Headline
Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.
Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.
Kumpulan Berita DPR RI
FENOMENA "titik panas" (hot spot) di samudera dalam kini menjadi ancaman baru bagi populasi pesisir dunia. Riset terbaru mengungkapkan panas yang tersimpan jauh di bawah permukaan laut memicu munculnya badai dan topan yang jauh lebih kuat dan berbahaya, melampaui batas klasifikasi tertinggi yang ada saat ini.
Dalam pertemuan tahunan American Geophysical Union (AGU) 2025 di New Orleans, para peneliti menyoroti perluasan wilayah air hangat ini, terutama di Pasifik Barat dekat Filipina dan Atlantik Utara di sekitar Karibia. Hal ini menyebabkan siklon tropis yang kekuatannya melebihi Kategori 5 muncul lebih sering, dengan lebih dari separuh kejadiannya tercatat hanya dalam satu dekade terakhir.
"Wilayah titik panas ini telah meluas," ujar I-I Lin, profesor di Departemen Ilmu Atmosfer National Taiwan University.
Berdasarkan skala Saffir-Simpson yang digunakan saat ini, badai apa pun dengan kecepatan angin di atas 137 knot dikelompokkan dalam Kategori 5. Namun, Lin berpendapat pengelompokan ini tidak lagi memadai untuk menggambarkan kekuatan badai monster yang kian ekstrem.
Ia mengusulkan klasifikasi "Kategori 6" untuk siklon tropis dengan kecepatan angin melebihi 160 knot. Sebagai perbandingan, Kategori 4 mencakup angin antara 114-137 knot. Penambahan kategori baru ini dinilai lebih konsisten dengan rentang klasifikasi yang ada dan penting untuk meningkatkan kesadaran publik serta perencanaan bencana.
Beberapa badai dahsyat yang memenuhi kriteria Kategori 6 ini antara lain Topan Haiyan yang meluluhlantakkan Filipina pada 2013, Topan Hagibis di Tokyo (2019), dan Badai Wilma (2005). Bahkan, Badai Patricia yang tercatat memiliki kecepatan angin 185 knot bisa dikategorikan sebagai "Kategori 7" jika skala tersebut ada.
Kunci dari kekuatan badai ekstrem ini bukan hanya air permukaan yang hangat, tetapi lapisan panas yang menembus jauh ke bawah permukaan laut. Pada kondisi normal, badai besar akan mengaduk air dan mengangkat air dingin dari kedalaman yang dapat memperlemah badai tersebut. Namun, di wilayah hot spot, air hangat tersedia sangat dalam sehingga suhu laut tidak mudah mendingin, yang justru terus menyuplai energi bagi badai.
Riset ini menunjukkan bahwa perubahan iklim akibat ulah manusia bertanggung jawab atas sekitar 60-70% perluasan titik panas ini. Meskipun kondisi atmosfer yang tepat juga diperlukan, keberadaan titik panas laut dalam adalah syarat mutlak bagi terbentuknya badai raksasa.
"Kami benar-benar berpikir ada kebutuhan untuk memberikan informasi yang lebih penting kepada masyarakat," tegas Lin. Pengakuan resmi terhadap Kategori 6 diharapkan dapat membantu pemerintah dan komunitas di seluruh dunia untuk lebih siap menghadapi dampak destruktif dari sistem cuaca ekstrem yang semakin sering terjadi ini. (Science Daily/Z-2)
Peneliti terkejut menemukan Gletser Hektoria di Antartika kehilangan separuh wilayahnya dalam waktu singkat. Simak penyebab "gempa gletser" dan ancaman kenaikan permukaan laut.
Peneliti Cornell University merilis peta global yang mengungkap 70% emisi lahan pertanian berasal dari sawah padi dan pengeringan lahan gambut.
Peneliti menemukan penurunan kadar garam di Samudra Hindia bagian selatan. Fenomena ini mengancam sistem sirkulasi laut global dan iklim dunia.
Peneliti mengungkap hutan Arktik hancur hanya dalam 300 tahun pada masa pemanasan global purba. Temuan ini jadi peringatan bagi krisis iklim modern.
Studi cincin pohon pinus di Spanyol mengungkap anomali cuaca paling ekstrem sejak 1500-an. Ketidakstabilan curah hujan kini mencapai titik kritis.
Analisis mendalam Avatar: Fire and Ash sebagai metafora krisis iklim. Menghubungkan 'Bangsa Abu' dengan data kebakaran hutan global 2025-2026.
Kehidupan masyarakat pesisir di Karimunjawa mengalami perubahan karena dampak dari perubahan iklim yang terus menerus.
PERWAKILAN Perempuan Nelayan Sumatra Utara, Jumiati, mengungkapkan perubahan iklim membuat cuaca sulit diprediksi. Itu berdampak pada banyaknya nelayan di kampungnya kesulitan melaut.
Studi terbaru mengungkap tanaman tropis mengalami pergeseran waktu berbunga hingga 80 hari. Fenomena ini mengancam rantai makanan dan kelangsungan hidup hewan.
Peneliti terkejut menemukan Gletser Hektoria di Antartika kehilangan separuh wilayahnya dalam waktu singkat. Simak penyebab "gempa gletser" dan ancaman kenaikan permukaan laut.
Peneliti ETH Zurich temukan emisi gas rumah kaca dari danau hitam Kongo berasal dari gambut purba ribuan tahun.
Peneliti menemukan pola kadar garam (salinitas) di Pasifik Barat saat musim semi dapat memperkuat intensitas El Niño hingga 20%.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved