ditukar dan dibagikan secara acak. Warga yang kurang mampu bisa menikmati makanan berkualitas yang mungkin jarang mereka konsumsi sehari-hari. Ini adalah bentuk jaring pengaman sosial (social safety net) berbasis kearifan lokal yang mengurangi kesenjangan konsumsi pangan di desa, setidaknya dalam periode tersebut.

Kesimpulan: Penyangga Ekonomi Desa

Nyadran membuktikan bahwa tradisi leluhur memiliki relevansi kuat terhadap ketahanan ekonomi desa. Ia bukan sekadar ritual menghamburkan uang, melainkan momen di mana uang yang disimpan warga 'dicairkan' dan dibelanjakan di tetangga sendiri (pasar lokal, petani lokal, pengrajin lokal).

Sirkulasi ekonomi yang berputar di dalam desa (circular economy) inilah yang membuat desa-desa di Jawa memiliki daya tahan ekonomi yang cukup kuat menjelang tekanan inflasi yang biasanya terjadi saat memasuki bulan Ramadan. (E-4)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri yuliani
Berita Lainnya