Headline
Tragedi Bantargebang menjadi bukti kegagalan sistemis.
Kumpulan Berita DPR RI
Kesehatan yang baik adalah mantra baru selama pandemi, dan meskipun keluarga ingin merayakan Idul Adha dengan penuh semangat, dokter dan ahli gizi menyarankan untuk berhati-hati dan tidak berlebihan dalam asupan daging merah selama festival sembilan hari.
Makan daging merah secara berlebihan selama Idul Adha dapat menyebabkan timbulnya kelebihan metabolisme akut yang dapat memicu gangguan pencernaan, kembung, refluks asam, dan serangan jantung.
Mengutip penelitian yang dilakukan di Barat, Dr Abdul Rauoof Malik, ahli jantung (spesialis) di Rumah Sakit Aster Ghusais mengatakan, “Ini adalah fakta yang terdokumentasi dengan baik bahwa di Barat, kasus serangan jantung dan stroke lebih tinggi setelah Thanksgiving dan Natal. Di UEA, kami telah melihat tren umum lebih banyak episode Cardio Vascular setelah pesta makan selama perayaan seperti Idul Fitri dan Idul Adha. Ada bukti yang mendukung fakta bahwa dalam satu acara pesta makan, seseorang dapat meningkatkan risiko serangan jantung tiga atau empat kali lipat," ujarnya.
Oleh karena itu, ia menyarankan orang-orang, daripada makan berlebih, lebih baik memberikan daging domba kurban kepada orang miskin dan membutuhkan. "Cukup menyisihkan sebagian kecil untuk diri mereka sendiri, atau membekukan sebagian untuk dimakan pada hari lain.”
Ia kembali menegaskan, “Jangan terlalu banyak mengonsumsi daging merah saat Idul Adha, karena daging merah diketahui kaya akan kolesterol, tinggi protein dan lemak serta dapat memicu penyakit kardiovaskuler.”
Juliot Vinolia, ahli nutrisi di RS Medeor, Dubai, menambahkan, biasanya disarankan bagi orang untuk memilih makan daging yang dimarinasi dengan baik, selama lebih dari enam, tujuh jam dan dimasak perlahan seperti dalam rebusan untuk pencernaan yang baik. Namun, dalam perayaan, itu tidak terjadi sehingga menghasilkan kelebihan racun, yang menyebabkan kram perut, ketidaknyamanan GI, refluks asam, sakit perut, mual dan muntah, dan bahkan episode kesehatan yang lebih serius.
Vinolia mengemukakan, banyak orang gagal tidak paham bahwa waktu yang dibutuhkan untuk mencerna daging jauh lebih lama daripada makanan lainnya. “Makanan normal membutuhkan waktu sekitar enam jam untuk dicerna, sementara makanan kaya daging membutuhkan waktu sekitar 10-12 jam untuk dicerna dan diasimilasi. Tubuh berada di bawah tekanan dan kita cenderung lebih menekankannya dengan pola makan yang membebani saluran pencernaan karena daging yang dimakan saat sarapan masih dalam proses dicerna, diasimilasi, dan diserap."
Daging merah, imbuhnya, membutuhkan setidaknya 8-12 jam waktu pencernaan. Dibutuhkan lebih dari enam jam bagi daging untuk berpindah dari perut ke usus dan kemudian dimetabolisme.
"Namun, selama perayaan, orang cenderung beralih ke makanan berikutnya bahkan sebelum makanan tersebut dicerna dengan baik."
Ia mencontohkan, mengonsumsi lebih dari 100 gram daging untuk dua kali makan berturut-turut berisiko meningkatkan kadar purin dalam darah, menyebabkan lonjakan asam urat, yang mengakibatkan asam urat dan batu ginjal. (GulfNews/M-2)
Harga daging sapi beku kini rata-rata berada di atas Rp110.000 per kilogram, melonjak signifikan dari harga normal yang berkisar Rp80.000 hingga Rp90.000 per kilogram.
Dalam pola makan seimbang, daging berperan penting untuk pertumbuhan, kekuatan otot, dan daya tahan tubuh. Namun, konsumsinya tetap perlu dibatasi dan diolah dengan cara sehat
Perumda Dharma Jaya memastikan bahwa stok daging untuk memenuhi kebutuhan masyarakat menjelang perayaan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 sudah aman.
Pergub Nomor 36 tahun 2025 merupakan perubahan atas Peraturan Gubernur nomor 1999 tahun 2016 tentang Pengendalian Hewan Penular Rabies.
Dengan langkah penyimpanan yang tepat, sisa daging tetap lezat, aman, dan siap disantap keesokan harinya.
Daging merupakan salah satu bahan pangan utama karena mengandung protein hewani, zat besi, zinc, dan vitamin B kompleks yang penting bagi pertumbuhan dan kesehatan tubuh.
Minyak sawit sering dianggap berbahaya. Simak fakta ilmiah tentang komposisi lemak, risiko kanker, obesitas, dan kesehatan jantung yang jarang diketahui publik.
Agar tubuh tetap bertenaga dan fokus dalam beribadah, pemenuhan gizi seimbang menjadi kunci krusial yang harus diperhatikan masyarakat.
Kunci utama menjaga kesehatan ginjal terletak pada pemenuhan cairan yang cukup.
Langkah pertama yang harus diperhatikan bukan sekadar menahan lapar, melainkan kesiapan fisik dan psikis sang anak untuk berpuasa di bulan Ramadan.
Aktivitas fisik yang rutin terbukti dapat menjaga kebugaran, membantu mengontrol kadar gula darah, serta meningkatkan metabolisme.
Pemilihan nutrisi yang memiliki efek antiinflamasi dan antioksidatif menjadi kunci utama dalam menjaga keremajaan tubuh.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved