Headline

Transparansi data saham bakal diperkuat demi kerek bobot RI.

Apa Itu Nyadran? Menelisik Jejak Tradisi Luhur Masyarakat Jawa Jelang Ramadan

Putri Anisa Yuliani
02/2/2026 07:00
Apa Itu Nyadran? Menelisik Jejak Tradisi Luhur Masyarakat Jawa Jelang Ramadan
Ilustrasi(Antara )

DI tengah modernisasi yang terus bergulir hingga tahun 2026 ini, masyarakat Jawa tetap memegang teguh tradisi leluhur yang sarat akan makna spiritual dan sosial. Salah satu tradisi yang paling dinanti setiap tahunnya, khususnya menjelang bulan suci Ramadan, adalah Nyadran.

Bagi masyarakat awam, Nyadran mungkin sekadar terlihat sebagai kegiatan ziarah kubur massal. Namun, jika ditelisik lebih dalam, tradisi ini menyimpan filosofi mendalam tentang hubungan manusia dengan Tuhan, alam, dan sesama manusia. Artikel ini akan mengupas tuntas apa itu Nyadran, mulai dari asal-usul sejarah, tata cara pelaksanaan, hingga relevansinya di masa kini.

Pengertian dan Etimologi Nyadran

Secara bahasa, kata Nyadran berasal dari bahasa Sanskerta, yaitu 'Sraddha' yang berarti keyakinan. Dalam perkembangannya, istilah ini mengalami penyesuaian lidah Jawa menjadi Nyadran atau Sadranan.

Secara istilah, Nyadran adalah serangkaian upacara adat yang dilakukan oleh masyarakat Jawa, terutama di Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Timur, pada bulan Syaban (kalender Hijriah) atau bulan Ruwah (kalender Jawa). Tradisi ini merupakan bentuk penghormatan kepada arwah leluhur dan nenek moyang, sekaligus wujud rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa sebelum memasuki bulan puasa.

Poin Penting: Nyadran bukan sekadar ziarah, melainkan sebuah peristiwa sosial-budaya yang menggabungkan nilai-nilai silaturahmi (hablum minannas) dan spiritualitas (hablum minallah).

Sejarah dan Akulturasi Budaya

Sejarah Nyadran tidak bisa dilepaskan dari kepiawaian para Wali Songo, khususnya Sunan Kalijaga, dalam menyebarkan agama Islam di tanah Jawa. Sebelum Islam masuk, masyarakat Jawa kuno yang bercorak Hindu-Buddha sudah memiliki tradisi Sraddha, yaitu upacara pemujaan roh leluhur.

Alih-alih menghapus tradisi tersebut secara frontal, para ulama menyelaraskannya dengan nilai-nilai Islam. Isi doa yang semula berupa mantra-mantra diubah menjadi pembacaan ayat-ayat Al-Qur'an, tahlil, dan doa kepada Allah SWT untuk memohon ampunan bagi para leluhur. Inilah yang menjadikan Nyadran sebagai bukti nyata akulturasi budaya yang harmonis antara nilai lokal Jawa dan ajaran Islam.

Waktu Pelaksanaan

Nyadran biasanya dilaksanakan pada bulan Ruwah (Sya'ban), tepatnya mulai dari tanggal 15 Ruwah hingga menjelang hari pertama puasa Ramadan. Pemilihan waktu ini tidak sembarangan, karena bulan Ruwah dianggap sebagai bulan persiapan spiritual sebelum memasuki 'kawah candradimuka' di bulan Ramadan.

Di tahun 2026, antusiasme masyarakat desa maupun yang berada di perantauan untuk pulang kampung demi mengikuti Nyadran masih sangat tinggi, menjadikannya momen 'mudik kecil' sebelum Lebaran.

Rangkaian Tata Cara Prosesi Nyadran

Meski setiap daerah memiliki variasi tersendiri, secara umum urutan prosesi Nyadran adalah sebagai berikut:

1. Besik (Pembersihan Makam)

Kegiatan diawali dengan gotong royong membersihkan area pemakaman desa. Rumput liar dicabut, nisan dibersihkan, dan lingkungan makam dirapikan. Ini menyimbolkan pembersihan diri dan hati dari sifat-sifat buruk.

2. Kirab Sadranan (Opsional)

Di beberapa daerah wisata budaya, Nyadran diawali dengan kirab atau arak-arakan tenong (wadah makanan) dari balai desa menuju makam, diiringi kesenian tradisional.

3. Ujub dan Doa Bersama (Tahlilan)

Setelah makam bersih, masyarakat berkumpul (bisa di area makam atau masjid terdekat) untuk melakukan doa bersama. Acara dipimpin oleh pemuka agama atau Mbah Kaum. Lantunan tahlil, tahmid, dan doa dipanjatkan khusus untuk arwah leluhur agar mendapatkan tempat terbaik di sisi Tuhan.

4. Kembul Bujana (Makan Bersama)

Ini adalah puncak acara sosial Nyadran. Masyarakat menggelar tikar dan membuka bekal makanan yang dibawa dari rumah. Makanan khas yang wajib ada biasanya adalah:

  • Ketan: Simbol perekat persaudaraan.
  • Kolak: Berasal dari kata Khalaqa (Sang Pencipta), simbol mendekatkan diri pada Tuhan.
  • Apem: Berasal dari kata Afwun (Ampunan), simbol memohon ampunan.
  • Ayam Ingkung: Simbol kepasrahan dan pengorbanan.

Dalam sesi ini, status sosial lebur. Pejabat, petani, pedagang, semua duduk sama rendah menikmati hidangan yang saling ditukarkan.

Perbedaan Nyadran dan Ziarah Kubur Biasa

Seringkali orang menyamakan Nyadran dengan ziarah kubur biasa. Berikut adalah tabel perbedaannya untuk memberikan pemahaman yang lebih jelas:

Aspek Ziarah Kubur Biasa Tradisi Nyadran
Waktu Kapan saja (fleksibel) Khusus bulan Ruwah/Sya'ban
Pelaku Individu atau keluarga inti Komunal (satu dusun/desa)
Kegiatan Doa dan tabur bunga Pembersihan makam, kenduri, makan bersama
Fokus Spiritual personal Spiritual dan kohesi sosial

Makna Filosofis Nyadran

Nyadran bukan sekadar ritual tanpa arti. Di dalamnya terkandung nilai-nilai luhur:

  1. Mengingat Kematian: Mengingatkan yang masih hidup bahwa suatu saat mereka akan menyusul para leluhur, sehingga harus mempersiapkan bekal amal.
  2. Bakti kepada Orang Tua: Wujud terima kasih anak kepada orang tua dan leluhur yang telah berjasa dalam hidup mereka.
  3. Kerukunan Warga: Momen Kembul Bujana menjadi sarana menyelesaikan konflik antar tetangga dan mempererat tali silaturahmi sebelum memasuki bulan suci.
  4. Sedekah: Berbagi makanan dalam kenduri adalah bentuk sedekah yang dianjurkan dalam agama.

Kesimpulan

Nyadran adalah warisan budaya takbenda yang sangat berharga bagi bangsa Indonesia. Ia mengajarkan kita bahwa agama dan budaya lokal tidak harus saling bertentangan, melainkan bisa berjalan beriringan membentuk harmoni. Di tengah gempuran zaman, melestarikan Nyadran berarti merawat ingatan akan asal-usul, menjaga kerukunan sosial, dan memelihara kesucian hati menyambut Ramadan. (E-4)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri yuliani
Berita Lainnya