Senin 11 Januari 2021, 09:41 WIB

Setahun Pandemi yang tetap Misteri

Adiyanto | Weekend
Setahun Pandemi yang tetap Misteri

Mohammed ABED / AFP
Mural Virus Korona di Gaza, Palestina,

 

HARI ini, 11 Januari, tepat setahun lalu, seorang pria di Wuhan, Tiongkok berusia 61 tahun, menjadi orang pertama yang tewas lantaran virus korona. Hingga hari ini, hampir dua juta orang di dunia menjadi korban virus yang kemudian dinamakan covid-19 tersebut. Pandemi yang tidak terkendali ini juga menyebabkan puluhan juta orang terpapar, ekonomi global babak belur, dan sejumlah negara saling curiga.  

Ini adalah teka-teki ilmiah paling mendesak untuk dipecahkan. Namun, para ahli memperingatkan mungkin tidak akan pernah ada jawaban pasti atas sumber virus ini. Apalagi, Tiongkok begitu tertutup bagi upaya independen untuk melacak asal-usul virus dan pertanyaan penting tentang bagaimana virus itu bisa berpindah dari hewan ke manusia.

Sempat ada sedikit perdebatan bagaimana virus yang membuat dunia bertekuk lutut itu, memicu wabah pertama yang diketahui pada akhir 2019 di pasar basah di kota Wuhan, tempat satwa liar dijual untuk dikonsumsi manusia.  Patogen itu diyakini berasal dari spesies kelelawar. Tetapi, pertanyaan itu berakhir di sana tanpa ada lagi penjelasan lebih lanjut. Tudingan Presiden AS Donald Trump yang menyebut  virus itu bocor dari laboratorium di Wuhan, hingga hari ini juga tidak bisa dibuktikan.

Padahal, menurut para ahli virologi terkemuka, menetapkan sumber atau asal-usul virus sangat penting untuk menekan wabah lebih awal. Ia akan menjadi petunjuk yang dapat memandu membuat kebijakan, apakah akan memusnahkan populasi hewan, mengkarantina orang yang terkena dampak, atau membatasi perburuan satwa liar dan interaksi manusia-hewan lainnya.

"Jika kami dapat mengidentifikasi mengapa mereka (virus) terus bermunculan, kami dapat mengurangi pendorong/pemicu yang mendasarinya," kata Peter Daszak, presiden EcoHealth Alliance, sebuah LSM global yang berfokus pada pencegahan penyakit menular.

Keraguan tentang pasar Wuhan  

Tiongkok sempat dipuji karena cepat melaporkan penyebaran virus tersebut dan mengungkapkan urutan gennya secara tepat waktu, dibandingkan ketika wabah SARS pada 2002-2003 yang cenderung ditutup-tutupi. Tapi, tentang covid-19 ini tetap saja ada yang dirahasiakan, apalagi ada cerita yang berubah-ubah.

Otoritas Wuhan awalnya berusaha menutupi wabah ini. Selama berminggu-minggu mereka membantah terjadi penularan antarmanusia. Awalnya, para pejabat Tiongkok dengan tegas menyatakan bahwa wabah itu dimulai di pasar Seafood Huanan di Wuhan. Tetapi, data pemerintah Tiongkok pada Januari 2020 menunjukkan, beberapa kasus pertama (yang terinfeksi) tidak memiliki hubungan dengan pasar tersebut. Hal itu menunjukkan bahwa sumber virus ada di tempat lain.

Cerita pemerintah Tiongkok kemudian berubah lagi Maret, ketika pejabat tinggi pengendalian penyakit Gao Fu mengatakan pasar bukanlah sumbernya, tetapi "korban", tempat patogen hanya berkembang biak. “Tetapi, sejak itu mereka tidak pernah secara terbuka dan bisa menghubungkan titik apa pun, merilis sedikit informasi tentang sampel hewan dan lingkungan yang diambil di pasar yang dapat membantu penyelidik,” kata para ahli.

Hal itu membuat para ahli asing kesulitan. Apalagi misi yang direncanakan oleh peneliti virus WHO belum bisa diterima masuk Tiongkok. Namun, pada Sabtu (9/1), seorang pejabat tinggi kesehatan Tiongkok mengatakan negara itu sekarang "siap" untuk menerima tim beranggotakan 10 orang itu dan membuka pintu untuk kunjungan ke Wuhan. “Namun kapan waktu tepatnya sedang ditentukan",  kata Wakil Menteri Komisi Kesehatan Nasional Zeng Yixin kepada wartawan.

Kalau pun para ahli diizinkan,  mereka sepertinya tidak bakal menemukan apa yang diharapkan. Para ahli mengatakan pihak berwenang mungkin telah menghancurkan atau menghapus bukti penting  ketika mereka panik saat di awal pandemi. "Setiap wabah berjalan dengan cara yang sama. Kacau. Mereka (Tiongkok) tidak melakukan tugas yang benar dalam penyelidikan hewan sejak awal. Dalam beberapa hal, mereka cukup terbuka, di sisi lain mereka kurang terbuka," kata Daszak.

Alasan kerahasiaan Tiongkok tidak jelas, tetapi Partai Komunis yang berkuasa memiliki riwayat kelam dalam menekan informasi yang merusak negeri itu secara politik. Warga yang coba memberikan informasi di awal-awal pandemi melalui internet, telah dibungkam atau dipenjara.

“Beijing mungkin ingin menyembunyikan kesalahan regulasi atau investigasi, untuk menghindari rasa malu atau pukulan balik global,”  kata Daniel Lucey, ahli epidemiologi Universitas Georgetown yang mengamati dengan cermat wabah global ini.

Kata dia, masalahnya bahkan mungkin bukan di Pasar Wuhan. Dia mencatat virus itu sudah cepat menyebar di kota itu pada Desember 2019. Hal itu menunjukkan bahwa virus itu telah beredar lebih awal. Sebab, kata dia, virus mungkin membutuhkan waktu berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun untuk mengembangkan mutasi yang diperlukan, agar menjadi sangat menular di antara manusia.

“Teori itu berasal dari pasar Wuhan sama sekali tidak masuk akal. Itu terjadi secara alami dan pasti terjadi berbulan-bulan sebelumnya, mungkin setahun, mungkin lebih dari setahun," kata Lucey.

Pendapat ini diperkuat, karena pada Desember lalu, Tiongkok menyebut jumlah kasus virus korona yang beredar di Wuhan mungkin 10 kali lebih tinggi pada awal epidemi daripada yang diungkapkan oleh angka resmi pada saat itu.

Jejak itu sekarang telah menjadi dingin. Setetes informasi selanjutnya hanya menambah kebingungan, termasuk pernyataan Tiongkok bahwa virus itu mungkin ada di Eropa dan Brasil sebelum wabah Wuhan. Pernyataan yang belum dikonfirmasi itu dianggap sebagai upaya mereka untuk menangkis kesalahan.

Namun, Daszak tetap berharap sumber virus tersebut dapat ditemukan, terutama setelah kekalahan pemilihan kembali Presiden AS Donald Trump. Dia menyalahkan Trump karena ‘membunuh’ peluang kerja sama dengan Tiongkok dengan mempolitisasi virus itu dengan label "virus Tiongkok" . Trump juga disalahkan karena  pemerintahannya mengembar-gemborkan tentang teori konspirasi yang menyebut virus itu dibuat Tiongkok di laboratorium, meski itu telah ditolak oleh para ilmuwan.

"Saya yakin pada akhirnya kami akan menemukan spesies kelelawar asalnya dan kemungkinan jalurnya," kata Daszak.

Namun, para peneliti lainnya kurang yakin. Diana Bell, pakar penyakit satwa liar di Universitas East Anglia yang telah mempelajari virus SARS, Ebola, dan patogen lainnya, mengatakan bahwa fokus pada spesies asal tertentu salah arah.

Dia mengatakan ancaman nyata ada pada perdagangan satwa liar global. Campuran spesies yang diperdagangkan menjadi tempat berkembang biak penyakit. "(Spesies) sebenarnya tidak masalah. Kita tidak perlu tahu sumbernya, kita hanya perlu menghentikan pencampuran hewan di pasar. Kita perlu menghentikan perdagangan satwa liar untuk konsumsi manusia," tegasnya. (AFP/M-4)

Baca Juga

elements.envato.com

Tips Memilih Bedak untuk Kulit Wajah Berjerawat

👤Mediaindonesia.com 🕔Jumat 28 Januari 2022, 15:30 WIB
Disarankan menggunakan bedak tabur ketimbang...
123RF

Perusahaan Elon Musk Bersiap Uji Klinis Cip di Otak Manusia

👤Putri Rosmalia 🕔Jumat 28 Januari 2022, 08:33 WIB
Neuralink, perusahaan tersebut  juga tengah mencari direktur untuk uji...
Paragon Pictures

Cerita Oki dan Nirmala di Majalah Bobo Jadi Film Serial

👤Mediaindonesia.com 🕔Kamis 27 Januari 2022, 19:41 WIB
Rumah produksi Paragon Pictures dan Ideosource Entertainment bekerja sama dengan Grid Network- KG Media akan mengangkat cergam Oki dan...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya