Headline
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Kumpulan Berita DPR RI
Anak berbicara sendiri menjadi hal wajar ditemui orangtua sejak dulu. Konon, mereka memilki teman khayalan yang misterius dan sulit diketahui orang dewasa. Sisi baiknya, menurut beberapa psikolog berbicara dengan teman khayalan justru membuat sang anak memiliki kosa kata yang baik.
Namun masuknya teknologi di kehidupan anak-anak seperti membunuh teman khayalan ini. Bagaimana tidak, anak-anak saat ini sering dibiarkan tanpa waktu saat bosan atau dibiarkan sendiri.
Dilansir dari dailymail, pekerja Taman Kanak-kanak mengatakan teman khayalan menjadi kurang umum karena terlalu banyak waktu menonton yang mempengaruhi imajinasi anak-anak.
Hal ini juga dibuktikan dengan jajak pendapat dari Polling daynurseries.co.uk, yang menanyai 1.000 pekerja perawat pada April dan Mei silam, menemukan hampir setengah (48%) mengatakan anak-anak yang mereka rawat memiliki teman imajiner.
Sebanyak 72% setuju, lebih sedikit anak memiliki teman imajiner sekarang daripada lima tahun lalu. Sementaa 63% dari mereka berpikir paparan layar alias screen time membuat anak-anak kurang imajinatif.
"Satu atau dua anak di kamar yang kami rawat memang memiliki teman imajiner tetapi mereka umumnya keluar di rumah, ketika anak-anak sendirian," kata David Wright, pemilik kelompok Nursery Pot Paint, Southampton.
"Ketika anak-anak memiliki waktu luang untuk diri mereka sendiri, mereka menemukan sesuatu yang kreatif untuk dilakukan dengan pikiran mereka, seperti membentuk teman khayalan," tambahnya.
Dia juga mengatakan, ada masalah umum dengan kreativitas anak-anak dan perkembangan imajinasi yakni untuk mengisi waktu bosan anak-anak berharap dihibur dengan cara tertentu. Shingga mereka menerima konten baik dari tablet atau TV, dan itu yang mengurangi kemampuan mereka untuk kemudian menggunakan imajinasi mereka sendiri untuk membuat teman khayalan, untuk mengembangkan bahasa dan cerita dan hal semacam itu.
Dr Paige Davis, seorang dosen psikologi di York St John University, mengatakan anak-anak yang berteman dengan khayalan biasanya berusia antara lima dan tujuh tahun. Mereka sering melakukannya untuk membantu mereka menghadapi suatu situasi, atau ketika mereka sedang membangun keterampilan hidup tertentu, seperti berbicara dengan orang lain.
Dia percaya anak-anak membuat teman yang tak terlihat yang unik seperti biasa, tetapi cara anak-anak bermain dengan teman khayalan bisa berubah seiring waktu. TV dan teknologi modern telah mengubah cara anak-anak bermain secara umum, sarannya.
"Dulu ketika Anda tidak memiliki TV, atau anak-anak menonton TV jauh lebih sedikit, Anda akan memiliki permainan spontan yang mereka buat ini, sedangkan sekarang Anda memiliki anak-anak ini yang berpikir bermain seperti di struktur TV," katanya. (M-3)
Baca juga : Weathering with You Wakili Jepang di Oscar 2020
Studi terbaru mengungkap teknik "meta-cognitive doubt". Meragukan pikiran negatif ternyata lebih efektif untuk kembali berkomitmen pada tujuan jangka panjang.
Korps Relawan Bencana di bawah Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi), melaksanakan rangkaian Psychosocial Support Program bagi anak-anak yang terdampak gempa bumi di Kabupaten Poso.
Dialah Saparinah Sadli, perempuan berusia 99 tahun yang menjadi saksi hidup perjalanan panjang ilmu psikologi dan gerakan perempuan di Indonesia.
Talentlytica bersama Unit Usaha Akademik Unpad akan menggelar Workshop Pauli Reimagined pada 4 Oktober mendatang di Bandung, Jawa Barat
Penggunaan pacar AI di platform seperti Character.AI makin populer, tetapi pakar memperingatkan risikonya.
Cinta bukan hanya soal perasaan, tapi juga ilmiah. Pelajari efek hormon ini saat jatuh cinta dan patah hati.
TREN warna personal (personal color) semakin populer di kalangan gen Z sebagai cara mengekspresikan gaya. Kini preferensi warna tersebut juga bisa diterapkan pada gadget (gawai).
Meski waktu ideal bermain gawai untuk kebutuhan hiburan maksimal dua jam per hari, kenyataannya banyak anak dan remaja tetap mencari celah untuk melanggarnya.
Hands-on play melatih kemampuan memecahkan masalah, mengasah fokus, dan memicu imajinasi, hal-hal yang sering terabaikan saat melakukan screen time berlebihan.
Lingkungan yang mendukung untuk interaksi hangat yang dimaksud ialah saat interaksi berlangsung, orangtua tidak memberikan tekanan bahwa anak harus bercerita tentang kehidupannya.
Jika sebelumnya seorang kreator membutuhkan perangkat kamera profesional, kini seluruh kebutuhan dokumentasi dapat dilakukan hanya melalui ponsel.
ANGGOTA Komisi E DPRD DKI Jakarta Abdul Aziz menilai penggunaan gawai (gadget) tak baik jika dijadikan alat utama pembalajaran untuk anak sekolah di jenjang SD, SMP maupun SMA.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved